Long Covid pada Anak-Anak: Peneliti Belum Bisa Tentukan Berapa Lama Kondisi Berlangsung

Rabu, 22 September 2021 | 19:02 WIB
Long Covid pada Anak-Anak: Peneliti Belum Bisa Tentukan Berapa Lama Kondisi Berlangsung
Ilustrasi anak alami long Covid-19 (Shutterstock)

Suara.com - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengatakan kebanyakan orang yang terinfeksi Covid-19 gejalanya akan hilang dalam beberapa minggu setelah pulih.

Namun, beberapa orang mengalami masalah kesehatan yang berkelanjutan atau umum disebut Long Covid, seperti kelelahan, kardiorespirasi, dan gejala neurologis.

CDC menjelaskan Long Covid kurang umum pada anak-anak dan remaja, dibandingkan orang dewasa. Tetapi faktanya, masih ada beberapa yang melaporkan anak-anak juga menderita kondisi ini.

Seperti yang dilaporkan dalam tinjauan Murdoch Children's Research Institute (MCRI), Australia, yang baru-baru ini muncul di Pediatric Infectious Disease Journal.

Tinjauan ini mencakup 14 studi yang melibatkan 19.426 anak dan remaja. Mereka melaporkan mengalami gejala Long Covid pada 4 hingga 12 minggu setelah terinfeksi, seperti sakit kepala, kelelahan, gangguan tidur, sulit konsentrasi, hingga sakit perut.

Ilustrasi anak sakit. (Shutterstock)
Ilustrasi anak sakit. (Shutterstock)

Tetapi, Medical News Today melaporkan bahwa hampir semua studi yang ada memiliki keterbatasan. Membuat peninjau menekankan perlunya studi baru untuk melihat risiko Long Covid pada anak-anak dan remaja.

"Oleh karena itu, kita perlu menentukan secara akurat risiko long Covid pada kelompok usia ini, Seringkali, hanya satu penelitian yang dikutip untuk prevalensi gejala menetap. Kami ingin meringkasnya untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik," jelas salah satu peninjau Dr. Petra Zimmermann, dosen senior di Universitas Friborg, Swiss.

Selain itu, ada juga halangan dalam melakukan penelitian.

Peninjau menyatakan tidak ada definisi yang jelas tentang berapa lama Long Covid terjadi. Para peneliti juga belum menyepakati berapa lama biasanya fenomena ini berlangsung.

Baca Juga: Studi: Orang Usia 50-59 Tahun Berisiko Tinggi Alami Long Covid-19

"Ini adalah virus baru, jadi lebih sulit untuk dipelajari. Dibanding dengan (virus) yang sudah dikenal dokter dan peneliti," sambungnya.

Ia melanjutkan, "Setiap hari kami mempelajari hal-hal baru dan harus menyesuaikan manajemen klinis dengan penelitian kami."

Selain itu, umumnya peneliti yang melakukan studi akan mengandalkan laporan peserta daripada melakukan tes atau pemeriksaan fisik. Hal ini menyebabkan bias.

"Kemungkinan orang dengan gejala menetap lebih mungkin merespon daripada peserta yang merasa sehat, yang dapat menyebabkan bias seleksi dan melebih-lebihkan tingkat gejala persisten," tandas Dr. Zimmermann.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI