34% Remaja di Indonesia Alami Gangguan Mental, Begini Skrining yang Tepat Sebelum Terlambat

Fabiola Febrinastri

Selasa, 20 Mei 2025 | 13:01 WIB
34% Remaja di Indonesia Alami Gangguan Mental, Begini Skrining yang Tepat Sebelum Terlambat
ilustrasi gangguan mental pada remaja (freepik.com/freepik)

Suara.com - Istilah gangguan mental tak asing lagi di telinga masyarakat. Namun kesadaran untuk memahaminya masih relatif rendah, karena gangguan mental tidak dianggap sebagai "penyakit fisik".

Benarkah begitu?

Mengutip survei nasional Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022, Psikolog Andini Iskayanti Putri, M. Psi menyebut, sekitar 34,9% remaja mengalami masalah kesehatan mental, dan 5,5% diantaranya memenuhi kriteria gangguan mental menurut DSM-5.

Gangguan mental yang paling banyak dijumpai adalah gangguan kecemasan (3,7%), khususnya social anxiety dan generalized anxiety disorder, diikuti oleh depresi mayor (1,0%), gangguan perilaku (0,9%), PTSD (0,5%), dan ADHD (0,5%). Namun berdasarkan pengalaman praktik, umumnya Andini banyak mengatasi permasalahan kecemasan dan depresi pada remaja.

Secara umum, gangguan mental sering disebut sebagai "mental illness" atau "penyakit jiwa", yaitu kondisi kesehatan yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, berperilaku, dan berinteraksi dengan dunia di sekitarnya. Hal ini bisa terjadi dalam waktu singkat atau berlangsung lama, sehingga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. 

Masih terkait penelitian tersebut, gangguan mental yang paling banyak diderita remaja adalah gangguan kecemasan, yang merupakan gabungan antara fobia sosial dan gangguan cemas menyeluruh sebesar 3,7%, kemudian gangguan depresi mayor (1,0%), gangguan perilaku (0,9%), serta gangguan stres pasca-trauma (PTSD) dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) masing-masing sebesar 0,5%. 

Kenali Gejala dan Skrining Awal yang Bisa Dilakukan

Gejala awal gangguan mental pada remaja dapat dikenali melalui beberapa tanda yang muncul, yaitu perubahan pola perilaku, suasana hati, dan fungsi sehari-hari. Tanda-tanda yang umum antara lain, perasaan sedih atau cemas yang berkepanjangan, penarikan diri dari lingkungan sosial, gangguan tidur atau makan, kehilangan minat pada aktivitas yang biasanya disenangi, serta munculnya perilaku impulsif atau agresif.

“Penting untuk membedakan antara gejala yang bersifat sementara akibat stres dan gejala yang menetap dan mengganggu fungsi kehidupan remaja. Jika gejala berlangsung lebih dari dua minggu dan mempengaruhi hubungan sosial, prestasi akademik, atau kehidupan keluarga, maka sebaiknya dilakukan penilaian oleh tenaga kesehatan jiwa profesional," ujar Andini.

baca juga

Namun sebelum bertemu dengan kesehatan jiwa profesional, Andini menekankan pentingnya peran keluarga sebagai sistem dukungan utama, terutama dalam memberikan kenyamanan emosional, membangun komunikasi terbuka, dan membantu menciptakan rutinitas sehat.

Psikolog klinis anak, remaja, dan keluarga dari Universitas Padjadjaran ini mengatakan, apabila gangguan mental pada remaja berlangsung terus-menerus, maka diperlukan pendekatan multidisipliner, berupa psikoterapi seperti terapi kognitif perilaku (CBT). Terapi ini merupakan salah satu intervensi yang paling banyak direkomendasikan, terutama untuk kasus kecemasan dan depresi.

"Obat-obatan dapat diberikan oleh psikiater dalam kasus gangguan sedang hingga berat," tambah Andini.

Gangguan Mental Bisa Berujung Penyakit Fisik

Menurut Andini, sudah banyak dibuktikan dalam penelitian bahwa gangguan mental berkepanjangan dapat berdampak langsung terhadap kondisi fisik seseorang. Saat remaja mengalami stres kronis, tubuh mereka berada dalam keadaan “fight or flight”, yaitu respons evolusioner otak (khususnya amigdala dan sistem limbik) terhadap bahaya.

"Meskipun berguna dalam situasi darurat, respons ini akan memicu produksi hormon stres seperti kortisol dan adrenalin secara terus-menerus jika tidak diatasi. Ini disebut chronic survival mode, di mana sistem saraf simpatis selalu aktif dan tubuh tidak sempat masuk ke fase pemulihan (relaksasi). Akibatnya, tubuh mengalami kelelahan fisiologis dan mulai menunjukkan gejala fisik seperti sakit kepala, gangguan tidur, masalah pencernaan, tekanan darah tinggi, hingga risiko penyakit jantung," katanya.

Hal ini sejalan dengan temuan dari World Health Organization (WHO) dan American Psychological Association (APA), yang menyatakan bahwa stres psikologis yang berlangsung lama dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit kronis, termasuk gangguan metabolisme dan peradangan dalam tubuh. Secara sederhana, bisa dijelaskan seperti ini.

“Saat seseorang terus-menerus merasa cemas atau tidak aman, tubuhnya akan tetap dalam kondisi siaga. Jika keadaan ini dibiarkan tanpa jeda, lama-lama tubuh akan kelelahan yang dapat memicu munculnya penyakit fisik,” demikian kutipan tersebut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Emosi Remaja Suka Berubah-Ubah, Normal atau Adanya Gangguan Mental?

Emosi Remaja Suka Berubah-Ubah, Normal atau Adanya Gangguan Mental?

Health | Jum'at, 16 Mei 2025 | 14:54 WIB

Fenomena Klithih di Jogja: Masalah dan Solusi dari Perspektif Generasi Muda

Fenomena Klithih di Jogja: Masalah dan Solusi dari Perspektif Generasi Muda

Your Say | Kamis, 15 Mei 2025 | 06:24 WIB

Kasus Kenakalan Remaja Merajalela, Alasan Pemprov Jabar Kirim Pelajar ke Barak Militer

Kasus Kenakalan Remaja Merajalela, Alasan Pemprov Jabar Kirim Pelajar ke Barak Militer

News | Kamis, 08 Mei 2025 | 19:27 WIB

5 Teknik Psikoterapi untuk Menangani Gangguan Mental, Ciptakan Coping Mechanism Sehat

5 Teknik Psikoterapi untuk Menangani Gangguan Mental, Ciptakan Coping Mechanism Sehat

Lifestyle | Rabu, 02 April 2025 | 13:00 WIB

Konsumsi Gula Berlebih Picu Depresi hingga Gangguan Mental, Ini Faktanya!

Konsumsi Gula Berlebih Picu Depresi hingga Gangguan Mental, Ini Faktanya!

Lifestyle | Kamis, 23 Januari 2025 | 15:28 WIB

Miris! 3 dari 10 Pelajar Jakarta Terindikasi Alami Gangguan Mental: Ogah Curhat ke Guru BK

Miris! 3 dari 10 Pelajar Jakarta Terindikasi Alami Gangguan Mental: Ogah Curhat ke Guru BK

Health | Kamis, 26 Desember 2024 | 12:00 WIB

Terkini

Produk Tembakau Alternatif Bisa Bantu Perokok Dewasa Beralih, Tapi Tetap Berisiko

Produk Tembakau Alternatif Bisa Bantu Perokok Dewasa Beralih, Tapi Tetap Berisiko

Bisnis | Rabu, 15 Juli 2026 | 18:48 WIB

Daftar Pemain Terkuat dan Berpengaruh di Piala Dunia 2026

Daftar Pemain Terkuat dan Berpengaruh di Piala Dunia 2026

Your Say | Rabu, 15 Juli 2026 | 18:45 WIB

Sebulan Tak Diguyur Hujan, Sungai Cisadane Mulai Mengering

Sebulan Tak Diguyur Hujan, Sungai Cisadane Mulai Mengering

Foto | Rabu, 15 Juli 2026 | 18:40 WIB

Asing Jual Bersih Rp160 Miliar, BMRI hingga RANS Malah Diborong

Asing Jual Bersih Rp160 Miliar, BMRI hingga RANS Malah Diborong

Bisnis | Rabu, 15 Juli 2026 | 18:40 WIB

Bukan Didorong, ASN Nias Tewas Lompat dari Apartemen di Medan Gegara Diperas 2 Wanita

Bukan Didorong, ASN Nias Tewas Lompat dari Apartemen di Medan Gegara Diperas 2 Wanita

Sumut | Rabu, 15 Juli 2026 | 18:38 WIB

Terbitkan Sprindik Baru, Kejagung Sebut Febrie Adriansyah Kini Berstatus Saksi

Terbitkan Sprindik Baru, Kejagung Sebut Febrie Adriansyah Kini Berstatus Saksi

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 18:36 WIB

Strategi Agresif Geely Rebut Pasar Indonesia Hingga Masuk Tiga Besar Merek Tiongkok Terlaris

Strategi Agresif Geely Rebut Pasar Indonesia Hingga Masuk Tiga Besar Merek Tiongkok Terlaris

Otomotif | Rabu, 15 Juli 2026 | 18:35 WIB

Wajah Baru TPA Tamangapa Mulai Terlihat, Bau Sampah Berkurang

Wajah Baru TPA Tamangapa Mulai Terlihat, Bau Sampah Berkurang

Sulsel | Rabu, 15 Juli 2026 | 18:24 WIB

Ada Isu Mark Up Pikap Kopdes Merah Putih, Purbaya Ogah Cairkan Anggaran Sebelum Audit

Ada Isu Mark Up Pikap Kopdes Merah Putih, Purbaya Ogah Cairkan Anggaran Sebelum Audit

Bisnis | Rabu, 15 Juli 2026 | 18:23 WIB

Koalisi Masyarakat Sipil Nilai Tak Ada Alasan Lanjutkan Program MBG

Koalisi Masyarakat Sipil Nilai Tak Ada Alasan Lanjutkan Program MBG

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 18:22 WIB

×