- Mastitis adalah peradangan jaringan payudara akibat saluran ASI tersumbat yang dapat memicu abses jika tidak segera ditangani.
- Gejala mastitis meliputi nyeri payudara, demam, dan menggigil yang memerlukan penanganan medis untuk mencegah komplikasi serius bagi ibu.
- Ibu menyusui diimbau segera berkonsultasi ke dokter dan menghindari pijatan keras pada payudara yang dapat memperparah kerusakan jaringan.
Suara.com - Banyak ibu menyusui menganggap nyeri dan bengkak pada payudara sebagai masalah yang wajar terjadi setelah melahirkan. Padahal, keluhan yang awalnya tampak ringan bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih serius apabila tidak ditangani dengan tepat.
Salah satunya adalah mastitis, peradangan pada jaringan payudara yang dapat berujung pada terbentuknya abses atau kantung nanah yang memerlukan tindakan medis hingga pembedahan.
Menurut dr. Natalia Maria Christina, Sp.B, Dokter Spesialis Bedah Umum di Bethsaida Hospital Gading Serpong, ibu menyusui perlu lebih waspada ketika nyeri payudara disertai gejala lain seperti demam, menggigil, dan tubuh terasa tidak enak badan.
“Ibu perlu memperhatikan apakah keluhan hanya terasa di satu area payudara, atau sudah disertai demam, menggigil, dan rasa tidak enak badan. Gejala sistemik seperti ini dapat mengarah ke mastitis dan perlu pemeriksaan lebih lanjut,” jelas dr. Natalia.
Secara medis, mastitis merupakan kondisi peradangan pada jaringan payudara yang umumnya diawali oleh saluran ASI yang tersumbat. Ketika ASI tidak dapat mengalir dengan lancar, cairan tersebut tertahan di dalam jaringan payudara dan memicu bendungan.
Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, peradangan dapat berkembang menjadi mastitis. Pada beberapa kasus, infeksi juga dapat terjadi akibat masuknya bakteri melalui puting yang lecet atau mengalami luka.
Karena itu, mastitis bukan sekadar masalah nyeri saat menyusui. Jika terlambat ditangani, peradangan dapat semakin berat dan menyebabkan terbentuknya abses payudara.
Kondisi ini terjadi ketika infeksi membentuk kantung berisi nanah di dalam jaringan payudara. Selain menimbulkan nyeri yang jauh lebih hebat, abses juga dapat mengganggu proses menyusui dan memerlukan tindakan medis yang lebih kompleks.
Menurut dr. Natalia, banyak ibu yang datang berobat setelah kondisi peradangan sudah cukup berat. Padahal, penanganan sejak awal dapat mencegah terjadinya komplikasi.
“Jangan remehkan demam tinggi serta payudara yang mengeras dan memerah saat menyusui. Mastitis yang tidak cepat ditangani bisa berkembang menjadi abses atau kantung nanah di dalam payudara," jelasnya.
Jika sudah sampai tahap abses, kata dr. Natalia, penanganannya tidak cukup dengan obat-obatan, melainkan harus melalui tindakan pembedahan kecil atau drainase untuk mengeluarkan nanah tersebut.
Penanganan mastitis sendiri bergantung pada tingkat keparahan kondisi yang dialami. Pada tahap awal, ibu dianjurkan tetap menyusui secara rutin untuk membantu pengosongan payudara.
Selain itu, bisa juga dilakukan melakukan kompres yang sesuai, memperbaiki posisi menyusui, serta menjaga kondisi tubuh tetap fit dengan istirahat dan asupan cairan yang cukup.
Namun ketika gejala tidak membaik dalam waktu 24 hingga 48 jam atau muncul tanda-tanda infeksi yang lebih berat, pemeriksaan dokter menjadi langkah yang tidak boleh ditunda.
Selain itu, dr. Natalia juga mengingatkan agar ibu tidak melakukan pijatan keras pada payudara yang bengkak dengan harapan dapat menghilangkan sumbatan lebih cepat. Cara tersebut justru berisiko memperparah peradangan dan memperluas kerusakan jaringan.
“Kekeliruan yang sering terjadi adalah memijat payudara yang bengkak dengan keras demi menghancurkan sumbatan. Secara klinis, tindakan ini berbahaya karena dapat merobek jaringan internal payudara yang meradang, sehingga infeksi justru meluas. Pijatan harus dilakukan dengan sangat lembut, seperti usapan,” ungkapnya.
Kesadaran untuk mengenali gejala mastitis sejak dini menjadi kunci penting dalam mencegah komplikasi yang lebih serius. Semakin cepat mastitis ditangani, maka semakin besar peluang ibu terhindar dari abses yang membutuhkan tindakan drainase atau pembedahan.
Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, menegaskan bahwa dukungan medis yang tepat sangat dibutuhkan agar ibu dapat melalui masa menyusui dengan lebih nyaman dan percaya diri.
“Di Bethsaida, kami selalu memastikan setiap ibu merasa nyaman, aman, dan didukung sepenuhnya selama proses perawatan. Tim Women’s Health Center kami siap memberikan evaluasi tepat, edukasi, dan dukungan medis yang hangat, sehingga ibu dapat melanjutkan menyusui dengan percaya diri,” tutup dr. Margareth.