Kisah Ibu Tunggal Anak Meninggal akibat Difteri Lupa Imunisasi, Dihantui Penyesalan!

Yasinta Rahmawati, Dini Afrianti Efendi

Minggu, 19 Oktober 2025 | 12:00 WIB
Kisah Ibu Tunggal Anak Meninggal akibat Difteri Lupa Imunisasi, Dihantui Penyesalan!
Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan RI, Prima Yosephine mendorong Sepekan Mengejar Imunisasi (PENARI) di Jakarta, Rabu (15/10/2025) (Suara.com/Dini Afrianti)
  • Kisah duka dibagikan oleh Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan RI, Prima Yosephine.
  • Kisah itu perihal seorang ibu yang lupa memastikan anaknya mendapat imunisasi DT (kombinasi difteri dan tetanus).
  • Kalalaian tersebut berujung peristiwa tragis.

Suara.com - Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan RI, Prima Yosephine membagikan kisah duka tentang seorang ibu tunggal yang kehilangan buah hatinya karena sakit difteri, padahal penyakit itu seharusnya bisa dicegah dengan imunisasi.

Kisah ini diperoleh Prima melalui platform TikTok dan sukses membuatnya terbawa emosi kesedihan. Ia bercerita, sang ibu yang memiliki dua anak, anak pertama perempuan dan anak kedua laki-laki. Sang ibu tengah disibukkan dengan masalah rumah tangga hingga harus berpisah dengan suami.

Singkat cerita, karena kesibukannya, sang ibu sampai lupa memastikan buah hatinya mendapat imunisasi DT (kombinasi difteri dan tetanus) tambahan atau booster saat anak memasuki usia sekolah. Padahal, saat masih bayi, imunisasi anak tersebut sudah lengkap.

“Kemudian anak itu anak kelas 1 atau kelas 2 SD, tapi tidak pernah mendapat BIAS atau Bulan Imunisasi Anak Sekolah. Dia hanya lengkap waktu bayi. Sampai masuk sekolah nggak lengkap lagi, karena dia disibukkan dengan single parents mencari nafkah, karena ibu ini punya dua anak,” ujar Prima dalam diskusi Sukseskan Sepekan Mengejar Imunisasi (PENARI) di Jakarta, Rabu (15/10/2025).

Dari dua anak tersebut, anak kedua — sang adik laki-laki — jatuh sakit dengan gejala demam seperti flu biasa. Sang ibu kemudian membawanya berobat dan rumah sakit menganggapnya flu biasa, sehingga hanya diberi obat sesuai penanganan flu pada anak.

Perlu diketahui, difteri merupakan penyakit menular yang menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan. Gejalanya memang sering menyerupai influenza, bahkan bisa tidak bergejala padahal berpotensi mengancam nyawa.

Nahas, bukannya sembuh, anak tersebut justru mengalami sesak napas hingga harus dilarikan ke unit gawat darurat (UGD). Dari situ baru diketahui bahwa sang anak terserang difteri.

Kondisinya tergolong berat hingga harus menjalani trakeostomi yaitu pembuatan lubang di batang tenggorokan sebagai alat bantu pernapasan dan dirawat di unit perawatan intensif (ICU).

"Nggak sembuh, dia bawa anaknya itu sudah mulai sesak, dia bawa ke rumah sakit ternyata difteri dan anak ini langsung masuk ICU dan gawat ditrecktomi, dikasih ADS (serum antidifteri) waktu itu ada, tapi nggak kekejar, singkat cerita anak meninggal dunia," cerita Prima.

Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan RI, Prima Yosephine mendorong Sepekan Mengejar Imunisasi (PENARI)  di Jakarta, Rabu (15/10/2025) (Suara.com/Dini Afrianti)
Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan RI, Prima Yosephine mendorong Sepekan Mengejar Imunisasi (PENARI) di Jakarta, Rabu (15/10/2025) (Suara.com/Dini Afrianti)

Di tahap ini, Prima mengaku sangat emosional. Ia begitu mengingat ketegaran sang ibu yang berasal dari luar Pulau Jawa, yang tetap tegar mengabadikan berbagai momen pengobatan anaknya.

Puncak haru terjadi ketika ibu tersebut, dalam kesedihannya, meminta maaf kepada sang buah hati karena terlalu larut dalam perasaan ditinggal suami hingga mengabaikan imunisasi penting bagi anaknya.

"Dan pesan terakhirnya adalah, saya salah, saya minta maaf untuk anaknya ini kalau nanti kamu tanya kenapa ibu sampai ignore tidak melengkapi imunisasi kamu," ungkap Prima menceritakan kisah yang ia simak.

"Saya terlalu mementingkan diri saya sendiri, mencari-cari kesalahan kenapa suami saya meninggalkan saya sendiri, kenapa saya begini, saya begitu sampai lupa tanggung jawab saya," sambungnya.

Sang ibu kemudian mengungkapkan penyesalan mendalam, karena penyakit yang diderita anaknya seharusnya bisa dicegah. Terlebih, pemerintah sudah menyediakan program imunisasi DT secara cuma-cuma. Ironisnya, kakak dari anak tersebut juga ikut tertular penyakit yang sama.

"Padahal kamu tidak perlu sampai meninggal dunia, karena penyakitmu ini harusnya nggak kamu derita sudah ada ada imunisasinya," lanjut Prima.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Biar Anak Tumbuh Sehat dan Kuat, Imunisasi Dasar Jangan Terlewat

Biar Anak Tumbuh Sehat dan Kuat, Imunisasi Dasar Jangan Terlewat

Health | Jum'at, 10 Oktober 2025 | 18:34 WIB

ASI Itu Bodyguard, Vaksin Itu Sniper: Kenapa Bayi Butuh Dua-duanya, Bukan Cuma Salah Satunya!

ASI Itu Bodyguard, Vaksin Itu Sniper: Kenapa Bayi Butuh Dua-duanya, Bukan Cuma Salah Satunya!

Your Say | Kamis, 04 September 2025 | 19:39 WIB

Waspada! Menkes Sebut Campak 18 Kali Lebih Menular dari COVID-19, KLB Mengancam Sejumlah Wilayah

Waspada! Menkes Sebut Campak 18 Kali Lebih Menular dari COVID-19, KLB Mengancam Sejumlah Wilayah

Health | Jum'at, 29 Agustus 2025 | 01:46 WIB

Terkini

Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi

Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi

Health | Jum'at, 12 Juni 2026 | 12:50 WIB

Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW

Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW

Health | Jum'at, 12 Juni 2026 | 09:06 WIB

Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia

Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia

Health | Kamis, 11 Juni 2026 | 21:51 WIB

Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut

Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut

Health | Rabu, 10 Juni 2026 | 17:20 WIB

Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?

Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?

Health | Selasa, 09 Juni 2026 | 16:57 WIB

Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?

Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?

Health | Selasa, 09 Juni 2026 | 14:09 WIB

Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai

Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai

Health | Selasa, 09 Juni 2026 | 11:10 WIB

Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional

Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional

Health | Selasa, 09 Juni 2026 | 08:05 WIB

Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus

Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus

Health | Senin, 08 Juni 2026 | 16:48 WIB

Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?

Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?

Health | Senin, 08 Juni 2026 | 14:30 WIB