- Implan gigi adalah prosedur penanaman sekrup titanium pada tulang rahang untuk menggantikan akar gigi yang tanggal secara permanen.
- Pasien wajib melakukan kontrol rutin untuk mencegah risiko komplikasi kesehatan serta menjaga fungsi gigi agar tetap stabil optimal.
- SMART Dental menyelenggarakan program edukasi Implant Week pada 24–31 Juli 2026 berupa konsultasi dan pemeriksaan gigi secara gratis.
Suara.com - Biaya implan gigi belakangan ini menjadi perhatian publik di media sosial seiring fenomena gigi tanggal mulai muncul di generasi muda.
Terlepas dari aspek finansialnya, prosedur implan gigi sejatinya merupakan tindakan medis kompleks yang memerlukan perencanaan matang serta komitmen perawatan jangka panjang dari pasien, bukan sekadar tindakan yang selesai dalam satu kali kunjungan.
Implan gigi merupakan prosedur medis untuk menggantikan akar gigi yang tanggal dengan menanamkan sekrup titanium ke dalam tulang rahang.
Sekrup ini berfungsi sebagai fondasi kokoh untuk menopang mahkota gigi tiruan. Metode ini dirancang untuk memberikan hasil yang permanen, dengan fungsi dan sensasi yang menyerupai gigi asli.
Prosedur ini umumnya direkomendasikan bagi individu yang kehilangan satu atau lebih gigi akibat trauma kecelakaan, penyakit gusi, maupun kerusakan gigi yang parah.
Urgensi Kontrol Rutin dan Risiko Komplikasi
Pemasangan implan gigi memiliki tingkat keberhasilan klinis yang tinggi, yakni mencapai 98 persen, dan dapat bertahan seumur hidup jika dirawat dengan benar. Kendati demikian, dokter gigi tetap mewajibkan pasien untuk melakukan kontrol berkala.
Pada tahun pertama pasca-pemasangan, pasien disarankan untuk melakukan pemeriksaan setiap tiga bulan sekali, yang kemudian dapat dilanjutkan minimal setiap enam bulan sekali.
Rutinitas ini sangat penting untuk membersihkan plak serta memastikan kondisi gusi dan tulang rahang pendukung tetap sehat.
Seperti prosedur medis lainnya, implan gigi juga memiliki beberapa risiko komplikasi yang perlu diantisipasi, antara lain:
- Peri-implantitis: Infeksi bakteri pada jaringan gusi dan tulang di sekitar implan yang dipicu oleh higienitas mulut yang buruk. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan volume tulang penyangga.
Kerusakan Saraf atau Jaringan: Risiko yang tergolong jarang terjadi, biasanya berkaitan dengan kendala teknis saat pemasangan yang menekan jalur saraf atau melukai rongga sinus. - Longgarnya Komponen: Tekanan kunyah yang berlebih, kebiasaan menggemeretakkan gigi (bruxism), atau faktor keausan jangka panjang dapat menyebabkan sekrup atau mahkota gigi tiruan menjadi longgar.
- Reaksi Penolakan Tubuh: Kegagalan proses penyatuan titanium dengan tulang rahang, yang rentan terjadi pada pasien dengan kondisi medis tertentu, seperti diabetes yang tidak terkontrol.
Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan RI, sebanyak 56,9 persen penduduk usia 3 tahun ke atas mengalami masalah gigi dan mulut.
Namun, dari jumlah tersebut, baru 11,2 persen yang mendapatkan perawatan dari tenaga kesehatan gigi. Masalah seperti karies, gigi berlubang, radang gusi, hingga gigi tanggal masih menjadi tantangan utama di Indonesia.
Kondisi kehilangan gigi sering kali dianggap sepele oleh sebagian masyarakat. Padahal, tanggalnya gigi dapat memicu berbagai konsekuensi kesehatan, mulai dari penurunan kemampuan mengunyah, pergeseran susunan gigi, hingga gangguan keseimbangan gigitan (oklusi). Dalam jangka panjang, ruang kosong akibat gigi yang hilang dapat memengaruhi stabilitas gigi di sekitarnya dan mengganggu kenyamanan aktivitas harian.
drg. James Lai, Head of Clinic SMART Dental Muara Karang, menjelaskan bahwa perawatan implan gigi tidak sekadar mengganti estetika yang hilang, melainkan sebuah tindakan yang membutuhkan analisis klinis yang komprehensif.
“Implan gigi bukan hanya tentang mengganti gigi yang hilang, tetapi juga mengembalikan fungsi kunyah, kenyamanan, dan rasa percaya diri pasien. Karena itu, setiap pasien perlu melalui pemeriksaan terlebih dahulu untuk menilai kondisi tulang rahang, gusi, serta kebutuhan perawatan secara keseluruhan. Dengan perencanaan yang tepat, hasil perawatan dapat menjadi lebih nyaman, stabil, dan sesuai dengan kebutuhan pasien,” ujar drg. James Lai.
Sebagai salah satu opsi perawatan modern, implan gigi dirancang menyerupai struktur alami gigi sehingga mampu memberikan dukungan mekanis yang stabil.
Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pemulihan fungsi gigi, SMART Dental menggelar program edukatif bertajuk Implant Week “Kembali Tersenyum” yang akan berlangsung pada 24–31 Juli 2026.
Program ini difokuskan pada penyediaan ruang konsultasi seputar penanganan gigi yang hilang. Selama periode tersebut, pasien baru diberikan akses untuk mendapatkan pemeriksaan gigi komprehensif tanpa biaya (free comprehensive dental check-up), yang mencakup konsultasi awal gratis serta fasilitas foto rontgen panoramik.