Diketahui, cacar monyet bukan merupakan virus baru dan telah ada sejak 1958. Meski begitu, hingga kini belum ada pengobatan khusus untuk menangani virus tersebut selain diberikan obat guna mengurangi gejala, seperti vaksinasi dan obat antivirus.
Berdasarkan studi terbaru New England Journal of Medicine, tiga gejala cacar monyet yang lain dan lebih buruk diantaranya lesi genital tunggal, luka di mulut serta luka anus dengan gejala klinis miri infeksi menular seksual dan dapat dengan mudah menyebabkan kesalahan diagnosis.
Penularan cacar monyet di antara manusia bisa terjadi melalui kontak langsung, seperti adanya luka di kulit yang terbuka, melalui cairan tubuh, droplet atau percikan air liur saat bersin dan batuk, serta menyentuh permukaan yang telah terkontaminasi penderita virus monkeypox.
Sebagian besar kasus penularan cacar monyet saat ini lebih banyak terjadi melalui aktivitas seksual, khususnya antara pria dan pria.