alexametrics

Duh, Stunting yang Dialami Anak BIsa Hambat Bonus Demografi Indonesia

M. Reza Sulaiman
Duh, Stunting yang Dialami Anak BIsa Hambat Bonus Demografi Indonesia
Ilustrasi tinggi badan anak, tubuh pendek atau stunting. ( Shutterstock)

Manfaat yang muncul dengan adanya bonus demografi di Indonesia bisa berubah menjadi malapetaka jika masalah stunting tidak segera diatasi.

Suara.com - Manfaat yang muncul dengan adanya bonus demografi di Indonesia bisa berubah menjadi malapetaka jika masalah stunting tidak segera diatasi.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, yang menegaskan stunting alias anak lahir kerdil dapat menghambat berjalannya bonus demografi penduduk yang akan dimiliki oleh Indonesia.

“Stunting adalah satu penghambat untuk kita bisa memetik bonus demografi atau sebagai suatu penghambat untuk kita bisa mentransformasikan bonus demografi menjadi bonus kesejahteraan,” kata Hasto dalam Rakor BKKBN dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) RI beberapa waktu lalu.

Hasto mengatakan, pihak yang dapat menentukan apakah suatu negara mampu atau tidaknya memetik bonus demografi tersebut adalah anak-anak dan remaja.

Infogradis Stunting (P2PTM Kemenkes RI)
Infografis Stunting (P2PTM Kemenkes RI)

Ia menyebutkan apabila anak-anak tersebut lebih memilih untuk melakukan perkawinan dini, kesempatan tersebut dapat lebih cepat menghilang karena akan berakibat pada anak putus sekolah yang menyebabkan anak menganggur dan berpendidikan rendah.

Melalui pendidikan rendah itulah kemudian akan diikuti dengan kasus kehamilan ibu melahirkan bayi stunting serta meningkatkan angka kematian ibu dan bayi.

Baca Juga: Berantas Stunting, Ini Upaya yang Sudah Dilakukan Menteri PPPA

Ia menjelaskan bila terus membiarkan hal itu terjadi, maka akan berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia pada masa depan bangsa, karena stunting dapat menyebabkan pertumbuhan pada fisik dan pemikiran anak tidak optimal serta mudah terkena penyakit.

“Tetapi ingat, ternyata kesempatan ini tidak akan berlangsung lama. Hanya akan sampai kurang lebih tahun 2035 sehingga setelah itu, akan ada beban baru yaitu adanya aging population (penuaan penduduk). Itulah maka bonus demografi harus bisa dimanfaatkan sebaik baiknya,” kata dia.

Perubahan fokus pada program BKKBN yang sebelumnya berfokus pada kuantitas penduduk dalam mengendalikan total fertility rate (total angka kematian) menjadi kualitas penduduk, membuat piramida kependudukan di Indonesia memiliki jumlah generasi muda seperti balita lebih sedikit dibandingkan dengan penduduk usia produktif.

Hasto mengatakan, banyaknya jumlah penduduk usia produktif yang dimiliki saat ini perlu dimanfaatkan sebaik-baiknua sebagai celah (window opportunity) sehingga negara bisa menyambut Indonesia emas di tahun 2045.

“Dari situlah kita memetik bonus demografi karena dependency ratio sangat strategis. Setiap 100 orang yang produktif itu hanya akan menanggung di bawah 50. Inilah yang kemudian dikatakan sebagai window opportunity dan ini kesempatan baik untuk menyambut Indonesia emas di tahun 2045,” ucap Hasto.

Ia berharap seluruh pihak bekerja sama dan memahami betul bahwa stunting dapat menjadi penghambat generasi masa depan. Oleh karena itu, dia meminta kepada para kepala dinas untuk ikut memberikan pemahaman terkait stunting kepada masyarakat.

Baca Juga: Edukasi Kesehatan Reproduksi Penting untuk Cegah Perkawinan Anak

“Saya berharap betul pengertian stunting ini masyarakat banyak yang belum tahu. Tapi saya berharap kepala-kepala dinas sebagai bagian dari pemangku kepentingan juga harus paham lebih dulu. Kemudian kita harus menggerakkan pemangku kepentingan termasuk masyarakat,” ujar dia. [ANTARA]

Komentar