Emosi Remaja Suka Berubah-Ubah, Normal atau Adanya Gangguan Mental?

Yasinta Rahmawati, Fajar Ramadhan

Jum'at, 16 Mei 2025 | 14:54 WIB
Emosi Remaja Suka Berubah-Ubah, Normal atau Adanya Gangguan Mental?
Konferensi pers 'Compliance and Care, a road to recovery for individual with Bipolar and Schizophernia', Rabu (14/5/2025). (Suara.com/Fajar Ramadhan)

Suara.com - Pada usia remaja akan terjadi perubahan hormonal yang akan memengaruhi perilaku serta emosi dalam diri. Hal ini bisa membuat remaja bersikap impulsif, emosional, agresif, dan lain-lain.

Akan tetapi, perilaku-perilaku tersebut terkadang seringkali dikaitkan dengan adanya gangguan kesehatan mental. Tidak sedikit remaja yang menduga dirinya alami gangguan mental seperti skizofrenia atau bipolar karena perubahan sikapnya itu.

Sebab adanya kemiripan itu, lantas sulit untuk membedakan, bagaimana kondisi remaja yang benar-benar alami gangguan mental atau hanya faktor perubahan hormonal saja.

Menjelaskan akan hal tersebut, Guru Besar Psikiatri Subspesialis Anak dan Remaja FKUI-RSCM, Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, SpKJ, SubSp A.R. (K), MIMH menjelaskan, perubahan hormonal pada dasarnya memang kerap mengubah perilaku para remaja.

“Remaja itu terjadi perubahan hormonal misalnya testosteron pada anak laki-laki menyebabkan perilaku impulsif, agresif. Pada perempuan peningkatan estrogen sehingga membuatnya menjadi irritable,” jelas Prof. Tjhin dalam konferensi pers 'Compliance and Care, a road to recovery for individual with Bipolar and Schizophernia', Rabu (14/5/2025).

Untuk itu, membedakan apakah kondisi remaja itu perubahan hormonal alami atau gangguan mental biasanya dilihat dari perilakunya. Prof. Tjhin mengatakan, biasanya, remaja yang alami gangguan mental akan adanya distress atau disability.

Hal tersebut akan membuat remaja tersebut merasa terisolasi, sulit interaksi, serta komunikasi sehari-harinya akan terganggu. Tanda-tanda tersebut bisa menjadi sinyal adanya kemungkinan gangguan mental seperti skizofrenia maupun bipolar.

“Sebenarnya kalau kita kembali lagi apakah ini perubahan memang normal atau memang sedang menuju ke arah suatu gangguan mental seperti schizophrenia atau bipolar pastinya kembali lagi melihat yang namanya ada kendala atau tidak,” ujarnya.

Konferensi pers 'Compliance and Care, a road to recovery for individual with Bipolar and Schizophernia', Rabu (14/5/2025). (Suara.com/Fajar Ramadhan)
Konferensi pers 'Compliance and Care, a road to recovery for individual with Bipolar and Schizophernia', Rabu (14/5/2025). (Suara.com/Fajar Ramadhan)

“Adanya distres atau disability atau tidak. Distres artinya karena kondisi emosinya tidak seperti orang-orang pada umumnya tentunya akan menjadi terisolasi tidak diterima, dalam bentuk budaya seperti tidak bisa sekolah, bersosialisasi dengan baik nah ini merupakan tanda adanya gangguan dan bukan bagian dari perkembangan hormonal,” sambung Prof. Tjhin.

baca juga

Sementara perubahan perilaku remaja yang normal karena hormonal, biasanya tidak mengganggu fungsinya. Remaja tersebugt masih bisa berprestasi dan menjalani fungsi sosialnya dengan baik.

“Kalo remaja dengan perubahan hormonal misalnya perubahan perilaku dan emosi secara normal karena estrogen, progesteron, atau testosteron yang tinggi dia tetap bisa sekolah dengan baik dan tetap bisa berprestasi dengan baik sosialisasi nya juga baik oleh sebab itu ini bisa menjadi cara untuk melihat apakah emosi yang dialaminya berlebihan atau tidak,” jelas Prof. Tjhin.

Tentang Bipolar dan Skizofrenia

Terkait gangguan bipolar maupun skizofrenia memang menjadi masalah yang tidak bisa dianggap remeh. Bagi pengidap skizofrenia, biasanya mereka sulit membedakan antara ilusi dan kenyataan. Hal ini membuat mereka sering kesulitan untuk mengendalikan emosi serta perasaannya dalam kondisi tertentu.

Sementara bipolar disorder atau gangguan bipolar merujuk kepada kondisi kejiwaan yang membuat pengidapnya sering mengalami perubahan mood yang ekstrem. Mereka biasanya alami beberapa episode. Mulai dari episode mania, depresi atau suasana sedih mendalam dan keinginan bunuh diri, hiperaktif, bahagia, dan lainnya.

Melihat pentingnya hal tersebut, Country Group Head Wellesta CPI, Hanadi Setiarto mengatakan, Wallesta berkomitmen terhadap kesehatan dan kualitas hidup pasien, termasuk untuk pasien depresi dengan GB I dan Skizofrenia.

Oleh sebab itu, penting meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat terkait kondisi penyakit mental yang terkadang tidak disadari. Pihaknya juga bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dalam membantu individu dengan GB I dan Skizofrenia.

“Kolaborasi ini diharapkan mampu meningkat awareness masyarakat sehingga mereka memahami gejala awal, memberikan dukungan kepada individu tersebut, dan ke depannya mereka mengetahui kepada siapa mencari bantuan yang tepat dan mencegah disabilitas jangka panjang,” ujar Hanadi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sus Rini Lulusan Apa? Caranya Ajari Rayyanza Kenali Emosi Dipuji bak Psikolog

Sus Rini Lulusan Apa? Caranya Ajari Rayyanza Kenali Emosi Dipuji bak Psikolog

Lifestyle | Jum'at, 16 Mei 2025 | 08:16 WIB

5 Rekomendasi Sabun Cuci Muka untuk Remaja, Bahan Aman dan Harga Terjangkau

5 Rekomendasi Sabun Cuci Muka untuk Remaja, Bahan Aman dan Harga Terjangkau

Lifestyle | Kamis, 15 Mei 2025 | 20:11 WIB

Fenomena Klithih di Jogja: Masalah dan Solusi dari Perspektif Generasi Muda

Fenomena Klithih di Jogja: Masalah dan Solusi dari Perspektif Generasi Muda

Your Say | Kamis, 15 Mei 2025 | 06:24 WIB

Terkini

Lansia Tembus 34 Juta Jiwa! Pelayanan Sosial Perlu Diubah, Jangan Cuma Jadi Objek Bansos

Lansia Tembus 34 Juta Jiwa! Pelayanan Sosial Perlu Diubah, Jangan Cuma Jadi Objek Bansos

News | Rabu, 30 September 2026 | 06:00 WIB

Leo/Daniel Raih Emas Ganda Putra Asian Games 2026

Leo/Daniel Raih Emas Ganda Putra Asian Games 2026

Foto | Rabu, 30 September 2026 | 06:00 WIB

KAI Pastikan Masinis Tak Sendirian Hadapi Proses Hukum Insiden Bekasi

KAI Pastikan Masinis Tak Sendirian Hadapi Proses Hukum Insiden Bekasi

Foto | Rabu, 30 September 2026 | 05:00 WIB

16 Korporasi Disidik Kasus Karhutla Sumsel, Mengapa Identitasnya Belum Dibuka ke Publik?

16 Korporasi Disidik Kasus Karhutla Sumsel, Mengapa Identitasnya Belum Dibuka ke Publik?

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 23:02 WIB

Diduga Bakar Rumah Orang Tua, Perempuan 23 Tahun Diamankan Polisi

Diduga Bakar Rumah Orang Tua, Perempuan 23 Tahun Diamankan Polisi

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 23:02 WIB

Manfaatkan Potensi Lokal, Kelompok Ternak APTUR Kembangkan Usaha Perikanan dan Peternakan

Manfaatkan Potensi Lokal, Kelompok Ternak APTUR Kembangkan Usaha Perikanan dan Peternakan

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 22:53 WIB

Bank Sumsel Babel Perkuat Kepedulian Kesehatan Lewat CSR Operasi Mata

Bank Sumsel Babel Perkuat Kepedulian Kesehatan Lewat CSR Operasi Mata

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 22:22 WIB

Erick Thohir: Persaingan FIFA ASEAN Cup Makin Ketat, Indonesia Tak Boleh Anggap Remeh Lawan

Erick Thohir: Persaingan FIFA ASEAN Cup Makin Ketat, Indonesia Tak Boleh Anggap Remeh Lawan

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 22:17 WIB

Industri Mamin Tumbuh 7,04 Persen, MoreFood Expo 2027 Bidik Pasar Lebih Luas

Industri Mamin Tumbuh 7,04 Persen, MoreFood Expo 2027 Bidik Pasar Lebih Luas

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 22:13 WIB

Karhutla TNBS Jambi Tinggal 2 Kilometer dari Habitat Harimau, Api Belum Berhasil Dipadamkan

Karhutla TNBS Jambi Tinggal 2 Kilometer dari Habitat Harimau, Api Belum Berhasil Dipadamkan

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 22:13 WIB

×