Sering Pura-Pura Bahagia Padahal Sedang Tertekan? Mungkin Kamu Mengalami Duck Syndrome

Vania Rossa | Lilis Varwati | Suara.com

Rabu, 19 Januari 2022 | 12:40 WIB
Sering Pura-Pura Bahagia Padahal Sedang Tertekan? Mungkin Kamu Mengalami Duck Syndrome
Ilustrasi duck syndrome. (Pixabay/Peggy and Marco Lachmann-Anke/aufahardy)

Suara.com - Kebanyakan orang mungkin tidak mau terlihat sedang sedih di depan kerabat juga keluarganya, sehingga cenderung memaksakan diri untuk pura-pura bahagia meski sebenarnya sedang tertekan. Namun, saat sudah sendirian, perasaan sedih kembali muncul bahkan hingga menangis tanpa disadari.

Kalau kamu pernah mengalami kondisi tersebut, terlihat bahagia di depan umum padahal sebenarnya sedang tertekan, bisa jadi itu gejala duck syndrome.

Istilah duck syndrome pertama kali muncul di Stanford University, Amerika Serikat. Digunakan untuk menggambarkan kondisi seseorang yang tampak tenang, walaupun sebenarnya mengalami gangguan kecemasan.

Secara spesifik, duck syndrome dianggap menimpa seseorang yang memiliki tekanan untuk terlihat sempurna. Kondisi ini dianalogikan seperti bebek yang sedang berenang. Sebab saat berenang, bagian atas tubuh bebek akan tampak tenang tetapi sebenarnya sedang mengayuh kakinya dengan cepat untuk bisa tetap di atas air.

Menurut Medicine Net, duck syndrome tidak secara resmi diakui sebagai penyakit mental. Tetapi lebih mengacu pada fenomena yang digunakan untuk mendeskripsikan pelajar atau individu yang beranjak dewasa.

Seseorang yang mengalami duck syndrome akan terlihat tenang dan baik-baik saja, namun sebenarnya sedang mengalami banyak tekanan dan kepanikan untuk mencapai tuntutan hidup. Misalnya, tuntutan akademik untuk mendapat nilai bagus, pendidikan tinggi, hidup mapan, dan sebagainya.

Penyebab Duck Syndrome

Dikutip dari Ruang Guru, duck syndrome bisa dialami oleh kelompok usia berapa pun. Namun, mereka yang masih usia muda lebih rentan mengalami duck syndrome. Penyebabnya karena mereka sedang merasakan berbagai pengalaman hidup baru untuk pertama kalinya.

Seperti, jauh dari orangtua, tuntutan akademis yang lebih berat, persaingan yang lebih ketat, dan sebagainya. Faktor risiko duck syndrome lainnya juga bisa terjadi akibat lingkungan keluarga yang terlalu protektif dan keluarga yang selalu menekankan pada prestasi.

Meskipun tidak secara resmi disebut sebagai gangguan psikologis, duck syndrome pada akhirnya bisa menyebabkan gangguan mental tertentu, seperti depresi, gangguan cemas, atau penyakit mental lainnya.

Ciri-Ciri Duck Syndrome

Diagnosis atau tanda dari duck syndrome sebetulnya tidak jelas dan mirip dengan gangguan psikologis seperti depresi atau gangguan kecemasan. Namun, ada beberapa gejala yang sering digambarkan dalam fenomena duck syndrome, seperti:

  • Selalu memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja dan bahagia, namun panik secara diam-diam.
  • Merasa gagal untuk memenuhi tuntutan berlebihan yang diberikan kepadanya.
  • Merasa orang lain bernasib lebih baik dari dirinya sendiri.
  • Membandingkan diri dengan orang lain.
  • Merasa diamati oleh orang lain
  • Susah tidur, pusing, dan sulit konsentrasi.

Cara Mengatasi Duck Syndrome

Untuk mengatasi duck syndrome, perlu ada diagnoss terlebih dahulu. Seseorang yang mengalami duck syndrome juga bisa diakibatkan dengan adanya gangguan psikologis lain, sehingga sebaiknya mecari diagnosis resmi dari psikolog.

Apabila tanda duck syndrome diabaikan atau disepelekan, gangguan itu bisa membuat penderitanya mengalami depresi berat hingga keinginan untuk bunuh diri.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

3 Akibat Buruk Jika Memiliki Rasa Bersalah Berlebihan, Jangan Diremehkan!

3 Akibat Buruk Jika Memiliki Rasa Bersalah Berlebihan, Jangan Diremehkan!

Your Say | Senin, 03 Januari 2022 | 17:04 WIB

6 Hal yang Tidak Boleh Kamu Tuntut dari Pasangan, Bisa Ganggu Kesehatan Mental!

6 Hal yang Tidak Boleh Kamu Tuntut dari Pasangan, Bisa Ganggu Kesehatan Mental!

Your Say | Kamis, 30 Desember 2021 | 07:34 WIB

7 Hal yang Tidak Perlu Kamu Lakukan untuk Pasangan, Jangan Bucin!

7 Hal yang Tidak Perlu Kamu Lakukan untuk Pasangan, Jangan Bucin!

Your Say | Rabu, 29 Desember 2021 | 08:37 WIB

Terkini

Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh

Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh

Health | Rabu, 15 April 2026 | 19:14 WIB

Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu

Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu

Health | Rabu, 15 April 2026 | 15:33 WIB

Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa

Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa

Health | Selasa, 14 April 2026 | 09:26 WIB

Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif

Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif

Health | Selasa, 14 April 2026 | 08:37 WIB

Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak

Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak

Health | Senin, 13 April 2026 | 06:15 WIB

Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat

Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat

Health | Minggu, 12 April 2026 | 22:48 WIB

Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan

Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan

Health | Jum'at, 10 April 2026 | 20:29 WIB

Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan

Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan

Health | Jum'at, 10 April 2026 | 14:00 WIB

96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan

96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan

Health | Kamis, 09 April 2026 | 19:16 WIB

Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak

Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak

Health | Kamis, 09 April 2026 | 15:15 WIB