Mantan Sekretaris BUMN Muhammad Said Didu menyoroti tujuan dari pernyataan cawe-cawe Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang diucapkan untuk kedua kalinya.
Sebelumnya, Presiden Jokowi mengatakan dirinya tetap akan cawe-cawe terhadap urusan pencalonan presiden dalam makna positif. "Demi bangsa dan negara saya akan cawe-cawe, tentu saja dalam arti yang positif," ucap Jokowi di Istana Negara, Senin (29/5/2023).
Presiden Jokowi baru-baru ini kembali mengatakan dirinya akan cawe-cawe terkait pencalonan presiden. Menurutnya, cawe-cawenya merupakan kewajiban serta tanggung jawab moral dirinya sebagai presiden di masa transisi kepemimpinan.
Itu karena, dia merasa bertanggung jawab untuk memastikan Pemilu 2024 berjalan dengan baik dan tanpa ada riak yang membahayakan negara.
"Masa riak-riak yang membahayakan bangsa saya suruh diam, kan enggaklah," ujar Presiden Jokowi di Lenteng Agung, Jakarta, Selasa (6/6/2023).
Menanggapi hal tersebut, Said Didu menilai pernyataan Presiden Jokowi subjektif dan ditujukan hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompok.
“Apa pengertian riak yg dimaksud ? Ini subyektif,” tanya Said Didu, dikutip Suara Liberte dari akun Twitter pribadi pada Rabu (7/6/2023).
Mantan pejabat BUMN ini kemudian mengutarakan kecurigaannya bahwa pihak yang membuat riak justru berasal dari kubu rezim penguasa.
Riak tersebut kemudian dijadikan alasan bagi presiden untuk cawe-cawe. Ia menegaskan bahwa rakyat tidak sebodoh yang dibayangkan.
“Sangat mungkin yang membikin riak adalah penguasa - terus dijadikan alasan utk cawe-cawe. Mhn maaf, rakyat tdk sebodoh yg Bpk bayangkan,” ujar Said Didu.