Orang kaya Berisiko Besar Kena Kanker, Kenapa?

Bimo Aria Fundrika | Suara.com

Minggu, 09 Juni 2024 | 08:52 WIB
Orang kaya Berisiko Besar Kena Kanker, Kenapa?
Ilustrasi orang kaya (Shutterstock).

Suara.com - Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Universitas Helsinki, Finlandia, mengungkapkan bahwa individu dengan status sosial-ekonomi (SES) tinggi memiliki risiko genetik lebih besar terkena beberapa jenis kanker, seperti kanker payudara dan prostat, dibandingkan dengan mereka yang berasal dari kelompok SES rendah.

Menurut studi yang dipimpin oleh Dr. Hagenbeek, individu dengan SES tinggi memiliki risiko genetik lebih tinggi terhadap kanker tertentu. Sebaliknya, mereka yang berada dalam kelompok SES rendah lebih rentan terhadap penyakit seperti diabetes, radang sendi, depresi, alkoholisme, dan kanker paru-paru.

"Memahami dampak skor poligenik terhadap risiko penyakit dalam konteks sosial-ekonomi dapat mengarah pada protokol skrining yang lebih efektif," kata Dr. Hagenbeek kepada South West News Service.

Ilustrasi kanker (Pixabay/PDpics)
Ilustrasi kanker (Pixabay/PDpics)

Ia menambahkan bahwa, misalnya, skrining kanker payudara bisa diadaptasi untuk memulai lebih awal atau dilakukan lebih sering pada perempuan dengan risiko genetik tinggi dan berpendidikan tinggi.

Penelitian ini menggunakan data genomik, SES, dan kesehatan dari sekitar 280.000 orang Finlandia berusia 35 hingga 80 tahun. Temuan ini menegaskan beberapa perbedaan risiko yang telah dilaporkan dalam penelitian sebelumnya, namun ini adalah studi pertama yang mencari hubungan antara 19 penyakit umum di negara-negara berpenghasilan tinggi.

Dr. Hagenbeek juga menyoroti pentingnya mengintegrasikan informasi genetik ke dalam layanan kesehatan dengan mempertimbangkan konteks sosial-ekonomi.

"Meskipun informasi genetik kita tidak berubah sepanjang hidup, dampaknya terhadap risiko penyakit dapat berubah seiring usia dan perubahan keadaan sosial-ekonomi," jelasnya.

Peneliti juga merekomendasikan penelitian lebih lanjut untuk memahami hubungan antara profesi tertentu dan risiko penyakit, serta studi di negara-negara berpenghasilan rendah. "Studi kami hanya berfokus pada individu keturunan Eropa, dan penting untuk melihat apakah temuan kami juga berlaku untuk populasi dari berbagai latar belakang di negara-negara dengan tingkat pendapatan berbeda," tambah Dr. Hagenbeek.

Temuan ini akan dipresentasikan pada konferensi tahunan Masyarakat Genetika Manusia Eropa di Berlin, Jerman. Ketua Konferensi, Profesor Alexandre Reymond dari Universitas Lausanne, Swiss, menyambut baik hasil penelitian ini, menekankan pentingnya mengukur risiko genetik dan lingkungan untuk menuju kesehatan yang dipersonalisasi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Teori Konspirasi Kate Middleton Jilid II Mulai Menyebar, Tak Akan Kembali Muncul ke Hadapan Publik?

Teori Konspirasi Kate Middleton Jilid II Mulai Menyebar, Tak Akan Kembali Muncul ke Hadapan Publik?

Lifestyle | Sabtu, 08 Juni 2024 | 17:42 WIB

5 Tips Penting Jaga Kulit Bagi Pria, Masih Banyak yang Keliru

5 Tips Penting Jaga Kulit Bagi Pria, Masih Banyak yang Keliru

Lifestyle | Selasa, 04 Juni 2024 | 09:12 WIB

Jadi Alat Skrining Kanker Payudara yang Paling Utama, Sistem Mammografi Pertama Akhirnya Hadir di Dili Timor Leste

Jadi Alat Skrining Kanker Payudara yang Paling Utama, Sistem Mammografi Pertama Akhirnya Hadir di Dili Timor Leste

Health | Selasa, 04 Juni 2024 | 10:00 WIB

Terkini

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB