Suara.com - “Mbok Sarni…!!! Manaaa anak itu?” teriak raksasa dengan geram.
“Wahai raksasa nan perkasa, jangan kau ambil putri kesayangan ku… Ambilah nyawaku
sebagai penggantinya,” ratap Mbok Sarni pilu.
Raksasa menolak tawaran mbok Sarni dan akhirnya marah besar.
“Hai raksasa…lihat disini! Ini aku… kejar aku kalau kau bisa!” teriak Timun Mas gagah
perkasa.
Terampil dua telapak tangan Poetri Soehendro memainkan kisah "Timun Mas". Dengan jari-jarinya yang terbungkus boneka-boneka berkarakter, Poetri menghibur puluhan pengunjung Galeri Indonesia Kaya yang kal ini terdiri dari anak-anak.
Sesekali dari mulutnya terdengar suara tertawa nyaring sambil menggerak-gerakkan boneka di telapak tangan kanannya. Menit
berikutnya, mulutnya cemberut sambil terisak-isak menangis, sambil memainkan telapak tangan yang lain.
Dan puluhan pasang mata anak-anak itu tak berkedip memandang perempuan di depannya. Ekspresi rasa ingin tahu dan penasaran akan apa yang selanjutnya akan terjadi jelas terbaca di wajah-wajah mungil itu. Untaian kata dari Poetri
Soehendro itu berhasil menghanyutkan anak-anak itu dalam kisah "Timun Mas". Kegiatan mendongeng ini merupakan bagian program liburan seru yang digelar Minggu (6/7/2014) di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta Pusat.
“Dongeng bisa menjadi salah satu sarana untuk mendidik anak. Dongeng akan merangsang semua inderanya, seperti kuping, mata hidung, mata, dan perasa anak. Melalui dongeng, anak-anak juga dilatih mengasah daya pikir dan imajinasi mereka dan menanamkan jiwa petualangan mereka," ujar Poetri.
Dengan dongeng anak-anak juga diajarkan moral, cerita budi pekerti, tata krama, sopan santun, nilai etika dan empati yang terkandung dalam dongeng dan cerita rakyat Indonesia yang dapat membangun karakter anak. Maka ia menyarankan para orang tua untuk tetap melestarikan tradisi untuk mendongeng.