- Dokter Denni Joko Purwanto menyatakan pasien kanker payudara dapat memilih prosedur Breast Conserving Surgery untuk mempertahankan sebagian jaringan payudara.
- Data GLOBOCAN 2024 menunjukkan Indonesia mencatat 93.236 kasus baru kanker payudara dengan target deteksi dini stadium awal belum tercapai.
- Kementerian Kesehatan menyediakan layanan skrining gratis bagi perempuan berusia 30 hingga 69 tahun guna meningkatkan deteksi dini.
Suara.com - Diagnosis kanker payudara kerap memunculkan ketakutan tersendiri bagi perempuan, salah satunya kemungkinan kehilangan seluruh bagian payudara melalui tindakan mastektomi.
Namun, perkembangan dunia medis memberikan pilihan penanganan yang lebih beragam. Tidak semua pasien kanker payudara harus menjalani pengangkatan seluruh jaringan payudara.
Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah Breast Conserving Surgery (BCS), yakni prosedur operasi untuk mengangkat jaringan kanker dengan tetap mempertahankan sebagian jaringan payudara.
Pemilihan metode ini bergantung pada ukuran tumor, stadium penyakit, karakteristik sel kanker, serta kondisi masing-masing pasien.
Dokter Spesialis Bedah Onkologi MRCCC Siloam Semanggi, Dr. dr. Denni Joko Purwanto, Sp.B (K) Onk, menjelaskan bahwa pilihan operasi ditentukan setelah pasien menjalani serangkaian pemeriksaan, mulai dari radiologi, patologi, hingga pemeriksaan molekuler untuk mengetahui tipe sel kanker dan kemungkinan penyebarannya.
Dua pilihan tindakan yang dapat dilakukan adalah mastektomi, yaitu pengangkatan seluruh jaringan payudara, serta Breast Conserving Surgery yang mempertahankan sebagian jaringan payudara.
“Perkembangan teknologi dan metode bedah memberikan lebih banyak pilihan penanganan. Kolaborasi dengan tim bedah plastik dan rekonstruksi juga penting untuk mempertimbangkan bentuk payudara dan kualitas hidup pasien setelah operasi,” ujar dr. Denni dalam media & community gathering MRCCC Siloam Semanggi bersama Kementerian Kesehatan RI, Rabu (28/10/2026).
Ia juga menjelaskan perkembangan pendekatan terapi yang dikenal dengan istilah deeskalasi, yakni upaya menurunkan intensitas tindakan medis tanpa mengabaikan efektivitas pengobatan.
“Misalnya operasi sekarang diutamakan menggunakan metode minimal invasif sehingga dampak dan efek sampingnya tidak terlalu berat dan dilanjutkan dengan operasi rekonstruksi payudara untuk mengembalikan estetika bentuk dan fungsi payudara pasien. Semuanya bertujuan meningkatkan kualitas hidup pasien yang lebih baik,” jelasnya.
Meski demikian, kanker payudara bukan sekadar penyakit lokal. Sel kanker berpotensi menyebar ke bagian tubuh lain atau mengalami metastasis. Karena itu, deteksi dini dan pemeriksaan menyeluruh tetap menjadi bagian penting dalam penanganannya.
Penanganan Disesuaikan dengan Karakteristik Kanker
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik MRCCC Siloam Semanggi, Dr. dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM, menjelaskan bahwa kanker payudara memiliki beberapa subtipe, antara lain Luminal A, Luminal B, HER2-positif, dan triple negative.
Masing-masing memiliki karakteristik berbeda sehingga membutuhkan pertimbangan khusus dalam menentukan terapi.
“Biopsi dan pemeriksaan lanjutan penting untuk mengetahui karakteristik tumor sehingga pasien dapat memperoleh pengobatan yang sesuai,” jelas dr. Jeffry.
Dalam kondisi tertentu, pasien juga dapat menjalani kemoterapi terlebih dahulu untuk mengecilkan ukuran tumor sebelum operasi. Artinya, tahapan pengobatan tidak selalu sama pada setiap pasien, melainkan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan kondisi penyakit.
Pendekatan individual tersebut menjadi salah satu pesan dalam media & community gathering bertajuk “Every Story is Unique, Every Journey Matters” yang digelar MRCCC Siloam Semanggi bersama Kementerian Kesehatan RI dalam rangka Bulan Kesadaran Kanker Payudara.
Chief Executive Officer MRCCC Siloam Semanggi, Tries Nainggolan, menyampaikan bahwa setiap pasien memiliki perjalanan perawatan berbeda. Karena itu, kolaborasi berbagai spesialisasi medis diperlukan agar penanganan tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga kualitas hidup pasien.
Selain tindakan medis, rehabilitasi juga menjadi bagian penting dalam pemulihan. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik MRCCC Siloam Semanggi, dr. Anita Ratnawati, Sp.KFR (K), menjelaskan bahwa rehabilitasi bahkan dapat dimulai sebelum operasi melalui latihan pernapasan, penguatan otot, dan peningkatan daya tahan tubuh.
Pengalaman tersebut dirasakan Flavia Sungkit, penyintas kanker payudara yang didiagnosis stadium 1 pada 2022. Ia menjalani Breast Conserving Surgery karena ukuran tumor masih kecil dan belum ditemukan penyebaran.
Meski demikian, Flavia sempat mengalami keterbatasan gerak setelah operasi. Dengan menjalani rehabilitasi medik secara bertahap, ia kembali beraktivitas, mulai dari berenang, pilates, latihan di pusat kebugaran, hingga mendaki gunung.
Deteksi Dini Masih Menjadi Tantangan
Di tengah beragam pilihan pengobatan, deteksi dini masih menjadi tantangan di Indonesia. Berdasarkan data GLOBOCAN 2024, terdapat 93.236 kasus baru kanker payudara dan 38.012 kematian akibat penyakit tersebut di Indonesia.
Tim Kerja Penyakit Kanker, Direktorat Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Uswatun Hasanah, M.Epid, mengungkapkan bahwa banyak pasien masih datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi stadium lanjut.
Pemerintah menargetkan 60 persen kasus kanker payudara ditemukan pada stadium awal. Namun, capaian pada 2025 baru sekitar 10 persen, sedangkan hingga 30 September 2026 mencapai sekitar 16,19 persen.
“Kita semua perlu berkolaborasi menyampaikan bagaimana pentingnya deteksi dini kanker payudara. Deteksi kanker payudara bisa dilakukan di Puskesmas melalui Cek Kesehatan Gratis. Wanita usia 30–69 tahun akan mendapatkan skrining atau deteksi kanker payudara,” tutur dr. Uswatun.
Melalui momentum Bulan Kesadaran Kanker Payudara, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya pemeriksaan sejak dini. Dengan diagnosis yang tepat, pasien dapat memperoleh pilihan penanganan sesuai karakteristik penyakit dan kebutuhan masing-masing.