WHO: Nyaris 2 Juta Orang Meninggal Akibat Pekerjaan Setiap Tahunnya

Bimo Aria Fundrika | Lilis Varwati | Suara.com

Minggu, 19 September 2021 | 18:15 WIB
WHO: Nyaris 2 Juta Orang Meninggal Akibat Pekerjaan Setiap Tahunnya
Ilustrasi stres kerja (pexels/Karolina Grabowska).

Suara.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mencatat, Hampir dua juta kematian diperkirakan berkaitan dengan pekerjaan.

Menurut Estimasi Bersama WHO/ILO dari Beban Penyakit dan Cedera terkait Pekerjaan, 2000-2016: Laporan Pemantauan Global, sebagian besar kematian terkait pekerjaan disebabkan oleh penyakit pernapasan dan kardiovaskular.

Penyakit tidak menular menyumbang 81 persen dari kematian. Penyebab kematian terbesar adalah penyakit paru obstruktif kronik (450.000 kematian), stroke (400.000 kematian), dan penyakit jantung iskemik (350.000 kematian). Sedangkan cedera kerja menyebabkan 19 persen kematian (360.000 kematian).

Ada 19 faktor risiko pekerjaan yang diperhatikan oleh para peneliti. Beberapa di antaranya seperti paparan jam kerja yang panjang dan paparan tempat kerja terhadap polusi udara, asmagen, karsinogen, faktor risiko ergonomis, dan kebisingan. 

Ilustrasi stres bekerja (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Ilustrasi stres bekerja (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Risiko utama kematian diperkirakan adalah paparan jam kerja yang panjang, yakni sebanyak 750.000 kematian. Paparan polusi udara, seperti partikel, gas, dan asap, di tempat kerja menyebabkan 450.000 kematian.

“Sungguh mengejutkan melihat begitu banyak orang benar-benar terbunuh oleh pekerjaan mereka,” kata Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO, dikutip dari situs resmi WHO.

Baik WHO juga ILO memperingatkan bahwa penyakit dan cedera yang berhubungan dengan pekerjaan berisiko bebani sistem kesehatan, mengurangi produktivitas dan berdampak bencana pada pendapatan rumah tangga.

Secara global, kematian terkait pekerjaan per populasi baru turun 14 persen selama rentang tahun 2000 hingga 2016. Meski begitu, penurunan tersebut dianggap adanya juga peningkatan kesehatan dan keselamatan di tempat kerja.

Namun, kematian akibat penyakit jantung dan stroke yang terkait dengan paparan jam kerja yang panjang masing-masing naik 41 dan 19 persen. Kondisi itu mencerminkan tren yang meningkat dalam faktor risiko pekerjaan yang relatif baru dan psikososial.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa lebih banyak tindakan diperlukan untuk memastikan tempat kerja yang lebih sehat, aman, lebih tangguh, dan lebih adil secara sosial.

Setiap faktor risiko memiliki serangkaian tindakan pencegahan yang telah diuraikan dalam penelitian. Misalnya, pencegahan paparan jam kerja yang panjang memerlukan kesepakatan tentang batas maksimum waktu kerja yang sehat. 

Untuk mengurangi paparan polusi udara di tempat kerja, dianjurkan untuk mengontrol debu, ventilasi, dan alat pelindung diri.

“Perkiraan ini memberikan informasi penting tentang beban penyakit terkait pekerjaan, dan informasi ini dapat membantu membentuk kebijakan dan praktik untuk menciptakan tempat kerja yang lebih sehat dan lebih aman,” kata Guy Ryder, Direktur Jenderal ILO.

 “Pemerintah, pengusaha, dan pekerja semuanya dapat mengambil tindakan untuk mengurangi paparan faktor risiko di tempat kerja. Faktor risiko juga dapat dikurangi atau dihilangkan melalui perubahan pola dan sistem kerja. Sebagai upaya terakhir, alat pelindung diri juga dapat membantu melindungi pekerja yang pekerjaannya berarti mereka tidak dapat menghindari paparan," imbuhnya.

Dr. Maria Neira, Direktur Departemen Lingkungan, Perubahan Iklim dan Kesehatan WHO juga menekankan, hampir 2 juta kematian dini itu dapat dicegah. Tindakan perlu diambil berdasarkan penelitian yang tersedia untuk menargetkan sifat ancaman kesehatan terkait pekerjaan yang terus berkembang

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Suami Sedih Istrinya Selalu Marah saat Dibantu Beberes, Fakta di Baliknya Bikin Geregetan

Suami Sedih Istrinya Selalu Marah saat Dibantu Beberes, Fakta di Baliknya Bikin Geregetan

News | Jum'at, 17 September 2021 | 14:06 WIB

Cara Membuat Surat Lamaran Kerja CPNS 2021 Terbaru 2021

Cara Membuat Surat Lamaran Kerja CPNS 2021 Terbaru 2021

Kalbar | Jum'at, 17 September 2021 | 11:10 WIB

Burnout Akibat Pekerjaan Sering Terjadi, Inilah Kunci untuk Mengatasinya!

Burnout Akibat Pekerjaan Sering Terjadi, Inilah Kunci untuk Mengatasinya!

Health | Kamis, 16 September 2021 | 17:52 WIB

Terkini

Dokter Penyakit Dalam Ingatkan Wabah Seperti Hantavirus Rentan pada Diabetes: Makanannya Gula!

Dokter Penyakit Dalam Ingatkan Wabah Seperti Hantavirus Rentan pada Diabetes: Makanannya Gula!

Health | Minggu, 10 Mei 2026 | 13:31 WIB

Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman

Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman

Health | Sabtu, 09 Mei 2026 | 14:56 WIB

Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?

Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 22:05 WIB

Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?

Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 15:29 WIB

Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial

Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 15:22 WIB

Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?

Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 11:49 WIB

Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak

Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 08:17 WIB

Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa

Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 08:01 WIB

Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak

Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak

Health | Kamis, 07 Mei 2026 | 14:30 WIB

Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?

Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?

Health | Kamis, 07 Mei 2026 | 13:24 WIB