alexametrics

Mengenal Koktail Antibodi, yang Disarankan WHO untuk Pasien Covid-19 Berisiko Tinggi

Vania Rossa
Mengenal Koktail Antibodi, yang Disarankan WHO untuk Pasien Covid-19 Berisiko Tinggi
Ilustrasi Covid-19. (Pixabay/geralt)

Terapi koktail antibodi mulai menarik perhatian ketika digunakan untuk mengobati mantan Presiden Donald Trump yang terinfeksi COVID-19 tahun lalu.

Suara.com - Pasien Covid-19 yang berisiko tinggi mendapat perawatan di rumah sakit dan mereka yang sakit parah namun tak memiliki antibodi alami, disarankan oleh WHO untuk menggunakan koktail antibodi Covid-19 buatan Regeneron dan Roche.

Dilansir dari Reuters, koktail antibodi merupakan campuran cairan yang memiliki dua sumber antibodi. Perawatan dengan koktail antibodi itu telah mendapat izin untuk penggunaan darurat.

Dikutip dari Antara, terapi ini mulai menarik perhatian ketika digunakan untuk mengobati mantan Presiden Donald Trump yang terinfeksi COVID-19 tahun lalu.

Saat ini, Eropa sedang meninjau terapi tersebut, sementara Inggris telah menyetujuinya bulan lalu.

Baca Juga: Update 24 September: Ratusan Pasien Covid-19 Masih Dirawat di RSD Wisma Atlet Kemayoran

Dalam pernyataan terpisah, WHO meminta Regeneron untuk menurunkan harga koktail antibodi dan mendistribusikannya secara adil di seluruh dunia, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

WHO juga mendesak kedua perusahaan untuk mentransfer teknologi pembuatan obat biosimilar (obat biologis yang dibuat mirip dengan obat aslinya)

Terapi yang dikenal sebagai Ronapreve itu (REGEN-COV di AS) menghasilkan pendapatan yang besar bagi Regeneron.

Regeneron mencatat penjualan REGEN-COV senilai 2,59 miliar dolar AS (Rp36,9 triliun) pada kuartal kedua.

Regeneron akan memasok 1,4 juta dosis tambahan REGEN-COV kepada pemerintah AS pada 31 Januari dengan harga 2.100 dolar AS (Rp 29,9 juta) per dosis.

Baca Juga: Disindir WHO dan PBB, AS Janji Berikan 500 Juta Dosis Vaksin COVID-19 ke Negara Lain

Organisasi kemanusiaan medis internasional Medecins Sans Frontieres (MSF) menuntut kepastian akses yang terjangkau dan berkelanjutan ke obat-obatan yang menyelamatkan jiwa selama pandemi.

Komentar