Bakteri Jahat atau Jamur, Mana yang Lebih Sering Menyebabkan Masalah Kulit Wajah Anda?

M. Reza Sulaiman | Lilis Varwati
Bakteri Jahat atau Jamur, Mana yang Lebih Sering Menyebabkan Masalah Kulit Wajah Anda?
Ilustrasi bakteri dan jamur di kulit wajah. (Freepik)

Meski nampak bersih dari permukaan, kulit manusia sebenarnya dihuni oleh banyak makhluk sangat kecil berupa jamur dan bakteri.

Suara.com - Meski nampak bersih dari permukaan, kulit manusia sebenarnya dihuni oleh banyak makhluk sangat kecil berupa jamur dan bakteri, termasuk di kulit wajah.

Apabila susunan mikrobioma itu tidak seimbang bisa jadi memicu masalah kulit, seperti jerawat, komedo, juga beruntusan.

"Kulit itu kaya universe, jadi dia sebenarnya tidak steril. Kalau pun kita cuci tangan kemudian kasih hand sanitizer ternyata gak lama lagi akan ada mikroba lagi, gak bisa 100 persen bersih karena mikroba terus memperbarui diri. Tantangannya gimana mikroba dalam tubub itu seimbang, yang baik tetap ada dan jahat tidak jadi ancaman," jelas dokter Spesialis Kulit dr. SK Sulistyaningrum, Sp.KK., dalam temu media di Jakarta beberapa waktu lalu.

Ilustrasi bakteri. (Shutterstock)
Ilustrasi bakteri. (Shutterstock)

Ia menambahkan bahwa tipe kulit juga bisa pertanda mikrobioma apa yang paling dominan di wajah.

Baca Juga: Penting! Simak 5 Cara Mencuci Muka yang Baik dan Benar

"Rata-rata orang yang berminyak biasanya jamurnya tinggi. Kaarena jamur itu sukanya makan yang oily, jadi kalau seseorang suka pijat cenderung panuan. Panu itu bukan sesuatu yang menular dari orang lain, tapi itu sebetulnya jamur di kita tumbuh berlebihan. Karena kulitnya sering oily, waktunya dibersihkan dia enggak cepet-cepet dikeringkan keburu over growt jamurnya," tuturnya.

Sementara mikrobioma bakteri lebih tidak menentu. Orang dengan tipe kulit nirmal pun bisa jadi dominan bakteri. Hanya saja, komposisi antara bakteri baik dan bakteri jahat bisa seimbang.

"Yang jadi masalah kalau bakteri yang jenisnya patogen berlebihan, jadi bisa bikin infeksi, jerawat," kata dokter Ningrum.

Keberadaan jamur dan bakteri tersebut memang tidak bisa sepenuhnya dihilangkan dari kulit. Sebab, lanjut dokter Ningrum, keberadaan mikrobioma itu juga sebenarnya bermanfaat untuk melindungi kulit.

Hanya saja, komposisi mikrobioma bisa terganggu akibat gaya hidup maupun faktor eksternal di luar tubuh.

Baca Juga: Atasi Berbagai Masalah Kulit, Produk Ini Gabungkan Kandungan Glycolic Acid dan Lactic Acid

"Mikrobioma sangat berpengaruh terhadap hal-hal yang sifatnya merusak kulit. Baik eksposure ultraviolet, temperatur suhu berubah, kelembaban berubah. Itu semua bisa mengubah keseimbangan kulit. Hal di luar dan di dalam bisa sangat berpengaruh," jelasnya.