Epidemiolog Jelaskan Penyebab Terus Bermunculan Varian Baru Virus Corona

Vania Rossa | Lilis Varwati | Suara.com

Kamis, 04 November 2021 | 19:28 WIB
Epidemiolog Jelaskan Penyebab Terus Bermunculan Varian Baru Virus Corona
Ilustrasi Virus Corona. (Pixabay)

Suara.com - Sejak awal kemunculan Covid-19 di Wuhan, China, pada Desember 2019 sampai saat ini telah muncul banyak varian baru virus corona yang juga menyebar ke berbagai negara. Bahkan dari varian tersebut, virus bisa kembali bermutasi sehingga memunculkan varian baru lagi.

Siklus tersebut sebenarnya normal terjadi pada virus. Kepala Bidang pengembangan profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane menjelaskan bahwa dalam proses mutasi virus perubahan terjadi pada jenis protein dalam tubuhnya. Tindakan itu dilakukan sebagai proses adaptasi.

"Sebenarnya komponen utama virus itu adalah protein. Dan mutasi merupakan proses adaptasi ketika dia ke dalam tubuh masuk pada lingkungan yang baru. Proses adaptasi itu yang kemudian membuat varian berubah dan masing-masing ras memiliki karakteristik sendiri-sendiri," jelas Masdalina dalam webinar Satgas Covid-19, Kamis (4/11/2021).

Ia mencontohkan, seperti varian Delta yang berasal dari India, meski virus tersebut telah menyebar ke berbagai negara, akan tetap beradaptasi lagi dengan lingkungan barunya.

Seperti halnya manusia, virus akan terus beradaptasi setiap kali berada di lingkungan baru, hingga sampai pada kestabilan.

"Satu titik virus tersebut akan mencapai kestabilan atau kemudian dia bermutasi lagi. Indonesia sendiri sudah ada varian lokal. Kalau kita lihat varian yang ada di Indonesia dari empat, tiga sudah hilang atau mungkin dia bermutasi kembali. Jadi mutasi itu sebetulnya proses adaptasi dan biasanya makin kesini dia semakin melemah," ucapnya.

Menurut Masdalina, kewaspadaan sebaiknya lebih ditingkatkan saat varian pertama dari virus yang menyebar. Sebab pada saat itu yang biasanya menyebabkan lonjakan kasus. Seperti yang terjadi pada paparan virus corona Delta pertama kali.

"Kalau kita lihat Delta di banyak negara, 8 sampai 14 minggu dia akan turun sendiri, tentunya dengan intervensi yang dilakukan juga oleh pemerintah masing-masing negara. Tapi rata-rata tidak berlangsung lama, dia memang tidak sepenuhnya hilang tapi mungkin saja melemah kemudian bisa beradaptasi, berubah lagi bentuk lain," jelasnya.

Poin terpenting dari mutasi tersebut, kata Masdalina, varian baru virus tidak menyebabkan lonjakan kematian atau kesakitan yang lebih parah. Sebab bagaimana pun, sebelum ada Covid-19, sebenarnya manusia selalu hidup berdampingan dengan virus.

"Kalau hidup bersama virus, kita sebetulnya sudah biasa karena mereka bagian dari mikroorganisme yang juga hidup bersama manusia. Yang penting kita taat saja terhadap protokol kesehatan. Memang ada beberapa varian yang bisa menyebar dengan cepat, tapi prokes yang dilakukan juga harus terus ditingkatkan," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Varian Baru Covid-19 Bikin Masalah, Pakar Soroti Pentingnya Whole Genome Sequencing

Varian Baru Covid-19 Bikin Masalah, Pakar Soroti Pentingnya Whole Genome Sequencing

Health | Kamis, 04 November 2021 | 18:35 WIB

Peneliti Sebut Virus Corona Covid-19 Bisa Menginfeksi Telinga Bagian Dalam

Peneliti Sebut Virus Corona Covid-19 Bisa Menginfeksi Telinga Bagian Dalam

Health | Kamis, 04 November 2021 | 18:04 WIB

Vaksinasi Covid-19 Belum Sampai 70 Persen, Kemenkes: Belum Cukup Untuk Tahan Varian Baru

Vaksinasi Covid-19 Belum Sampai 70 Persen, Kemenkes: Belum Cukup Untuk Tahan Varian Baru

Health | Kamis, 04 November 2021 | 18:30 WIB

Terkini

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB