Sering Terlupakan, Dampak Krisis Iklim Terhadap Kesehatan Mental Juga Perlu Diperhatikan

M. Reza Sulaiman

Rabu, 28 Mei 2025 | 13:49 WIB
Sering Terlupakan, Dampak Krisis Iklim Terhadap Kesehatan Mental Juga Perlu Diperhatikan
Ilustrasi dampak krisis iklim pada kesehatan mental (Freepik/Rawpixel)

Suara.com - Krisis iklim bukan hanya memicu kebakaran hutan, banjir, atau gelombang panas. Di balik bencana-bencana yang menghiasi layar berita, ada dampak senyap yang tak kalah serius, tekanan terhadap kesehatan mental masyarakat.

Sebuah studi penting yang dipublikasikan di jurnal Nature mengungkap betapa dunia masih tertinggal jauh dalam mengantisipasi krisis ini dari sisi psikososial. Studi yang dipimpin oleh Siqi Xue dan kolaborator seperti Britt Wray dan Emma L. Lawrance ini adalah scoping review pertama yang menganalisis intervensi kesehatan mental dan psikososial dalam konteks perubahan iklim.

Peneliti mengungkap bahwa krisis iklim memicu berbagai gangguan psikologis, mulai dari depresi, kecemasan, hingga PTSD (post-traumatic stress disorder). Namun yang paling menarik, penelitian ini mengangkat fenomena  yang disebut sebagai “climate emotions”. Apa itu?

Istilah climate emotions merujuk pada emosi yang timbul bukan karena terkena langsung dampak bencana, tetapi karena kesadaran akan krisis iklim itu sendiri. Emosi ini bisa berupa:

  1. Kegelisahan mendalam tentang masa depan bumi
  2. Rasa bersalah karena merasa tidak cukup berkontribusi dalam menjaga lingkungan
  3. Ketakutan akan ketidakpastian, terutama bagi generasi muda yang merasa mewarisi planet yang rusak

Britt Wray, salah satu peneliti dalam studi tersebut dan penulis buku Generation Dread, menyebut fenomena ini sebagai “eco-anxiety” atau kecemasan ekologis—perasaan takut kronis terhadap bencana lingkungan yang berlangsung dan akan datang.

Fenomena ini muncul akibat paparan informasi terus-menerus tentang krisis iklim, baik dari berita, media sosial, maupun kampanye lingkungan. Sementara kesadaran sangat penting, paparan berlebihan tanpa ruang untuk harapan dan aksi justru bisa melumpuhkan mental.

Ilustrasi stres, tekanan mental, kesehatan mental buruk. (Pixabay/Marfa Bogdanovskaya)
Ilustrasi stres, tekanan mental, kesehatan mental buruk. (Pixabay/Marfa Bogdanovskaya)

Riset dari American Psychological Association (APA) juga mencatat bahwa narasi bencana yang tidak diimbangi dengan solusi dapat memperkuat rasa tidak berdaya.

Anak-anak dan remaja menjadi kelompok paling rentan. Studi Lancet Planetary Health tahun 2021 menemukan bahwa lebih dari 45% anak muda di seluruh dunia merasa “climate anxiety” memengaruhi fungsi sehari-hari mereka, termasuk gangguan tidur, kesulitan konsentrasi, dan isolasi sosial.

Beberapa gejala umum dari climate emotions meliputi:

  • Pikiran terus-menerus tentang bencana lingkungan
  • Merasa putus asa atau sedih saat membaca berita iklim
  • Rasa bersalah saat menggunakan plastik sekali pakai atau naik kendaraan bermotor
  • Menjauh dari percakapan iklim karena merasa terlalu cemas
  • Ketidakmampuan membayangkan masa depan secara positif

Apa yang Bisa Dilakukan?

Para ahli menyarankan pendekatan berbasis harapan dan aksi. Dengan begitu, pikiran tidak lagi terfokus pada dampak buruk tapi juga apa yang bisa dilakukan untuk menyelesaikannya.

“Kecemasan iklim adalah respons yang sehat terhadap realitas yang tidak sehat,” ujar Britt Wray.

Tapi untuk mencegahnya berkembang menjadi gangguan serius, laman resmi APA menyebut kita perlu melakukan beberapa hal, antara lain:

  • Membangun komunitas yang mendukung diskusi terbuka soal iklim
  • Mengakses terapi atau konseling jika gejala berlanjut
  • Berpartisipasi dalam aksi kolektif, seperti kegiatan penanaman pohon atau kampanye lingkungan
  • Mengatur konsumsi media, dengan mencari sumber informasi yang menyertakan solusi, bukan hanya masalah

Harapan dari Inovasi dan Pendekatan Komunitas

Alih-alih terjebak dalam pesimisme, penelitian ini justru menawarkan peluang besar soal perlunya dibangun pusat pengetahuan daring (online hub) yang menghimpun intervensi yang sudah ada, membagikannya, dan memperkuat pembelajaran lintas komunitas dan negara.

Pendekatan berbasis bukti, gotong royong lintas sektor, dan pembaruan kebijakan dapat menjadi fondasi kuat untuk memiliki masa depan yang lebih cerah.

Di Indonesia, peluang ini seharusnya tidak disia-siakan. Dengan tingkat kerentanan iklim yang tinggi—seperti banjir musiman, kekeringan, dan kebakaran hutan—pemerintah dan organisasi masyarakat sipil perlu menjadikan kesehatan mental sebagai bagian dari strategi adaptasi iklim.

Pendekatan yang terintegrasi antara sektor lingkungan, kesehatan, dan sosial adalah kunci untuk membangun ketangguhan bersama.

Krisis iklim memang menekan, tetapi dari tekanan itu bisa lahir empati, solidaritas, dan solusi yang memulihkan. Dunia mungkin tertinggal dalam hal intervensi kesehatan mental iklim, namun setiap intervensi kecil yang dilakukan hari ini adalah investasi besar untuk masa depan yang lebih sehat—bagi planet, dan bagi jiwa-jiwa yang menghuninya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kelaparan di Sudan Jadi Pengingat: Dampak Pemanasan Global Nyatanya Mempengaruhi Isi Piring

Kelaparan di Sudan Jadi Pengingat: Dampak Pemanasan Global Nyatanya Mempengaruhi Isi Piring

News | Rabu, 28 Mei 2025 | 11:17 WIB

Pria dan Kesehatan Mental: Masculinity Trap hingga Stigma Lemahnya Iman

Pria dan Kesehatan Mental: Masculinity Trap hingga Stigma Lemahnya Iman

Your Say | Rabu, 28 Mei 2025 | 10:42 WIB

Transportasi Bersih untuk Masa Depan Asia: Enam Langkah Menghadapi Krisis Iklim

Transportasi Bersih untuk Masa Depan Asia: Enam Langkah Menghadapi Krisis Iklim

News | Selasa, 27 Mei 2025 | 18:35 WIB

Terkini

Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining

Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining

Health | Jum'at, 29 Mei 2026 | 21:33 WIB

Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem

Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem

Health | Jum'at, 29 Mei 2026 | 11:18 WIB

Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 23:06 WIB

Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 17:41 WIB

Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak

Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:27 WIB

Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan

Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 09:44 WIB

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 11:09 WIB

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 09:22 WIB

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Health | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:23 WIB

Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita?

Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita?

Health | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:00 WIB