Dokter Temukan Keunggulan Operasi Kuno Zaman Firaun untuk Atasi Cedera Otak

Vania Rossa, Dini Afrianti Efendi

Selasa, 19 Juli 2022 | 06:19 WIB
Dokter Temukan Keunggulan Operasi Kuno Zaman Firaun untuk Atasi Cedera Otak
Ilustrasi operasi otak. (Pixabay.com)

Suara.com - Di masa serba modern ini, terungkap fenomena pengobatan unik, dimana pasien cedera otak berhasil selamat berkat operasi otak Zaman Firaun atau tindakan medis zaman Mesir kuno.

Tindakan medis ini berupa pengeboran lubang di tengkorak untuk mengurangi pembengkakan otak atau penekanan pada otak.

Adapun prosedur ini serupa seperti yang dilakukan orang Mesir kuno sebagai ritual keagamaan.

Mengutip Daily Mail, Senin (18/7/2022), operasi ini dikenal sebagai kraniektomi dekompresi, tindakan yang disebut mampu membuat seperlima pasien cedera otak lebih berpeluang bertahan hidup dibanding mereka yang menjalani pengobatan standar.

"Tidak diragukan lagi, operasi ini bisa menyelamatkan nyawa," ujar Konsultan Ahli Bedah Saraf Addenbrooke's Hospital, Profesor Peter Hutchinson selaku pemimpin penelitian.

Hal ini sesuai dengan data rerata 160 ribu warga Inggris dirawat di rumah sakit setiap tahunnya karena cedera otak yang disebabkan kecelakaan lalu lintas maupun jatuh.

Saat otak terluka, cairan darah bisa berkumpul di dalam otak dan bisa menekan otak, yang akhirnya mengganggu pasokan darah ke otak. Lalu karena pasokan darah terhambat, sel-sel otak perlahan mati dan menyebabkan hilangnya memori, lumpuh, bahkan mati otak.

Biasanya kondisi ini diatasi dengan obat, tapi jika tidak berhasil, dokter akan menerapkan prosedur ventrikulostomi, yaitu memasukan tabung melalui lubang agar cairan darah bisa keluar.

Tapi pada tindakan operasi otak zaman Firaun yakni kraniektomi dekompresi, dokter akan membuat lubang lebih besar dari 5 inci di bagian belakang tengkorak dan bagian membran yang mengelilingi otak diangkat, sehingga hasilnya tekanan pada otak berkurang drastis.

baca juga

Penelitian sebelumnya menunjukkan kraniektomi dekompresi berisiko tinggi sebabkan kecacatan, tapi dalam penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Neurology terhadap 408 pasien.

Hasilnya pasien yang menjalani kraniektomi dekompresi, 21 persen lebih berpeluang bertahan hidup selama dua tahun, dibanding mereka yang diobati dengan kraniektomi dan obat-obatan, bahkan pemulihannya disebut lebih cepat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sarwendah Idap Penyakit Otak Langka, Kenali Perawatan dan Risiko yang Mungkin Terjadi

Sarwendah Idap Penyakit Otak Langka, Kenali Perawatan dan Risiko yang Mungkin Terjadi

Health | Jum'at, 17 Juni 2022 | 16:02 WIB

Model Ini Nekat Bikin Konten Dewasa di Rumah Sakit, Padahal Baru Saja Operasi Otak

Model Ini Nekat Bikin Konten Dewasa di Rumah Sakit, Padahal Baru Saja Operasi Otak

Lifestyle | Rabu, 23 Maret 2022 | 14:34 WIB

Dialami Marc Marquez akibat Kecelakaan di Mandalika, Kenali Gejala dan Penyebab Gegar Otak!

Dialami Marc Marquez akibat Kecelakaan di Mandalika, Kenali Gejala dan Penyebab Gegar Otak!

Health | Senin, 21 Maret 2022 | 08:40 WIB

Terkini

Bukan Tambang, Ini Sektor yang Diam-Diam Dorong Ekonomi Sumsel 5,20 Persen

Bukan Tambang, Ini Sektor yang Diam-Diam Dorong Ekonomi Sumsel 5,20 Persen

Sumsel | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:59 WIB

Indonesia Punya Potensi Besar Kembangkan Kripto Syariah

Indonesia Punya Potensi Besar Kembangkan Kripto Syariah

Bisnis | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:55 WIB

5 Rekomendasi Bedak Ringan untuk Remaja Sekolah yang Hasilnya Natural dan Tidak Dempul sesuai Review

5 Rekomendasi Bedak Ringan untuk Remaja Sekolah yang Hasilnya Natural dan Tidak Dempul sesuai Review

Lifestyle | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:45 WIB

Rekam Jejak Jebolan Liga India yang Jadi Pelatih Anyar Bhayangkara FC Gantikan Paul Munster

Rekam Jejak Jebolan Liga India yang Jadi Pelatih Anyar Bhayangkara FC Gantikan Paul Munster

Bola | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:35 WIB

Kata BMKG, Penurunan Kualitas Udara Pekanbaru Bukan karena Karhutla

Kata BMKG, Penurunan Kualitas Udara Pekanbaru Bukan karena Karhutla

Riau | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:30 WIB

KMP Putri Yasmin Terbakar, 212 Orang Dievakuasi, SAR Masih Cari Korban

KMP Putri Yasmin Terbakar, 212 Orang Dievakuasi, SAR Masih Cari Korban

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:29 WIB

Bos BI Berganti, Grace Natalie PSI Tegaskan Independensi Institusi Tak Boleh Goyah

Bos BI Berganti, Grace Natalie PSI Tegaskan Independensi Institusi Tak Boleh Goyah

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:26 WIB

DPRD DKI Soroti Izin Penjualan Miras di Festival Musik, Buntut Kasus Viral The Sounds Project

DPRD DKI Soroti Izin Penjualan Miras di Festival Musik, Buntut Kasus Viral The Sounds Project

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:20 WIB

Bosan Lari Gitu-Gitu Aja? Coba 5 Spot Jogging di Jogja Ini, Suasananya Asri Banget!

Bosan Lari Gitu-Gitu Aja? Coba 5 Spot Jogging di Jogja Ini, Suasananya Asri Banget!

Your Say | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:20 WIB

Luas Karhutla Riau Capai 15 Ribu Hektare Selama Januari-Juli 2026

Luas Karhutla Riau Capai 15 Ribu Hektare Selama Januari-Juli 2026

Riau | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:17 WIB

×