facebook

Tingkatkan Percepatan Program Vaksinasi, Indonesia Butuh Lebih Banyak Mesin Pendingin Vaksin

M. Reza Sulaiman
Tingkatkan Percepatan Program Vaksinasi, Indonesia Butuh Lebih Banyak Mesin Pendingin Vaksin
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kanasugi Kenji dalam penyerahan bantuan mesin pendingin vaksin. (Dok. Kemenkes)

Sebab untuk bisa mencapai daerah terpencil dan terluar, bukan cuma stok vaksin yang dibutuhkan, tetapi juga mesin pendingin vaksin dan sarana pendukung lainnya.

Suara.com - Memiliki wilayah kepulauan yang tersebar dari Aceh hingga Papua menjadi tantangan besar dalam program vaksinasi melawan Covid-19 di Indonesia.

Sebab untuk bisa mencapai daerah terpencil dan terluar, bukan cuma stok vaksin yang dibutuhkan, tetapi juga mesin pendingin vaksin dan sarana pendukung lainnya.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pandemi COVID-19 mengajarkan ketersediaan rantai dingin vaksin sangat penting untuk menjamin distribusi vaksin yang merata dan berkualitas sampai ke sasaran.

“Selama masa perang dengan virus ini, kita dapat membangun sistem yang sangat kuat, termasuk seluruh sistem logistik dengan minus 82 Celcius, karenanya kami bisa melayani dan mendistribusikan vaksin ke 17.000 pulau dan 270 juta penduduk Indonesia,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Suara.com.

Baca Juga: Dinyatakan Haram, Depok Hentikan Sementara Penggunaan Vaksin Covovax dari India

Sebagai bantuan untuk melawan pandemi, pemerintah Jepang melalui UNICEF memberikan bantuan berupa 300 mesin pendingin vaksin, 50 ruang pendingin vaksin dan perangkat pemantauan suhu jarak jauh. Bantuan ini diberikan secara gratis melalui UNICEF dan diterima secara simbolis oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin di Jakarta International Container Terminal (JICT) pada Minggu (26/6).

“Terima kasih kepada Jepang dan UNICEF yang telah mendukung kami. Selain cold chain equipment, kami juga mendapat dukungan vaksin dari Jepang. Sudah hampir 7 Juta vaksin telah disumbangkan Jepang ke Indonesia dan itu membantu percepatan program vaksinasi kami,” kata Menkes Budi.

Namun demikian, Menkes mengungkapkan bahwa ketersediaan cold chain equipment di Indonesia dihadapkan pada penggunaan serta perawatan mesin yang kurang baik dan benar. Akibatnya banyak ditemukan mesin-mesin yang cepat rusak dengan masa penggunaan sangat singkat, berkisar 3 sampai 4 tahun sejak tanggal pengadaan.

Oleh karena itu, Menkes ingin adanya bantuan ini dapat dibarengi dengan pendampingan dan pelatihan dari Pemerintah Jepang, sehingga bantuan peralatan yang diberikan kepada Indonesia bisa dimanfaatkan dengan baik.

Selain adanya bantuan peralatan maupun pendampingan, pada saat yang sama, Kemenkes sendiri juga akan melakukan penguatan kapasitas dari sisi anggaran maupun sumber daya manusia, dengan harapan penggunaan alat bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama.

Baca Juga: Waspada! 4 Fakta Seputar Prediksi Puncak Gelombang Omicron BA.4 dan BA.5

“Kami akan memperbaiki cara dan kami akan mengalokasikan anggaran yang cukup untuk memastikan bahwa kami memiliki kemampuan perawatan atas mesin, tetapi saya pikir kami perlu untuk mengubah perilaku kami dan menjaga mesin daripada merawat yang lama,” ungkap Menkes.

Komentar