alexametrics

Terkendala Masalah Transportasi, Pasien TBC-RO Bisa Gagal Selesaikan Pengobatan

M. Reza Sulaiman
Terkendala Masalah Transportasi, Pasien TBC-RO Bisa Gagal Selesaikan Pengobatan
Ilustrasi pengobatan tuberkulosis. (Shutterstock)

Gagalnya pengobatan TBC-RO oleh pasien tidak hanya dikarenakan kurangnya informasi. Masalah transportasi hingga keuangan juga bisa menyebabkan pasien TBC-RO gagal berobat.

Suara.com - Pengobatan tuberkulosis (TBC) yang butuh waktu berbulan-bulan menjadi salah satu hambatan penanganan kasus TBC di Indonesia. Jauhnya jarak yang harus ditempuh untuk berobat ditambah biaya transportasi yang mahal bisa membuat pasien enggan melanjutkan pengobatan.

Hambatan ini sangat dirasakan terutama oleh masyarakat miskin, yang tak jarang kehilangan pekerjaan karena harus mengobati penyakitnya.

Inilah yang dialami oleh pria berinisial J asal Pademangan, Jakarta Utara. J yang didiagnosis mengalami TBC-RO alias tuberkulosis resistan obat, perlu rutin pergi ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso agar penyakitnya tidak semakin parah.

Ia yang sebelumnya bekerja sebagai pemulung, harus mengobati penyakit TBC-RO agar tidak menulari anak-anak dan orangtua yang tinggal bersamanya.

Baca Juga: Kualitas Pengobatan Penyakit TB Dunia Menurun Selama Pandemi Covid-19, Kenapa?

Bantuan sepeda untuk pasien TBC-RO dari PETA. (Dok. Maria/PETA)
Bantuan sepeda untuk pasien TBC-RO dari PETA. (Dok. Maria/PETA)

Jarak antara RSPI Sulianti Saroso dan rumahnya yang cukup membuat J kesulitan dalam hal transportasi. Tak cuma jauh, pengobatan J pun sempat mengalami tantangan dalam hal pembiyaan.

Inilah yang membuat Pejuang Tangguh TBC-RO Jakarta memberikan pendampingan pengobatan pada J. PETA yang merupakan organisasi pasien penyintas TBC-RO di DKI Jakarta, memiliki visi agar seluruh pasien yang didampingi bisa menyelesaikan pengobatan hingga tuntas, dan memutus mata rantai penularan TBC-RO di DKI Jakarta.

Pada awal masa pengobatan, J diantar jemput oleh Desi, salah satu pendamping pasien dari PETA, dari rumah ke RSPI Sulianti Saroso untuk minum obat. Melihat semangat J yang luar biasa untuk sembuh, PETA mengadakan penggalangan dana untuk memudahkan J dalam mengakses layanan dan pengobatan TBC RO ke RSPI Sulianti Saroso.

Dari hasil penggalangan dana tersebut terkumpul donasi sebesar Rp 1.500.000 untuk dibelikan sepeda dan paket sembako untuk J. Saat ini J sudah rutin menjalani pengobatan TBC-RO selama 1 bulan.

“Alhamdulilah saya mendapatkan sepeda dari Hamba Allah melalui bantuan teman-teman PETA sehingga dapat membantu saya untuk bisa rutin pengobatan di rumah sakit,” ujar J yang kini mulai kembali bisa mencari nafkah, dalam keterangan yang diterima Suara.com.

Baca Juga: Stunting dan TBC Bukan Penyakit Orang Miskin, Siapa Saja Bisa Kena Loh!

Indonesia menduduki peringkat ketiga untuk negara dengan beban Tuberkulosis (TBC) tertinggi di dunia (Laporan WHO TBC Global 2021) dengan estimasi kasus TBC sebesar 824.000 dan 93.000 kematian per tahunnya.

Komentar