Langkah Tepat Pengobatan Kanker Ovarium: Masa Remisi Lebih Panjang Hingga Tahunan

Ruth Meliana, Rosiana Chozanah

Sabtu, 04 Oktober 2025 | 16:15 WIB
Langkah Tepat Pengobatan Kanker Ovarium: Masa Remisi Lebih Panjang Hingga Tahunan
Ilustrasi kanker ovarium (Freepik)
baca 10 detik
  • Kanker ovarium sering terdeteksi pada stadium lanjut karena gejalanya tidak spesifik, sehingga penanganan sejak awal dan terapi lanjutan yang berkesinambungan sangat penting untuk menekan risiko kekambuhan.

  • Operasi dengan prinsip zero residu dan kemoterapi terjadwal menjadi langkah krusial, namun tantangan tetap ada di fase remisi.

  • Pemeriksaan HRD dan BRCA serta pemberian maintenance therapy berbasis PARP inhibitor seperti Olaparib terbukti memperpanjang masa bebas penyakit dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Suara.com - Kanker ovarium masih menjadi salah satu masalah serius yang dihadapi perempuan di Indonesia. Akibat gejala yang tidak khas, banyak kasus baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut.

Meski pasien telah menjalani operasi dan kemoterapi, risiko kekambuhan tetap tinggi, terutama dalam tiga tahun pertama. Hal ini menegaskan perlunya penanganan yang menyeluruh dan berkesinambungan sejak tahap awal hingga terapi lanjutan.

Keberhasilan dalam menangani kanker ovarium bergantung pada rangkaian terapi yang saling mendukung.

Salah satu langkah krusial adalah operasi dengan prinsip zero residu, yaitu memastikan tidak ada sisa tumor yang terlihat. Pendekatan ini terbukti dapat memperpanjang harapan hidup pasien.

Setelah prosedur bedah, pasien perlu melanjutkan kemoterapi sesuai jadwal yang telah ditentukan agar efektivitas pengobatan tetap terjaga.

Namun, tantangan belum selesai saat pasien memasuki fase remisi. Pada kanker ovarium stadium lanjut, tingkat kekambuhan tergolong tinggi, sehingga banyak pasien harus kembali menjalani kemoterapi berulang.

Sayangnya, peluang untuk mencapai remisi kembali biasanya lebih pendek, dan risiko kematian pun meningkat. Kondisi ini menegaskan pentingnya strategi pengobatan yang berkelanjutan dan terintegrasi sejak awal.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Onkologi (Sp.OG (K) Onk), Muhammad Yusuf, menjelaskan pentingnya komitmen pasien dalam menjalani proses penanganan kanker ovarium pada acara edukasi “Mengenal Kanker Ovarium dan Terapi Inovatifnya”.

“Mayoritas pasien kanker ovarium baru terdiagnosis pada stadium 3 atau 4 akibat gejala awal yang tidak spesifik dan belum adanya metode skrining yang efektif," tutur Yusuf dalam keterangan tertulis, Sabtu (4/10/2025).

baca juga

"Risiko kekambuhan setelah kemoterapi awal pun sangat tinggi. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran pasien terhadap proses pengobatan lanjutan sangatlah penting agar penanganan dapat dilakukan secara tepat,” sambungnya.

Panduan internasional seperti ESMO dan NCCN menekankan pentingnya pemeriksaan HRD (Homologous Recombination Deficiency) dan BRCA1/2 segera setelah operasi pada pasien kanker ovarium. Kemudian, dilanjutkan dengan maintenance therapy.

Diketahui, sekitar 50 persen pasien kanker ovarium stadium lanjut memiliki status HRD-positif, termasuk yang tidak memiliki mutasi BRCA. HRD adalah kondisi dimana tubuh tidak dapat memperbaiki kerusakan pada DNA.

Status tersebut juga menjadi penanda biologis (biomarker) penting dalam menentukan apakah pasien layak mendapat maintenance therapy berbasis PARP (Poly ADP-Ribose Polymerase) inhibitor seperti penggunaan obat Olaparib.

Berdasarkan studi PAOLA-, pasien kanker ovarium dengan status HRD-positif yang menjalani maintenance therapy menggunakan obat Olaparib dan Bevacizumab terbukti memiliki masa bebas penyakit hingga 37 bulan.

Sementara itu, studi SOLO-1 membuktikan bahwa pasien dengan mutasi BRCA yang menggunakan Olaparib memiliki risiko progresi 70 persen lebih rendah, dan hampir setengahnya tetap dalam remisi setelah lima tahun.

Pasien kanker ovarium perlu memahami pentingnya pemeriksaan HRD dan menjalani maintenance therapy secara optimal, sehingga peluang memperpanjang masa bebas penyakit dan meningkatkan kualitas hidup lebih besar.

“Akses terhadap pemeriksaan HRD dan maintenance therapy bagi pasien kanker ovarium di Indonesia sangat penting. Kami berharap lebih banyak pasien di Indonesia dapat memperoleh manfaat dari maintenance therapy, sehingga kualitas hidup mereka semakin baik,” tandas Medical Director AstraZeneca Indonesia, Feddy.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Fenomena Banyak Pasien Kanker Berobat ke Luar Negeri Lalu Lanjut Terapi di Indonesia, Apa Sebabnya?

Fenomena Banyak Pasien Kanker Berobat ke Luar Negeri Lalu Lanjut Terapi di Indonesia, Apa Sebabnya?

Health | Jum'at, 03 Oktober 2025 | 08:01 WIB

Terapi Imunologi Sel: Inovasi Perawatan Kesehatan untuk Berbagai Penyakit Kronis

Terapi Imunologi Sel: Inovasi Perawatan Kesehatan untuk Berbagai Penyakit Kronis

Health | Senin, 22 September 2025 | 22:52 WIB

Rusia Luncurkan Vaksin EnteroMix: Mungkinkah Jadi Era Baru Pengobatan Kanker?

Rusia Luncurkan Vaksin EnteroMix: Mungkinkah Jadi Era Baru Pengobatan Kanker?

Health | Selasa, 09 September 2025 | 14:28 WIB

Terkini

Harga Nasional Cabai Rawit Merah Anjlok 18,84 Persen, Kini Dijual Rp83.550 per Kg

Harga Nasional Cabai Rawit Merah Anjlok 18,84 Persen, Kini Dijual Rp83.550 per Kg

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 10:53 WIB

Cara Membedakan Sepatu Nike Air Force 1 Asli dan Palsu Sebelum Beli di Online Shop

Cara Membedakan Sepatu Nike Air Force 1 Asli dan Palsu Sebelum Beli di Online Shop

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 10:53 WIB

Kapal Perempuan: Banyak APH Belum Terapkan UU TPKS dalam Kasus Kekerasan Seksual

Kapal Perempuan: Banyak APH Belum Terapkan UU TPKS dalam Kasus Kekerasan Seksual

Sulsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 10:46 WIB

Ancaman Krisis Pangan 2027, tapi MBG Berisiko Membuang Jutaan Ton Makanan?

Ancaman Krisis Pangan 2027, tapi MBG Berisiko Membuang Jutaan Ton Makanan?

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 10:45 WIB

Tembus Grand Final, 5 Tim Futsal Putri Maju ke Puncak AXIS Nation Cup 2026

Tembus Grand Final, 5 Tim Futsal Putri Maju ke Puncak AXIS Nation Cup 2026

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 10:44 WIB

Heboh Dituduh Jadi Sponsor Demo di Bundaran HI, Le Minerale Buka Suara

Heboh Dituduh Jadi Sponsor Demo di Bundaran HI, Le Minerale Buka Suara

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 10:41 WIB

BB Cream Emina Apakah Waterproof? Intip Formula dan Ketahanannya

BB Cream Emina Apakah Waterproof? Intip Formula dan Ketahanannya

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 10:39 WIB

5 Zodiak yang Jago Menawar Harga saat Belanja, Bukan Pelit tapi Cerdik

5 Zodiak yang Jago Menawar Harga saat Belanja, Bukan Pelit tapi Cerdik

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 10:35 WIB

Presiden Apresiasi Perjuangan Atlet di Asian Games, Komitmen Tingkatkan Bina Olahraga Sejak Dini

Presiden Apresiasi Perjuangan Atlet di Asian Games, Komitmen Tingkatkan Bina Olahraga Sejak Dini

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 10:30 WIB

Huawei FreeClip 2 Dual Color Rilis: TWS Unik dengan Desain Jepit Telinga dan Baterai Awet

Huawei FreeClip 2 Dual Color Rilis: TWS Unik dengan Desain Jepit Telinga dan Baterai Awet

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 10:30 WIB

×