Virus Corona Memengaruhi Otak, Inilah Alasan Penyintas Covid-19 Jadi Lebih Lambat Berpikir

Cesar Uji Tawakal | Rosiana Chozanah | Suara.com

Sabtu, 25 September 2021 | 09:17 WIB
Virus Corona Memengaruhi Otak, Inilah Alasan Penyintas Covid-19 Jadi Lebih Lambat Berpikir
Ilustrasi pasien Covid-19. [Istimewa]

Suara.com - Hingga kini peneliti terus mengumpulkan pengetahuan penting tentang efek Covid-19 pada tubuh dan otak. Temuan-temuan yang ada meningkatkan kekhawatiran dampak jangka panjang yang mungkin ditimbulkan virus corona.

Pada Agustus 2021 lalu, sebuah studi pendahuluan berskala besar yang menyelidiki perubahan otak penyintas Covid-19 menemukan perbedaan mencolok dalam materi abu-abu.

Berdasarkan Live Science, area materi abu-abu terdiri dari badan sel neuron yang memproses informasi di otak.

Peneliti menemukan ketebalan jaringan materi abu-abu di bagian lobus frontal dan temporal berkurang pada penyintas Covid-19, berbeda dari pola khas pada kelompok yang tidak pernah terinfeksi.

Umumnya, memang normal mengalami perubahan volume atau ketebalan materi abu-abu dari waktu ke waktu seiring bertambahnya usia. Tetapi pada penyintas Covid-19, perubahannya lebih besar.

Ilustrasi pasien Covid-19. [Istimewa]
Ilustrasi pasien Covid-19. [Istimewa]

Bahkan, tidak ada perbedaan antara penyintas Covid-19 parah dengan yang ringan. Artinya, mau parah atau tidak, materi abu-abu pada otak tetap terpengaruh.

Selain itu, peneliti menyelidiki perubahan kinerja pada penyintas Covid-19. Mereka menemukan kelompok ini menjadi lebih lambat dalam memproses informasi.

Selain itu, SARS-CoV-2 juga memengaruhi bagian otak olfactory bulb, sebuah struktur di dekat bagian depan otak yang meneruskan sinyal tentang bau dari hidung ke daerah otak lainnya. Inilah alasan penderita Covid-19 kehilangan indera perasa dan penciuman.

Olfactory bulb terhubung dengan daerah lobus temporal, daerah di mana hipoccampus berada. Ini adalah bagian otak yang kemungkinan memainkan peran kunci dalam penuaan, mengingat fungsinya adalah mengolah memori dan proses kognitif.

Meskipun terlalu dini untuk menarik kesimpulan tentang dampak jangka panjang ini, menyelidiki kemungkinan hubungan antara perubahan otak terkait Covid-19 dan memori sangat menarik. Terutama mengingat daerah yang terlibat dan pentingnya bagian tersebut dalam memori dan penyakit Alzheimer.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terapi Koktail Antibodi Bantu Pasien COVID-19 Risiko Tinggi Terhindar dari Kematian

Terapi Koktail Antibodi Bantu Pasien COVID-19 Risiko Tinggi Terhindar dari Kematian

Health | Sabtu, 25 September 2021 | 07:50 WIB

Terungkap! Peneliti China Sebut COVID-19 Sudah Menyebar di AS Sejak September 2019

Terungkap! Peneliti China Sebut COVID-19 Sudah Menyebar di AS Sejak September 2019

Health | Sabtu, 25 September 2021 | 06:55 WIB

Setelah 19 Laga Beruntun, Robert Lewandowski Akhirnya Berhenti Cetak Gol

Setelah 19 Laga Beruntun, Robert Lewandowski Akhirnya Berhenti Cetak Gol

Bola | Sabtu, 25 September 2021 | 07:00 WIB

Terkini

Jangan Lewat 4,5 Jam! Dokter Ungkap Golden Period Penanganan Stroke yang Bisa Selamatkan Otak

Jangan Lewat 4,5 Jam! Dokter Ungkap Golden Period Penanganan Stroke yang Bisa Selamatkan Otak

Health | Kamis, 23 April 2026 | 18:14 WIB

Bukan Sekadar Datang Bulan, Ini Fakta Penting Menstruasi Remaja yang Sering Disalahpahami

Bukan Sekadar Datang Bulan, Ini Fakta Penting Menstruasi Remaja yang Sering Disalahpahami

Health | Kamis, 23 April 2026 | 16:09 WIB

Terbukti Bukan Asal Tren: Susu Flyon Direview dan Direkomendasikan Puluhan Dokter

Terbukti Bukan Asal Tren: Susu Flyon Direview dan Direkomendasikan Puluhan Dokter

Health | Rabu, 22 April 2026 | 09:00 WIB

Bukan Sekadar Main Kartu, Domino Kini Diakui sebagai Olahraga Pikiran

Bukan Sekadar Main Kartu, Domino Kini Diakui sebagai Olahraga Pikiran

Health | Rabu, 22 April 2026 | 09:00 WIB

DBD Menular atau Tidak Lewat Sentuhan? Simak Fakta-faktanya

DBD Menular atau Tidak Lewat Sentuhan? Simak Fakta-faktanya

Health | Rabu, 22 April 2026 | 06:40 WIB

AI Masuk Dunia Wellness: Kursi Pijat Canggih Ini Bisa Baca Stres dan Sesuaikan Relaksasi

AI Masuk Dunia Wellness: Kursi Pijat Canggih Ini Bisa Baca Stres dan Sesuaikan Relaksasi

Health | Selasa, 21 April 2026 | 19:44 WIB

Penelitian Baru: Salinitas Air Minum Berkontribusi pada Risiko Hipertensi

Penelitian Baru: Salinitas Air Minum Berkontribusi pada Risiko Hipertensi

Health | Selasa, 21 April 2026 | 18:31 WIB

Lawan PTM dari Rumah: Mengapa Kampanye Generasi Bersih Sehat Vital Bagi Masa Depan Kita?

Lawan PTM dari Rumah: Mengapa Kampanye Generasi Bersih Sehat Vital Bagi Masa Depan Kita?

Health | Senin, 20 April 2026 | 18:55 WIB

Mengakhiri Ketergantungan Rujukan, Standar Lab Internasional Kini Tersedia Langsung di Makassar

Mengakhiri Ketergantungan Rujukan, Standar Lab Internasional Kini Tersedia Langsung di Makassar

Health | Senin, 20 April 2026 | 09:32 WIB

Neuropati Perifer pada Diabetes Banyak Tak Terdeteksi, Pedoman Baru Dorong Peran Aktif Apoteker

Neuropati Perifer pada Diabetes Banyak Tak Terdeteksi, Pedoman Baru Dorong Peran Aktif Apoteker

Health | Senin, 20 April 2026 | 09:10 WIB