Survei Serologi Sebut 98 Persen Penduduk Indonesia Punya Antibodi Covid-19, Masihkah Perlu Pakai Masker?

M. Reza Sulaiman
Survei Serologi Sebut 98 Persen Penduduk Indonesia Punya Antibodi Covid-19, Masihkah Perlu Pakai Masker?
Warga beraktivitas di Taman Suropati, Jakarta Pusat, Minggu (20/2/2022). [Suara.com/Alfian Winanto]

Survei Serologi menyebut 98,5 persen penduduk Indonesia memiliki antibodi Covid-19. Apakah penggunaan masker masih relevan?

Suara.com - Hasil Survei Serologi ke-3 yang dilaksanakan pada bulan Juli 2022 oleh Kementerian Kesehatan, menyebut 98,5 persen penduduk Indonesia memiliki antibodi SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Muncul pertanyaan, apakah perlindungan dengan memakai masker dan protokol kesehatan masih relevan?

Menjawab pertanyaan ini, Prof.Dr.dr. Iris Rengganis, SpPD, K-AI, Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia menegaskan bahwa memakai masker masih tetap relevan, dan tak bisa di tawar-tawar, karena masih menjadi pelindung nomor satu, disamping vaksinasi. Karena saat ini, kita masih dalam masa transisi dan belum memasuki fase endemi.

Meski pernah terinfeksi Covid-19, siapapun masih berpotensi ter-reinfeksi kembali, mengingat bahwa virus masih akan selalu bermutasi dan berkembang, sehingga jangan pernah mengendorkan protokol kesehatan. Salah satu langkah yang dapat mencegah tertular dan menularkan yaitu dengan patuhi protokol kesehatan secara bersama-sama.

Antibodi di dalam tubuh (berbentuk Y) (Freepik)
Antibodi di dalam tubuh (berbentuk Y) (Freepik)

"Tetapi, Covid-19 ini jangan cepat-cepat dianggap endemi, kita masih di masa pandemi. Memang kita menuju endemi, sementara kita memenuhi standar protokol kesehatan harus dipakai, vaksin dan masker itu kombinasi yang harus dijalankan," tuturnya dalam keterangan yang diterima Suara.com, Selasa (16/8/2022).

Baca Juga: Kim Jong Un Sebut Korea Utara Menang Lawan Covid-19, Cabut Kewajiban Pakai Masker

Berdasarkan data, Survey Sero Sars-CoV-2 antibodi masyarakat Indonesia saat ini terus meningkat, seiring dengan semakin banyaknya masyarkaat yang melakukan vaksinasi.Namun, masih terdapat resiko tertular dan menularkan antar manusia.

“Jadi, walaupun antibodinya sudah meningkat, kita tetap bisa tertular. Kenapa demikian? Karena sudah terjadi mutasi daripada virus, jadi mutasi dari virus sudah berubah. Jadi artinya bisa tertular. Terus kemudian antibodinya, gimana? Antibodi setelah vaksin memang tinggi. Tetapi antibodi tinggi bukan berarti melindungi, karena pertama ada mutasi, kedua tergantung dari kedua kondisi dari orang itu.” Tegas Iris.

Walaupun masyarakat sudah vaksin lengkap dengan booster masih memiliki resiko terinfeksi Covid-19 tetapi gejala yang ditimbulkan ringan. Sistem imun tubuh tergantung pada yang membentuk sistem imun tubuh, kondisi tubuh dan lingkungan.

“Maka dari itu vaksinasi harus segera di lengkapi mulai dari vaksin dosis pertama, kedua dan booster serta protokol kesehatan seperti memakai masker harus diterapkan serta segera lengkapi vaksin Covid-19. Sebab, vaksinasi masih menjadi upaya untuk menunrunkan angka kematian dan angka kesakitan di rumah sakit," tambahnya lagi.

Prof. Iris menyampaikan bahwa apabila masyarakat tidak bisa melakukan vaksinasi karena memiliki suatu penyakit atau belum layak divaksinasi, maka tetap harus melakukan protokol kesehatan dengan baik, dan bijak dalam melakukan mobilitas.

Baca Juga: Aksi Copot Masker Anggota Paspampres, Gibran: Saya Sudah Berbaik Hati, CCTV Tak Dilihatkan ke Masyarakat

“Orang seperti inilah protokol kesehatannya harus lebih kuat lagi, jangan main-main, jangan pergi ke mall atau ke tempat yang ramai, artinya harus bisa melindungi dirinya sendiri dan jangan tertular atau menularkan. Karena, terbentuknya varian baru kedepannya belum bisa diprediksi, apakah bisa berhenti atau tidak, maka resiko penularan masih tetap ada walaupun mayoritas sudah divaksinasi lengkap, maka protokol kesehatan harus dijalankan," tutupnya.

Komentar