3 Mitos Pengasuhan Bayi yang Masih Marak di Medsos, Ada yang Pernah Melakukan?

Vania Rossa | Lilis Varwati | Suara.com

Jum'at, 26 November 2021 | 16:19 WIB
3 Mitos Pengasuhan Bayi yang Masih Marak di Medsos, Ada yang Pernah Melakukan?
Ilustrasi anak memasukkan tangan ke mulut. [Shutterstock]

Suara.com - Mitos biasanya dipengaruhi dengan budaya maupun kepercayaan tertentu yang diwariskan turun temurun. Mitos yang berkembang juga bisa bermacam-macam, termasuk salah satunya terkait dengan cara pengasuhan bayi dalam dua tahun pertama kehidupannya.

Terutama bagi orangtua baru yang kerap mendapatkan 'wejangan' dari orangtua yang sudan berpengalaman. Namun, berbagai mitos juga bisa jadi salah kaprah dan justru berbahaya bagi keselamatan bayi, lho.

Dokter spesialis anak dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A., sekaligus founder platform Tentang Anak, mengatakan bahwa sedikitnya ada tiga mitos terkait pengasuhan anak yang sering kali beredar di media sosial.

1. Melarang anak pakai tangan kiri
Dokter Mesty menjelaskan, anak usia dua tahun ke bawah seharusnya jangan pernah dilarang untuk menggunakan kedua tangannya untuk melakukan apapun. Karena selama masa tersebut otak anak sedang berkembang sangat pesat.

"Dan dia butuh memiliki keseimbangan otaknya, jadi perlu distimulasi terus. Kalau kita menahan dia untuk menggunakan tangan kiri, mungkin otak kanan akan terhambat," kata dokter Mesty saat webinar Tentang Anak, Jumat (26/11/2021).

2. Penggunaan baby walker
Orangtua tentu ingin agar anaknya bisa cepat berjalan. Karenanya tak jarang anak sengaja diletakan di baby walker, terutama saat orangtua sibuk melakukan aktivitasnya.

Namun, penggunaan baby walker sebenarnya sudah tidak direkomendasikan, bahkan di seluruh dunia. Dokter Mesty menyampaikan, hal tersebut lantaran banyak bayi alami kecelakaan di rumah saat menggunakan baby walker

"Justru kecelakaan paling sering terjadi saat orangtua meleng. Selain bahaya juga menyebabkan fungsi kaki tidak natural, akhirnya kaki anak jinjit. Walaupun memang tidak semua anak mengalami itu," ujarnya.

3. Melarang anak memasukkan tangan ke mulut
Fase oral terjadi selama dua tahun pertama kehidupan anak. Oleh sebab itu, tindakan anak memasukan tangan ke mulut sebenarnya wajar.

Menurut dokter Mesty, saat itu anak juga sebenarnya sedang mencari kenyamanan dengan memasukan tangan ke mulut. Sehingga tidak perlu dilarang.

"Yang perlu diperhatikan, ketika anak sering memasukan tangan ke mulut, kita harus observasi, harus pahami apa sebetulnya kebutuhan anak yang tidak terpenuhi, dan apa yang membuat dia tidak nyaman. Jadi itu yang harus diketahui," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tak Bertulang, Penis Patah Mitos Atau Fakta

Tak Bertulang, Penis Patah Mitos Atau Fakta

Health | Rabu, 24 November 2021 | 21:10 WIB

4 Cara Kuno Mengatasi Berbagai Masalah Tubuh, Mitos atau Fakta?

4 Cara Kuno Mengatasi Berbagai Masalah Tubuh, Mitos atau Fakta?

Your Say | Selasa, 23 November 2021 | 15:27 WIB

5 Mitos Tentang Sarapan, Salah Satunya Percepat Penurunan Berat Badan

5 Mitos Tentang Sarapan, Salah Satunya Percepat Penurunan Berat Badan

Health | Selasa, 23 November 2021 | 11:19 WIB

Terkini

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 19:57 WIB

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 13:21 WIB

Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil

Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil

Health | Minggu, 29 Maret 2026 | 21:12 WIB

Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya

Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya

Health | Minggu, 29 Maret 2026 | 10:42 WIB

2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik

2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik

Health | Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:55 WIB