- Mobilitas tinggi di ruang publik meningkatkan risiko paparan mikroorganisme pada kulit bagi individu dengan gaya hidup aktif.
- Dokter Danar Wicaksono menekankan penggunaan antiseptik kulit sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan situasi tertentu, bukan untuk penggunaan harian.
- Kampanye Social-Ready Hygiene mengedukasi masyarakat agar lebih sadar dalam menjaga kebersihan kulit secara efektif saat beraktivitas padat.
Suara.com - Mobilitas tinggi membuat banyak orang menghabiskan waktu di luar rumah lebih lama. Mulai dari menggunakan transportasi umum, bekerja di ruang publik, berolahraga, hingga menghadiri berbagai acara sosial. Aktivitas yang padat ini memang mendukung produktivitas, tetapi di sisi lain juga meningkatkan paparan kulit terhadap berbagai mikroorganisme.
Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan diri pun semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, menjaga higienitas kulit ternyata bukan sekadar soal terlihat bersih setelah mandi atau mencuci tangan. Ada situasi tertentu ketika kulit membutuhkan perlindungan tambahan untuk membantu mengurangi risiko paparan kuman.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan bahwa praktik kebersihan tangan dan kulit memiliki peran penting dalam mencegah penyebaran mikroorganisme, terutama saat menggunakan fasilitas umum, transportasi publik, maupun ruang kerja bersama.
Menurut dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika, dr. Danar Wicaksono, MSc., SpDVE, kulit manusia secara alami menjadi tempat hidup berbagai mikroorganisme yang merupakan bagian dari mikrobioma normal kulit.
"Sebagai contoh, banyak yang mengira bau badan disebabkan oleh keringat. Padahal keringat sendiri sebenarnya hampir tidak berbau. Bau muncul ketika bakteri yang ada di kulit menguraikan komponen dalam keringat," jelas dr. Danar.
Untuk menjaga kebersihan sehari-hari, mandi secara rutin menggunakan sabun mandi biasa, mengganti pakaian secara teratur, serta memakai deodoran atau antiperspiran umumnya sudah cukup.
Namun, menurutnya terdapat kondisi tertentu yang membuat paparan mikroorganisme menjadi lebih tinggi dibandingkan aktivitas harian biasa.
"Misalnya setelah penggunaan fasilitas olahraga bersama, commuting, atau aktivitas di ruang publik dalam waktu lama, di mana kulit dan tangan banyak menyentuh permukaan yang digunakan bersama," ujarnya.
Antiseptik Tidak Selalu Harus Dipakai Setiap Hari
Banyak orang menganggap produk antiseptik harus digunakan setiap hari agar tubuh tetap bersih. Padahal, penggunaan antiseptik sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan.
Dr. Danar menjelaskan bahwa untuk kulit yang sehat, sabun mandi biasa sudah cukup untuk perawatan harian. Antiseptik kulit dapat menjadi pilihan tambahan pada situasi dengan risiko paparan mikroorganisme yang lebih tinggi.
"Ini bukan tentang pemakaian rutin, tetapi pemahaman tentang kapan antiseptik kulit memang dibutuhkan," katanya.
Salah satu kandungan antiseptik yang banyak digunakan adalah Povidone-Iodine, yang berdasarkan berbagai pengujian laboratorium terbukti efektif membantu melawan berbagai jenis mikroorganisme dalam waktu singkat.
Agar bekerja optimal, produk antiseptik dengan kandungan tersebut perlu didiamkan sekitar 30 detik sebelum dibilas.
Edukasi Higienitas Kulit untuk Generasi Aktif