facebook

Studi Swedia: 50 Persen Pasien Covid-19 Mengalami Masalah Indera Penciuman yang Lama

Risna Halidi | Aflaha Rizal Bahtiar
Studi Swedia: 50 Persen Pasien Covid-19 Mengalami Masalah Indera Penciuman yang Lama
Ilustrasi pasien Covid-19 anosmia (Freepik)

Menurut studi yang dilakukan peneliti Swedia, sekitar 50 persen orang yang terinfeksi Covid-19 selama gelombang pertama di tahun 2020 kehilangan indera penciuman lebih lama.

Suara.com - Sejak awal masa pandemi, kehilangan penciuman secara tiba-tiba menjadi salah satu gejala Covid-19 yang dianggap tidak biasa. Meski sebagian pasien pulih dari kehilangan indera penciuman, sebagian lainnya tidak kembali normal.

Melansir Times of India, para ilmuwan dari Karolinska Institute Stockholm di Swedia, mulai melakukan tes komprehensif pada 100 orang yang tertular Covid-29 di gelombang pertama pandemi.

Temuan dari studi peer-review menunjukkan sekitar 18 bulan setelah pulih dari Covid-19, empat persen orang kehilangan indera penciumannya secara permanen.

Sepertiga lainnya memiliki kemampuan indera penciuman yang kurang, dan hampir setengahnya mengalami parosmia atau gangguan penciuman yang membuat penderitanya merasakan aroma yang tidak semestinya.

Baca Juga: Update Covid-19 di Batam: Meningkat jadi 19 Orang Positif, Dua Kasus Baru dari Nongsa dan Lubukbaja

Tim penelitian menyimpulkan, sekitar 65 persen dari mereka yang pulih dari Covid-19 memiliki gejala kehilangan penciuman selama 18 bulan setelah tertular, dibanding 20 persen dari mereka yang tidak tertular virus.

"Mengingat jumlah waktu sejak gangguan awal pada sistem penciuman, kemungkinan masalah penciuman ini permanen," tulis studi menyimpulkan.

Di sisi lain, Badan Keamanan Kesehatan Inggris UK Health Security Agency mengatakan, penciuman yang hilang umum terjadi pada pasien yang tertular virus corona varian Omicron dibanding Delta.

Tetapi menurut pemimpin penelitian Johan Lundstrom, tidak ada data yang menunjukkan bahwa Omicron berkaitan dengan gejala parosmia.

Lebih lanjut, Johan mengatakan kehilangan penciuman yang parah dapat menyebabkan orang depresi dan mengubah pola makan mereka menjadi lebih buruk, sehingga menyebabkan berat badan bertambah.

Baca Juga: Polisi Periksa Sejumlah Saksi Kasus Suntik Vaksin Kosong ke Anak SD di Medan

"Ketika Anda tidak bisa mencium bau, yang bisa Anda rasakan hanyalah lima kualitas rasa dasar, sensasi taktil dan rempah-rempah," ungkapnya.

"Mereka mungkin tidak mendapatkan kembali 100 persen penciuman sebelumnya. Tetapi kebanyakan dari mereka, dengan melakukan latihan, penurunan indera penciuman tidak memengaruhi kualitas hidup mereka," pungkasnya.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar