alexametrics

Ilmuwan Ungkap Kemunculan Varian Virus Corona R.1 Terdeteksi Pertama Kali di Jepang

Cesar Uji Tawakal | Rosiana Chozanah
Ilmuwan Ungkap Kemunculan Varian Virus Corona R.1 Terdeteksi Pertama Kali di Jepang
Ilustrasi Virus Corona [Foto: Antara]

Apakah varian ini lebih berbahaya dari strain Delta?

Suara.com - Para peneliti telah mengidentifikasi strain virus corona lain yang telah menyebabkan sebagian kecil kasus Covid-19 secara global. Varian tersebut diberi nama R.1.

Sebenarnya, varian R.1 bukan hal baru. Mutasi virus corona ini pertama kali terdeteksi di Jepang tahun lalu dan sejak saat itu menyebar ke negara lain.

Di Amerika Serikat, varian R.1 masuk pada awal April 2021 dan menyebabkan kluster di Kentucky.

Sarjana senior Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health's Center for Health Security, Amesh A. Adalja, mengatakan varian R.1 merupakan SARS-CoV-2 yang mengalami mutasi terkait perubahan fungsi. Maksudnya, varian ini menyebabkan gejala yang berbeda dari versi virus aslinya.

Baca Juga: Gemparkan China, Muncul Virus Flu Burung Varian Baru, Dua Orang Tertular

Menurut Dr. Adalja, kemungkinan varian R.1 akan menjadi mutasi paling parah atau paling menular kecil dibandingkan varian Delta.

Penampakan SARS-CoV-2 di saluran pernapasan (New England Journal of Medicine)
Penampakan SARS-CoV-2 di saluran pernapasan (New England Journal of Medicine)

"Aku tidak menduga varian itu akan menjadi masalah besar karena tidak memiliki kemampuan untuk menggantikan Delta. Sangat sulit bagi jenis mutasi ini untuk menyebabkan kasus di negara yang terdapat kasus varian Delta," tuturnya, dilansir Health.

Varian R.1 mengalami mutasi seperti yang terjadi pada varian B dan G. Kemungkinan, menurut Dr. Adalja, dapat menyebabkan infeksi terobosan lebih umum.

Tetapi yang harus diwaspadai ketika sebuah mutasi virus muncul adalah kemampuannya dalam menular ke orang lain atau transmisibilitasnya.

Dr. Adalja menekankan mungkin varian R.1 tidak akan menggantikan varian Delta.

Baca Juga: Sempat Diserbu Covid-19 Varian Delta, 114 Desa di Kabupaten Kudus Berada di Zona Hijau

Asisten profesor peneliti penyakit menular di Fakultas Kedokteran Universitas Feinberg Northwestern, Ramon Lorenzo Redondo, mengatakan varian R.1 hanya menyumbang 0,5 persen kasus Covid-19 di seluruh dunia.

"Versi virus ini tidak pernah menyumbang lebih dari satu persen kasus di seluruh dunia, bahkan pada puncaknya," ujar Redondo.

Agar terhindari dari varian R.1, praktik keamanan seperti biasanya harus tetap dilakukan. Selain itu, vaksinasi Covid-19 lengkap merupakan cara terbaik untuk melindungi diri.

"Satu-satunya cara untuk menghentikan varian baru adalah dengan menghentikan jumlah infeksi. Jika Anda mendorong populasi (yang terinfeksi) ke jumlah yang sangat rendah dan keragamannya terbatas, virus tidak dapat berkembang sebanyak itu," tandas Redondo.

Komentar