- Singapore General Hospital menggunakan teknologi medis modern seperti laser dan gelombang kejut untuk mengatasi batu ginjal secara minim invasif.
- Berbagai metode seperti ureteroskopi dan PCNL disesuaikan berdasarkan ukuran, lokasi batu, serta kondisi kesehatan masing-masing pasien.
- Sepanjang tahun 2025, Singapore General Hospital sukses menangani ratusan pasien batu ginjal dengan masa pemulihan yang sangat singkat.
Suara.com - Mendengar kata 'operasi batu ginjal mungkin membuat sebagian orang membayangkan sayatan besar dan masa pemulihan yang panjang.
Padahal, perkembangan teknologi medis membuat penanganan batu ginjal kini semakin minim invasif. Dokter dapat menggunakan kamera berukuran kecil, laser, sistem penghisap serpihan batu hingga teknik operasi dengan akses yang hanya beberapa milimeter.
Dr Du Jingzeng, Consultant dari Department of Urology, Singapore General Hospital (SGH), menjelaskan bahwa pilihan terapi sangat bergantung pada kondisi setiap pasien.
“Tidak ada satu metode yang cocok untuk semua batu ginjal. Kami mempertimbangkan ukuran dan lokasi batu, tingkat kekerasannya, anatomi pasien, fungsi ginjal, adanya infeksi atau sumbatan, serta riwayat pengobatan sebelumnya,” jelas Dr Du.
Batu Kecil Bisa Ditangani dengan Gelombang Kejut
Untuk batu tertentu, terutama yang berukuran kecil dan berada di lokasi yang memungkinkan, dokter dapat menggunakan extracorporeal shockwave lithotripsy (ESWL).
Metode ini tidak membutuhkan sayatan. Pasien berbaring di atas meja tindakan dan mesin mengarahkan gelombang kejut dari luar tubuh menuju batu.
Gelombang tersebut memecah batu menjadi fragmen kecil yang kemudian diharapkan dapat keluar bersama urine.
Namun, metode ini tidak selalu cocok untuk batu yang sangat besar, keras, atau sulit ditargetkan.
Kamera Fleksibel Bisa Masuk Lewat Saluran Kemih
Jika ESWL tidak sesuai, salah satu pilihan lainnya adalah flexible ureteroscopy.
Dalam prosedur ini, dokter memasukkan kamera kecil dan fleksibel melalui saluran kemih alami, mulai dari uretra menuju kandung kemih, kemudian ke ureter atau ginjal.
Tidak ada sayatan dari luar tubuh.
Kamera yang fleksibel memungkinkan dokter menjangkau berbagai bagian ginjal. Setelah batu ditemukan, laser digunakan untuk memecah batu menjadi fragmen kecil.
Fragmen tersebut dapat diambil menggunakan alat khusus atau dipecah menjadi partikel yang cukup kecil untuk dikeluarkan melalui urine.
“Flexible ureteroscopy memungkinkan kami mencapai sebagian besar area di dalam ginjal melalui saluran kemih alami. Dengan bantuan laser, batu dapat dipecah dan kemudian dikeluarkan,” ujar Dr Du.
Banyak pasien dapat pulang pada hari yang sama atau setelah satu malam menjalani perawatan.
Laser Membuat Batu Lebih Mudah Dihancurkan
Laser menjadi salah satu teknologi penting dalam pengobatan batu ginjal modern.
Serat laser yang sangat kecil dimasukkan melalui ureteroskop. Energinya kemudian diarahkan langsung ke batu untuk memecahnya.
Batu dapat dihancurkan menjadi potongan yang bisa diambil atau menjadi partikel yang lebih halus.
“Laser modern memungkinkan kami menangani batu dengan ukuran dan tingkat kekerasan yang berbeda. Teknik yang digunakan dapat disesuaikan dengan karakteristik batu dan kondisi pasien,” kata Dr Du.
Ada Sistem yang Bisa Mengisap Serpihan Batu
Perkembangan lainnya adalah penggunaan sistem yang menggabungkan irigasi dan suction, atau aliran cairan dan pengisapan.
Selama prosedur, cairan dialirkan untuk menjaga pandangan kamera tetap jelas. Sistem suction kemudian membantu mengeluarkan serpihan batu.
Teknologi ini juga dapat membantu mengontrol tekanan di dalam ginjal.
“Pengaturan tekanan di dalam ginjal merupakan bagian penting selama prosedur. Sistem irigasi dan suction membantu menjaga pandangan, mengeluarkan fragmen batu, dan membuat prosedur lebih terkendali,” jelas Dr Du.
Di SGH, kombinasi teknologi tersebut telah digunakan untuk menangani sejumlah batu berukuran besar dan keras secara lebih efektif.
SGH Lakukan Lebih dari 430 Prosedur Ureteroskopi pada 2025
Sepanjang 2025, Singapore General Hospital melakukan lebih dari 430 prosedur ureteroskopi dengan laser untuk menangani batu saluran kemih.
Lebih dari 80 persen pasien menjalani rawat inap selama satu hari atau kurang. Hampir 60 persen pasien bahkan dapat pulang pada hari yang sama setelah prosedur.
Meski demikian, lama perawatan tetap bergantung pada kondisi masing-masing pasien.
Kalau Batunya Sangat Besar, Ada PCNL
Untuk batu ginjal yang sangat besar atau kompleks, dokter dapat menggunakan percutaneous nephrolithotomy (PCNL).
Berbeda dengan ureteroskopi yang dilakukan melalui saluran kemih, PCNL menggunakan akses kecil melalui kulit di bagian punggung langsung menuju ginjal.
Melalui akses tersebut, kamera khusus dan alat untuk menghancurkan batu dimasukkan ke dalam ginjal.
“PCNL memungkinkan kami mengakses ginjal secara langsung sehingga batu yang besar dapat dihancurkan dan dikeluarkan dengan lebih efektif,” kata Dr Du.
Mini-PCNL: Lubangnya Lebih Kecil
PCNL kemudian berkembang menjadi teknik mini-PCNL yang menggunakan akses lebih kecil.
PCNL konvensional dapat menggunakan saluran sekitar 26 French atau kurang lebih 9 milimeter. Pada mini-PCNL, ukuran akses dapat diperkecil menjadi sekitar 18 French atau sekitar 6 milimeter.
Meski perbedaannya hanya beberapa milimeter, akses yang lebih kecil dapat mengurangi trauma terhadap ginjal.
Keuntungannya antara lain potensi perdarahan yang lebih rendah, nyeri yang lebih ringan, pemulihan lebih cepat, dan lama rawat inap yang lebih singkat.
“Dengan mini-PCNL, kami berusaha mempertahankan kemampuan untuk mengeluarkan batu berukuran besar sekaligus mengurangi trauma dari akses operasi,” jelas Dr Du.
Tak Semua Pasien Membutuhkan Selang
Dalam PCNL konvensional, pasien biasanya dipasang nephrostomy tube, yaitu selang yang keluar melalui punggung untuk membantu mengalirkan urine dan mendukung proses pemulihan setelah tindakan.
Namun, pada pasien tertentu, dokter dapat melakukan tubeless PCNL, yaitu PCNL tanpa pemasangan selang drainase tersebut.
Keputusan ini bergantung pada hasil operasi, jumlah perdarahan, kondisi ginjal, serta kondisi pasien secara keseluruhan.
Jika memenuhi kriteria, pasien dapat merasakan pemulihan yang lebih nyaman dan berpotensi menjalani rawat inap lebih singkat.
Batu Kompleks Bisa Ditangani dari Dua Arah
Untuk batu yang sangat besar atau kompleks, SGH juga menggunakan endoscopic combined intrarenal surgery (ECIRS).
Teknik ini menggabungkan flexible ureteroscopy melalui saluran kemih dengan PCNL melalui akses kecil dari punggung.
Dengan dua jalur tersebut, dokter dapat menangani batu dari dua arah secara bersamaan.
“ECIRS memungkinkan kami menggabungkan dua pendekatan dalam satu prosedur. Pada pasien tertentu, hal ini dapat meningkatkan peluang membersihkan batu yang kompleks dalam satu sesi,” ujar Dr Du.
Teknik tersebut juga dapat mengurangi kebutuhan untuk melakukan beberapa operasi pada sebagian pasien.
Apakah Batu Pasti Bisa Bersih dalam Sekali Operasi?
Jawabannya, tidak selalu. Dokter memang berusaha menghilangkan sebanyak mungkin batu dalam satu prosedur. Namun, memaksakan seluruh batu keluar dalam satu operasi belum tentu menjadi pilihan paling aman.
Batu yang sangat besar, keras, atau berada di lokasi sulit dapat meningkatkan kompleksitas tindakan.
Membuat banyak akses ke ginjal juga dapat meningkatkan risiko perdarahan dan komplikasi.
“Tujuan utama bukan memaksakan batu harus bersih total dalam satu operasi, tetapi mencapai hasil yang optimal dengan risiko serendah mungkin bagi pasien,” tegas Dr Du.
Dalam kondisi tertentu, dokter mungkin memilih membersihkan sebagian besar batu terlebih dahulu dan merencanakan tindakan lanjutan untuk sisa batu.
Teknologi Bukan Pengganti Penilaian Dokter
Kemajuan teknologi memang membuat pengobatan batu ginjal semakin minim invasif. Namun, bukan berarti semua pasien otomatis membutuhkan teknologi atau prosedur yang sama.
Dokter tetap perlu melihat ukuran dan lokasi batu, tingkat kekerasannya, kondisi ginjal, adanya infeksi atau sumbatan, serta kesehatan pasien secara keseluruhan.
Dengan pendekatan yang tepat, tujuan pengobatan bukan hanya mengeluarkan batu, tetapi juga menjaga fungsi ginjal dan membantu pasien pulih dengan lebih cepat.
“Teknologi memberi kami lebih banyak pilihan, tetapi keputusan akhirnya tetap harus berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien,” pungkas Dr Du Jingzeng dari Department of Urology, Singapore General Hospital.