“Kalau gagrak perpani itu dulu pencetusnya adalah Sri Paduka Pakualaman ke-8 dan sampai sekarang beraturannya beda. Kalau gagrak mataram itu horizontal, gagrak perpani posisi busur agak miring searah jam satu atau dua,” lanjutnya.
Sementara untuk laki-laki dan perempuan, posisi duduk saat bermain jemparingan masing-masingnya berbeda. Laki-laki bermain jemparingan dengan bersila, sedangkan perempuan duduk secara timpuh, yaitu duduk dengan kedua belah kaki terlipat dan ditindih.
Itulah sejarah jemparingan, panahan dengan cara duduk bersila asli Yogyakarta. Memiliki sejarah yang lekat dengan Kraton Yogyakarta, tak heran bila olahraga ini masih terus dilestarikan dan jadi aktivitas favorit sejumlah anak muda di Jogja lho. Sudah pernah mencoba?