- Dr. Ray Wagiu Basrowi menyatakan keluhan lelah dan malas pada mahasiswa merupakan sinyal distress mental yang nyata.
- Mahasiswa dapat mengatasi stres melalui mekanisme coping harian atau proses penyembuhan psikologis mendalam yang disebut healing.
- FIB UI menekankan pentingnya bantuan profesional jika mahasiswa mengalami gangguan mental berkelanjutan demi menjaga kualitas kesehatan psikologis.
Suara.com - Generasi muda, khususnya para mahasiswa saat ini sudah banyak yang mulai buka mata mengenai isu kesehatan mental. Tidak sedikit para mahasiswa menyuarakan isu kesehatan mental melalui media sosial pribadinya.
Namun, terkadang permasalahan kesehatan mental ini sering banyak tidak disadari. Peneliti sekaligus founder Health Collaborative Center (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK., FRSPH mengungkap, beberapa mahasiswa masih tidak menyadari hal-hal sepele yang bisa memengaruhi kesehatan mental.
Dalam penjelasannya, Dr. Ray menyinggung terkait mahasiswa yang kerap mengeluhkan beragam masalah mulai dari rasa lelah sampai malas melakukan sesuatu. Hal-hal ini kerap dianggap sepele bagi mahasiswa. Namun, ini sebenarnya menjadi sinyal adanya distress mental yang nyata.
“Kalimat seperti ‘capek’, ‘udah lah’, ‘terserah’, atau ‘nggak tahu mau ngapain lagi’ sering dianggap biasa, padahal pada konteks tertentu bisa menjadi sinyal distress mental yang nyata,’ ungkap Dr. Ray dalam Kuliah Umum ILUNI FIB UI, Selasa (28/4/2026).
Terkait berbagai keluhan ini, biasanya kerap mahasiswa berkaitan erat dengan tekanan akademik, ketidakpastian masa depan, tekanan sosial media, serta budaya menahan beban sendirian.
“Mahasiswa hari ini sering dituntut tampil baik-baik saja. Padahal banyak yang sedang bertahan, bukan berkembang,” sambungnya.
Dengan kondisi stres yang menumpuk itu jika tidak ditangani justru bisa berdampak parah. Hal ini bisa menyebabkan berbagai masalah mental.

Healing dan Coping Mechanism
Saat mengalami stres atau perasaan lelah, hal ini bisa dibantu dengan healing atau coping mechanism. Dr Ray mengungkap coping mechanism menjadi cara untuk menghadapi stres. Dalam hal ini, coping mechanism bisa berupa berbagai hal yang membantu menghilangkan rasa stress.
“Coping mechanism itu cara orang menghadapi stres saat ini dan mekanismenya bisa macam-macam, misalnya bisa olahraga, bisa jurnaling, bisa bicara dengan teman,” jelas Dr. Ray.
Sementara untul healing, merupakan proses pemulihan yang jauh lebih dalam. Dr. Ray menuturkan, jika coping mechanism sebagai cara harian menghadapi stres, healing menjadi proses pemulihan dari masalah yang dialami.
“Kalau healing itu udah lebih dalam, udah proses pemulihan luka psikologis, butuh waktu. Jadi kalau coping itu kayak alat harian, (nah healing itu kayak perjalanan gitu kan, prosesnya lebih banyak dan sudah harus ada diagnostik,” tuturnya.
Terkait healing ini juga tidak selalu berkaitan dengan pergi ke suatu tempat. Lantaran, fokus utama healing ini adalah penyembuhan. Oleh sebab itu, healing bisa hanya dengan tidur yang cukup atau bicara dengan orang lain.
Kapan Butuh Bantuan Profesional?
Namun, ketika permasalahan yang dialami sudah terlalu rumit, mahasiswa juga bisa meminta bantuan profesional. Dalam hal ini, Dr. Ray mengungkap beberapa kondisi mahasiswa yang butuh bantuan profesional.
Kondisi itu bisa berupa sedih yang tak kunjung hilang, sulit memahami proses perkuliahaan, gangguan tidur, menarik diri, panik berulang, sampai keinginan untuk menyakiti diri sendiri. Jika kondisi tersebut terjadi, Dr. Ray menyarankan untuk meminta bantuan profesional.
“Bantuan profesional itu ingat bukan tanda lemah, tapi tanda serius kita care, dan mau merawat diri,” pungkasnya.
Dalam menggaungkan kepedulian mahasiswa terhadap kesehatan mental ini Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) bersama Ikatan Alumni FIB UI (ILUNI FIB UI) menyelenggarakan Seri Kuliah Umum Alumni FIB UI (KUALI #2) bertajuk “Membangun Kesadaran Kesehatan Mental Mahasiswa dalam Perspektif Humaniora di Era Modern.
Acara ini menegaskan bahwa isu kesehatan mental mahasiswa tidak lagi dapat dipandang semata sebagai persoalan individual, tetapi merupakan isu strategis pendidikan tinggi yang menyangkut kualitas pembelajaran, ketahanan generasi muda, serta masa depan bangsa.
Dekan FIB UI Dr Untung Yuwono menekankan bahwa fakultas humaniora memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk membaca persoalan mental health secara lebih utuh.
Menurutnya, universitas tidak cukup hanya menghasilkan lulusan cerdas, tetapi juga manusia yang resilien, berempati, dan mampu hidup sehat secara psikologis.
“Karena itu, kampus humaniora harus menjadi pelopor ruang belajar yang sehat secara mental, aman secara emosional, dan kuat secara intelektual,” kata Dr Untung.