Sunan Drajat dikenal pula dengan nama Raden Qosim, merupakan putera dari Sunan Prapen dari perkawinannya dengan Nyai Ageng Manila. Beliau menyebarkan agama Islam di desa Banjaragung, Paciran, Lamongan.
Dari Banjaranyar beliau melanjutkan perjalanan ke arah Selatan di sebuah perkampungan bernama Desa Jelak yang masih menganut agama Hindu-Budha. Di desa ini Sunan Drajat mendirikan mushollah untuk berjamaah dan mengajarkan agama Islam kepada santrinya.
Makam Sunan Bonang Tuban
Selain wisata alam, Tuban juga terkenal dengan wisata sejarah dan religinya. Salah satu yang sudah sangat populer adalah Makam Sunan Bonang. Karena merupakan sebuah makam kuno yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir anggota Wali Songo itu.
Makam Sunan Bonang letaknya tidak jauh dari pusat kota Tuban. Lokasinya berada di belakang Masjid Agung Tuban dan hanya berjarak sekitar 6 kilometer dari Alun-Alun Tuban. Karena juga sebagai tempat wisata, area area makan pun sudah sangat tertata rapi.
Bangunan-bangunan Gapura dan pintu tua dibiarkan tetap berdiri dan tidak berubah. Bangunan tersebut bisa menjadi wisata sejarah bagi pengunjung yang datang bukan hanya dari Tuban, tapi juga dari luar kota.
Makam KH Hasyim Asyari dan Gus Dur
Lokasi lain adalah komplek makam keluarga di Tebuireng Jombang Jawa Timur. Di komplek makam itu terbaring jenazah ulama pendiri NU Kiai Hasyim Asyari dan keluarga besarnya. Di sana juga ada makam Kiai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan Kiai Salahudin Wahid alias Gus Sholah.
Di kompelk makam itu juga ada makam Kiai Wahid Hasyim, putra dari Kiai Hasyim dan ayah dari Gus Dur. Kiai Wahid Hasyim ini merupakan Menteri Agama pertama RI di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Komplek makam ini berada menjadi satu dengan kompelk pondok pesantren Tebuireng di Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang.
Baca Juga: Mizz Ajeng Tambah Ngegas Sindir Aldila Jelita, Ungkit Rumah Mewah Indra Bekti: Jual Kek
Makam Panjang Troloyo Syekh Junadil Kubro
Makam Syekh Jumadil Kubro juga dikenal sebagai makam panjang di kawasan Troloyo Mojokerto. Syekh Jumadil Kubro ini dikenal sebagai kakek serta guru dari Wali Songo. Makam ini juga disebut-sebut sebagai makam muslim pertama di masa kerajaan Majapahit.
Potret Makam Troloyo di masa lalu direkam dalam tulisan William Barrington d'Almeida, penulis buku Life In Java. Buku tersebut diterbitan Hurst and Blackett London tahun 1864. d'Almeida mampir ke Makam Troloyo dalam kunjungannya selama satu hari di Mojokerto.