Asosiasi Psikiatri Minta Foto dan Video Tragedi Itaewon Tak Disebarkan, Dampaknya Berbahaya Bagi Kejiwaan?

M. Reza Sulaiman | Dinda Rachmawati
Asosiasi Psikiatri Minta Foto dan Video Tragedi Itaewon Tak Disebarkan, Dampaknya Berbahaya Bagi Kejiwaan?
Orang-orang melihat karangan bunga yang ditaruh sebagai penghormatan kepada para korban dalam tragedi Itaewon di luar stasiun kereta bawah tanah Itaewon, Seoul, Korea Selatan, Minggu (30/10/2022). [Anthony WALLACE / AFP]

Video dan foto tragedi Itaewon masih beredar di media sosial. Dalam dokumentasi, terlihat banyak orang tak sadarkan diri hingga kondisi pengunjung yang terjepit.

Suara.com - Video dan foto tragedi Itaewon masih beredar di media sosial. Dalam dokumentasi, terlihat banyak orang tak sadarkan diri hingga kondisi pengunjung yang terjepit.

Mengenai hal ini, asosiasi dokter spesialis psikiatri dan perawat Korea Selatan langsung mendesak publik untuk berhenti berbagi video dan foto dari tempat kejadian. Sebab, ada risiko bahaya bagi kejiwaan yang mengintai.

Dilansir Koreaboo, hal ini disebut dapat menyebabkan banyak trauma psikologis. Teguran dan peringatan tersebut dikeluarkan Asosiasi Neuropsikiatri Korea dalam sebuah pernyataan darurat pada 30 Oktober 2022.

"(Bencana Itaewon) telah menyebabkan orang mengalami trauma psikologis luar biasa karena hilangnya nyawa dalam keadaan darurat Itaewon. Kami mengeluarkan pernyataan berikut untuk mencegah trauma psikologis lebih lanjut yang disebabkan oleh bencana ini," tulia mereka.

Baca Juga: Dianggap Comot Konten Orang Tanpa Izin, Nessie Judge Dirujak oleh Warganet: Udah Gak Minta Izin, Diduitin Lagi

Asosiasi Neuropsikiatri Korea mengatakan, jika mendistribusikan video dan foto tempat kejadian pada saat kecelakaan tanpa penyaringan harus dihentikan. Tindakan tersebut dapat merusak reputasi almarhum dan korban dan menyebabkan kerusakan sekunder dan tersier.

Ini, kata organisasi tersebut juga dapat menyebabkan trauma psikologis bagi banyak orang. Disarankan untuk menahan diri dari menonton adegan atau berita secara berlebihan, karena dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang.

Mereka juga menekankan perlunya menahan diri untuk tidak mengungkapkan kebencian terhadap situasi tersebut. Ujaran kebencian secara online selama bencana dapat memperburuk trauma keluarga yang ditinggalkan dan mereka yang berada di tempat kejadian, membawa rasa sakit yang luar biasa, dan dengan demikian menghambat pemulihan mereka.

Kebencian dan stigma ini, lanjut mereka menciptakan konflik sosial dan tidak membantu menyelesaikan situasi. Media harus melindungi hak asasi individu, seperti menghormati privasi korban saat melaporkan dan berusaha untuk tidak menimbulkan kebingungan atau kecemasan sosial.

Tragedi pesta halloween Itaewon Korea Selatan. (Foto: AFP)
Tragedi pesta halloween Itaewon Korea Selatan. (Foto: AFP)

Penting juga untuk memberi tahu orang-orang yang menderita kesulitan kesehatan mental tentang informasi yang benar dan organisasi yang dapat membantu mereka

Baca Juga: Wah, Ternyata Hujan Bisa Jadi Obat Gangguan Mental, Ini Penjelasan Zaidul Akbar

"Ini adalah situasi yang membutuhkan dukungan kesehatan mental skala besar, karena kejutan besar diharapkan terjadi pada banyak orang, termasuk keluarga dan kenalan yang ditinggalkan, yang terluka dan keluarga mereka, saksi mata, dan personel tanggap pertama. Seperti dalam kasus bencana nasional seperti bencana feri Sewol dan pandemi COVID-19, diperlukan kerjasama para ahli," ungkap mereka.