Terapi Insomnia Cegah Risiko Depresi Usai Melahirkan, Fakta atau Mitos?

Riki Chandra Suara.Com
Sabtu, 02 November 2024 | 17:55 WIB
Terapi Insomnia Cegah Risiko Depresi Usai Melahirkan, Fakta atau Mitos?
Ilustrasi melahirkan.[Pexels/Rene Asmussen]

Suara.com - Penelitian terbaru menunjukkan bahwa terapi insomnia dapat menjadi solusi efektif untuk mengurangi risiko depresi pasca persalinan.

Kondisi kesehatan mental ini mempengaruhi sekitar 10 persen perempuan setelah melahirkan. Gejalanya beragam, seperti suasana hati yang buruk, kelelahan berkepanjangan, serta kesulitan merawat diri dan bayi.

Menurut laporan Medical Daily, dikutip dari Antara, Sabtu (2/11/2024), depresi pasca persalinan sering disertai dengan gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial.

Para perempuan dengan gejala itu dianjurkan untuk meningkatkan kualitas tidur, beristirahat cukup, dan melakukan terapi insomnia atau mencari pengobatan yang tepat.

Studi yang diterbitkan dalam Journal of Affective Disorders mengungkapkan bahwa terapi perilaku kognitif untuk insomnia atau Cognitive Behavioral Therapy for Insomnia (CBT-I) dapat berperan penting dalam mencegah depresi pascapersalinan.

Salah satu penelitinya, lizabeth Keys mengatakan, intervensi untuk mengatasi insomnia ini juga dapat mendukung kesehatan mental ibu dan bayi secara signifikan.

“CBT-I adalah metode yang sangat efektif untuk pengobatan insomnia dan terbukti mampu mengurangi gejala depresi,” kata Keys.

Menurutnya, efek dari terapi perilaku kognitif ini hampir sebanding dengan obat antidepresan. Namun, dengan efek samping yang lebih minimal, sehingga sering dipilih oleh ibu hamil.

CBT-I dimulai dengan mengidentifikasi pikiran dan kebiasaan yang menyebabkan insomnia. Pola-pola tidur yang tidak sehat kemudian diluruskan, sehingga membantu pasien mendapatkan tidur yang lebih berkualitas.

Dalam penelitian ini, 62 perempuan hamil yang mengalami insomnia menjalani CBT-I selama lima minggu. Para peneliti mengevaluasi kondisi depresi dan insomnia peserta sebelum dan sesudah intervensi, serta enam bulan setelah melahirkan.

Hasilnya, peningkatan kualitas tidur yang signifikan dan penurunan gejala depresi pascapersalinan. "Hasil penelitian ini sangat memberikan harapan bagi ibu-ibu yang berjuang di minggu-minggu pertama setelah melahirkan," ujarnya.

Menurutnya, studi ini menambah bukti bahwa mengatasi insomnia selama kehamilan memiliki berbagai manfaat, termasuk mencegah depresi setelah melahirkan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Matematika Kelas 9 SMP dan Kunci Jawaban Aljabar-Geometri
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Lelah Mental? Cek Seberapa Tingkat Stresmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu SpongeBob, Patrick, Squidward, Mr. Krabs, atau Plankton?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI