- BNPB melaporkan titik panas karhutla di Papua Selatan turun dari 1.169 menjadi 65 titik akibat Operasi Modifikasi Cuaca hingga Jumat, 30 Oktober 2026.
- Operasi tersebut mencakup 10 sorti penerbangan menggunakan 10.000 kilogram garam yang menghasilkan hujan merata serta meningkatkan jarak pandang.
- Penanganan karhutla menghadapi tantangan seperti fenomena El Nino, sementara status darurat di Papua Selatan dan Merauke resmi diperpanjang.
Suara.com - Jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Papua Selatan disebut telah turun drastis selama pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan satelit, jumlah titik panas yang sebelumnya mencapai 1.169 titik kini tersisa 65 titik.
"Data harian menunjukkan penurunan dari 1.169 titik menjadi 875 titik, lalu 295 titik, dan terakhir 65 titik," kata Berton dalam pernyataannya, Jumat (30/10/2026).
Penurunan tersebut setara dengan sekitar 94,4 persen dibandingkan jumlah titik panas pada awal periode pemantauan. Meski demikian, luas lahan yang terdampak kebakaran di Papua Selatan masih mencapai 161,5 hektare.
BNPB mencatat, hingga hari ketujuh pelaksanaan OMC, telah dilakukan 10 sorti penerbangan dengan total durasi 25 jam 33 menit. Dalam operasi tersebut, sebanyak 10.000 kilogram natrium klorida (NaCl) atau garam telah digunakan.
Pada Rabu (28/10), satu sorti penerbangan OMC dilakukan di wilayah Kabupaten Merauke, Boven Digoel, dan Mappi dengan menggunakan 1.000 kilogram NaCl.
Hujan dilaporkan turun di wilayah utara dan tengah Merauke, bagian selatan Boven Digoel, serta bagian selatan Mappi. Sementara itu, Kabupaten Asmat dilaporkan belum mengalami hujan.
Berton menyampaikan, hujan yang turun cukup merata turut meningkatkan jarak pandang di wilayah terdampak karhutla.
"Hujan yang cukup merata meningkatkan jarak pandang dari kisaran 1–5 kilometer menjadi 7–8 kilometer," imbuhnya.
Namun, BNPB mengakui bahwa penanganan karhutla di Papua Selatan masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya dampak El Niño yang sangat kuat, kondisi wilayah yang rawan kebakaran, serta asap lintas batas dari Papua Nugini.
Potensi awan hujan di wilayah selatan Merauke diprakirakan meningkat pada 31 Oktober hingga 1 November 2026.
Sementara itu, status darurat karhutla di tingkat Provinsi Papua Selatan dan Kabupaten Merauke dilaporkan telah diperpanjang.