- Tekanan ekonomi menyebabkan rumah tangga mengubah pola belanja serta mengurangi konsumsi lauk protein berkualitas demi kebutuhan lain.
- Berdasarkan data SUSENAS 2024 dan 2025, belanja nonmakanan meningkat 5,98 persen, sedangkan belanja makanan hanya bertambah 3,16 persen.
- Ahli menyarankan keluarga memanfaatkan bahan pangan lokal terjangkau seperti umbi, tempe, telur, dan ikan untuk menjaga gizi.
Suara.com - Tekanan ekonomi dan kenaikan harga kebutuhan pokok membuat keluarga perlu semakin cermat mengatur pengeluaran. Namun, berhemat bukan berarti harus mengorbankan kualitas gizi makanan sehari-hari.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam media talk Forum Ngobras dan Frisian Flag Indonesia bertajuk “Budget Boleh Minimal, Nutrisi Harus Tetap Optimal” di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Kepala Lembaga Demografi sekaligus dosen dan peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) I Dewa Gede Karma Wisana mengatakan, tekanan ekonomi dapat terlihat dari perubahan pola belanja masyarakat.
Berdasarkan data SUSENAS 2024 dan 2025, belanja nonmakanan meningkat 5,98 persen, sedangkan belanja makanan hanya bertambah 3,16 persen. Kondisi tersebut menunjukkan adanya trade off dalam rumah tangga ketika harus memenuhi kebutuhan lain, seperti bahan bakar dan biaya hidup.
“Jadi ada trade off atau penukaran karena harus tetap beli bahan bakar misalnya, sehingga kemudian memilih makanan yang lebih sederhana,” kata Dewa.
Menurut Dewa, kelompok masyarakat dengan pendapatan lebih rendah juga cenderung mengalokasikan porsi pendapatan yang lebih besar untuk makanan. Pada kelompok pendapatan terbawah atau kuintil 1, pengeluaran pangan mencapai 63,2 persen dari pendapatan. Sementara pada kuintil 5, porsinya sekitar 40,5 persen.
Ketika anggaran semakin terbatas, persoalan yang muncul bukan hanya soal jumlah makanan, tetapi juga kualitas gizinya. Masyarakat cenderung tetap membeli sumber karbohidrat seperti beras, sementara konsumsi lauk sumber protein berkurang.
“Orang cenderung fokus ke sumber karbohidrat, tapi minim gizi,” ujarnya.
Jangan Terjebak Anggapan Makanan Sehat Harus Mahal
Ahli Nutrisi Tara Mutiara Ramdani mengatakan, salah satu langkah penting dalam mengatur belanja makanan adalah mengubah anggapan bahwa makanan sehat selalu identik dengan bahan pangan mahal.
“Makanan sehat itu tidak harus mahal. Jangan sampai kita punya mindset bahwa makanan sehat identik dengan bahan pangan tertentu, misalnya ikan salmon,” kata Tara.
Menurut dia, keluarga dapat memanfaatkan beragam bahan pangan lokal yang lebih terjangkau. Sumber karbohidrat, misalnya, tidak harus selalu berasal dari nasi putih. Umbi-umbian seperti kimpul dapat menjadi alternatif.
Untuk memenuhi kebutuhan protein, tempe dan tahu dapat menjadi pilihan ekonomis. Namun, protein hewani juga tetap perlu diperhatikan, terutama untuk anak-anak.
Tara menyebut telur dan ikan sebagai dua pilihan sumber protein hewani yang relatif terjangkau. Keduanya dapat menjadi pilihan sehari-hari tanpa harus selalu membeli daging yang harganya lebih tinggi.
“Apalagi, Indonesia negara kepulauan; keanekaragaman ikan sangat tinggi. Ikan juga mengandung lemak tak jenuh yang sehat,” jelasnya.