- Polda Metro Jaya menangkap 65 orang diduga kelompok anarko yang hendak menunggangi demo di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (27/8/2026).
- Gagasan anarkisme di Indonesia memiliki sejarah panjang, mulai dari gerakan buruh masa kolonial hingga subkultur punk era 1990-an.
- Aparat sebelumnya juga mencurigai keterlibatan kelompok anarko dalam kerusuhan aksi May Day 2019 serta demonstrasi UU Cipta Kerja Oktober 2020.
Suara.com - Istilah anarko kembali ramai diperbincangkan di media sosial maupun ruang publik.
Polda Metro Jaya menangkap 65 orang yang diduga hendak menunggangi aksi demo di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (27/8/2026). Puluhan orang tersebut diduga terafiliasi dengan kelompok anarko.
Menurut Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin mengatakan kelompok tersebut sebelumnya melakukan konsolidasi untuk menyamakan persepsi dan memperkuat narasi yang akan disampaikan kepada publik.
Menurut Iman, kelompok tersebut kemudian menyebarkan sejumlah isu melalui media sosial.
Mereka juga diduga menyebarkan flyer provokatif, mengajak elemen lain bergabung dalam aksi, serta menggalang pergerakan massa.
“Berdasarkan hasil deteksi dan pemetaan terhadap dinamika kelompok, pola konsolidasi, komunikasi, mobilisasi massa, penggalangan dana, donasi serta adanya temuan barang-barang yang diduga berpotensi digunakan melakukan tindak pidana atau mengganggu ketertiban dan keamanan umum,” jelas Iman.

Istilah Anarko kerap digunakan secara sederhana untuk menggambarkan kerusuhan, padahal anarkisme memiliki sejarah panjang sebagai pemikiran sosial dan politik.
Secara umum, anarkisme merupakan paham yang mempertanyakan atau menolak otoritas dan hierarki kekuasaan yang dianggap menindas.
Artinya, Anarko merupakan orang atau kelompok yang menganut pemikiran tersebut.
Anarkisme modern berkembang terutama di Eropa pada abad ke-19, bersamaan dengan perkembangan sosialisme dan gerakan buruh. Salah satu tokoh awal yang sangat penting adalah Pierre-Joseph Proudhon. Tokoh berikutnya yang sangat berpengaruh adalah Mikhail Bakunin.
Karena itu, anarkisme tidak tepat jika otomatis disamakan dengan kekerasan atau perusakan.
Dalam sejarahnya, gagasan tersebut juga berkaitan dengan solidaritas pekerja, organisasi dari bawah, kemandirian, serta kritik terhadap kekuasaan yang terlalu terpusat.
Jejaknya Sudah Ada Sejak Masa Kolonial
Di Indonesia, gagasan anarkisme ternyata bukan fenomena baru.
Sejumlah kajian sejarah mencatat adanya jejak pemikiran anarkisme dan sindikalisme sejak masa pergerakan melawan kolonialisme Belanda.