Deg-Degan Saat Istirahat hingga Nyeri Dada Tanda Aritmia Jantung? Ini Penjelasan Dokter!

Riki Chandra Suara.Com
Kamis, 20 Februari 2025 | 15:57 WIB
Deg-Degan Saat Istirahat hingga Nyeri Dada Tanda Aritmia Jantung? Ini Penjelasan Dokter!
Ilustrasi jantung (Elements Envato)

Suara.com - Kondisi deg-degan saat beristirahat hingga nyeri dada bisa menjadi gejala aritmia atau gangguan irama jantung yang menyebabkan detak jantung tidak beraturan.

Fakta itu diungkapkan oleh Konsultan Intervensi Jantung & Aritmia Eka Hospital BSD, dr. Ignatius Yansen.

"Aritmia terjadi ketika jantung berdetak terlalu cepat (takikardia) atau terlalu lambat (bradikardia)," ujarnya, dikutip dari Antara, Kamis (20/2/2025).

Menurutnya, irama normal jantung manusia dewasa saat beristirahat berkisar antara 60-100 detak per menit. Seseorang bisa menghitungnya secara manual menggunakan stopwatch atau dengan bantuan perangkat seperti smartwatch, oximeter, dan tensimeter digital.

"Jika seseorang merasa deg-degan, tetapi jumlah detak jantung masih dalam rentang normal, maka kondisi ini tidak selalu menandakan aritmia. Biasanya, jantung berdebar di malam hari saat menjelang tidur karena suasana yang lebih tenang dan relaks," jelasnya.

Namun, seseorang dikatakan mengalami aritmia jika denyut jantung berada di bawah 60 detak per menit (bradikardia) atau di atas 100 detak per menit (takikardia). Gangguan ini disebabkan oleh ketidakseimbangan sinyal listrik yang menuju jantung, sehingga perintah untuk memompa darah menjadi tidak optimal.

Saat impuls listrik terganggu, daya pompa jantung menurun dan menyebabkan aliran darah ke seluruh tubuh tidak maksimal.

Jika darah yang mengandung oksigen dan nutrisi tidak tersalurkan dengan baik, gejala aritmia bisa muncul, seperti pusing hingga pingsan akibat kurangnya pasokan darah ke otak.

Ada berbagai faktor yang bisa menyebabkan gangguan sinyal listrik ke jantung, seperti ketidakseimbangan elektrolit, serangan jantung, penyakit arteri koroner, perubahan struktur jantung seperti kardiomiopati, penyakit katup jantung, diabetes, tekanan darah tinggi, sleep apnea, infeksi Covid-19, serta kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol atau kafein secara berlebihan.

Untuk memastikan seseorang mengalami aritmia atau tidak, dokter akan melakukan serangkaian tes, seperti anamnesis, pemeriksaan fisik, elektrokardiogram (EKG), tes treadmill, serta holter monitoring yang dapat memantau detak jantung selama 24 jam atau lebih.

"Tidak semua jenis aritmia membutuhkan pengobatan. Beberapa kasus cukup ringan dan tidak berdampak besar pada kualitas hidup. Bahkan, kondisi ini bisa membaik dengan perubahan gaya hidup yang lebih sehat," kata Ignatius Yansen.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI