Indotnesia - Umat Islam yang menjalankan ibadah haji atau umrah tidak akan melewatkan Padang Arafah. Lokasi ini menjadi tempat untuk melakukan wukuf. Sejarah Padang Arafah pun menyimpan keajaiban bagi Muslim di dunia.
Melansir Suara.com, Padang Arafah berada di sebelah timur Kota Mekkah dan memiliki ketinggian 70 meter. Berjarak sejauh 21 km dari Kota Mekkah, padang ini memiliki luas 8 km persegi.’
Arafah juga dikenal dengan nama “Jabal ar-Rahmah” atau Gunung Rahmah. Padang ini adalah lembah dengan hamparan pasir dan batu yang dikelilingi bukit-bukit berbatu. Kawasan Padang Arafah juga dikelilingi jalan lingkar bernama Arafat Ringroad.
Jemaah umrah dan haji harus menaiki bus melewati bukit Mina dan Muszdalifa untuk sampai ke sini.
Lalu, apa saja keajaiban di Padang Arafah dengan berbagai kisahnya yang bermakna bagi umat Islam?
Bertemunya Adam dan Hawa
Tempat ini adalah titik bertemu Nabi Adam dan Hawa AS yang diturunkan dari surga, sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya:
"Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka." (QS. Thaha: 123).
Adam dan Hawa yang terpisah dan saling mencari akhirnya bertemu di Padang Arafah. Sejak itu, dua insan itu tak pernah terpisah lagi, kecuali oleh maut.
Malaikat juga pernah mengingatkan Adam dan Hawa akan dosa-dosa mereka, setelah mereka diturunkan ke bumi dan dipertemukan kembali di Padang Arafah.
Keduanya mengakui dan memohon ampun kepada Allah SWT. Berikut bunyi pengakuan dosa dan permohonan ampun Adam dan Hawa:
"Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi."
Tempat Merenung
Nabi Ibrahim mendapat mimpi yang bakal jadi masalah besar. Ia bermimpi menyembelih putra tunggalnya, Ismail. Nabi pun merenungi mimpi tersebut di sebuah padang, yang kemudian ia namakan Arafah, maka dikenal juga Hari Arafah atau hari tarwiyah, yang berarti renungan.
Di situ, ia meyakinkan diri apakah mimpi itu datang dari Allah SWT atau dari jin. Setelah mimpi itu hadir sebanyak tiga kali, ia menyadari mimpi tersebut berasal dari Allah SWT.