Suara Joglo - Baru-baru ini pemerintah China telah melonggarkan kebijakan "nol COVID-19". Warga tidak lagi harus diisolasi mandiri di fasilitas-fasilitas milik pemerintah.
Mereka sudah dibolehkan melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing. Namun dampaknya, warga yang melakukan isolasi mandiri ini tentu membutuhkan obat untuk penyembuhan.
Itu membuat mereka ramai-ramai keluar rumah, mengantre membeli obat di apotek-apotek sejak dua hari terakhir ini (Kamis-Jumat, Desember 2022). Padahal sekarang China sedang dilanda cuaca dingin yang ekstrem.
Cuaca ekstrem itu membuat warga kian rentan terserang flu. Sehingga selain Covid-19, masyarakat China kini juga dihadapkan dengan wabah flu akibat antrean panjang dan cuaca ekstrem di luar rumah.
Beberapa di antara mereka bahkan ada yang terpaksa keluar dari antrean karena tidak kuat menahan cuaca dingin di luar rumah.
"Mana mungkin saya bertahan kalau yang di depan tidak jalan. Bisa-bisa sakit saya tambah parah," kata seorang warga yang keluar dari antrean panjang di trotoar menuju salah satu apotek di kawasan Panjiayuan, Distrik Chaoyang, Beijing, Jumat (9/12) malam.
Pemandangan tersebut mirip dengan yang terjadi di depan tempat tes PCR di Beijing pada Minggu (4/12).
Beberapa rumah sakit di Beijing juga dikabarkan kewalahan menerima pasien yang mengalami batuk-batuk dan demam pada Jumat malam.
Otoritas Beijing sebelumnya telah menghapus kewajiban tes negatif PCR bagi warga yang hendak mengakses transportasi publik, pusat perbelanjaan, tempat keramaian, dan rumah sakit. Akses mendapatkan obat-obatan di apotek dan toko obat juga dipermudah.
Baca Juga: Anies Cuma Kasih Rp 8,2 Juta, Kini Heru Budi Gaji Tenaga Ahli Penyusun Pidato Rp 29,05 Juta!
Namun, Badan Pengawas Obat dan Makanan Nasional China (FDA) memerintahkan para produsen farmasi untuk memenuhi persyaratan produksi dengan mempertimbangkan kualitas dan keamanan obat-obatan bagi terapi kesehatan.
Sejak merebaknya COVID-19, otoritas pengawasan obat di semua tingkatan telah bekerja keras memastikan kualitas, keamanan, dan pasokan vaksin dan obat terapi COVID-19, kata Deputi Direktur FDA Huang Guo kepada pers, Kamis.
Menurut dia, pengetatan persyaratan produksi sangat penting untuk memenuhi tingginya kebutuhan masyarakat akan obat-obatan yang kualitas dan keamanannya terjamin.