facebook

Lahir Prematur 23 Minggu, Bayi Ini Sanggup Bertahan Meski Kaki Sudah Diamputasi!

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
Lahir Prematur 23 Minggu, Bayi Ini Sanggup Bertahan Meski Kaki Sudah Diamputasi!
Ilustrasi bayi prematur. (Unsplash)

Seorang bayi mampu bertahan hidup dengan kaki diamputasi, meski lahir prematur pada 23 minggu kehamilan.

Suara.com - Seorang ibu membagikan foto memilukan dari anaknya yang lahir prematur dan harus merelakan kaki anaknya diamputasi.

Wanita bernama Kenidee Brownbill itu terpaksa melahirkan anaknya, Mason secara prematur pada usia kehamilan 23 minggu, karena bayinya didiagnosis tidak mampu bertahan lebih lama dalam rahim.

Mason yang lahir prematur pun mengalami sejumlah infeksi langka, pendarahan otak, harus menjalani 5 kali operasi sampai kakinya harus diamputasi.

Untungnya lagi, Mason yang disebut bayi prematur mikro ini mampu berkembang cukup pesat setelah 4 bulan dirawat di rumah sakit.

Baca Juga: Kelelahan Bisa jadi Gejala Virus Corona Covid-19 dan Kondisi Lain, Begini Perbedaannya!

"Dia membuat saya takjub setiap harinya, melihat betapa kuatnya dia dengan smeua yang telah dilaluinya," kata Kenidee, dari Oxford dikutip dari The Sun.

Padahal, sebelumnya Kanidee merasa perjalanan hidupnya bagaikan naik rollercoaster. Ada banyak momen memilukan yang membuatnya sempat berpikir semua upayanya untuk menyelamatkan Mason tidak akan berhasil.

ilustrasi bayi prematur (Pexels/Isaac Taylor)
ilustrasi bayi prematur (Pexels/Isaac Taylor)

"Kami berpikir dia mungkin akan bisa berjalan kaki dengan kaki palsu suatu hari nanti. Tapi, ini akan datang seiring waktu dan saya juga akan mengikuti apa yang diinginkannya," katanya.

Sebelum melahirkan prematur, Kenidee mengaku beberapa kali mengalami pendarahan yang cukup parah selama trimester pertama kehamilan.

Saat usia kehamilannya memasuki 23 minggu, ia mengalami kram selama beberapa hari dan didiagnosis nyeri korset panggul.

Baca Juga: Terbuat dari Protein Virus Corona Asli, Vaksin Covid-19 Baru Buatan Jerman Dapat Melindungi Pasien Kanker

Tapi, rasa sakitnya semakin intens. Di sisi lain, ia tak paham rasa sakit pertanda kontraksi karena ini adalah pengalaman hamil pertamanya.

Setibanya di rumah sakit, ia mengalami pendarahan hebat. Dokter lantas memintanya untuk melahirkan saat itu juga.

"Saya khawatir dan bingung, karena sebelumnya terlihat baik-baik saja setiap kali USG selama 3 minggu terakhir. Saya pun berulang kali memberi tahu ke dokter kalau saya ingin berjuang untuk anak saya," tuturnya.

Akhirnya, Kenidee melahirkan anaknya secara prematur. Kemudian, anaknya pun langsung dibawa ke ruangan khusus untuk mendapatakan perawatan medis segera.

Komentar