Cahyadi Kurniawan Menyulap Buah Bakau Jadi Pewarna Batik

Ririn Indriani Suara.Com
Rabu, 04 November 2015 | 14:37 WIB
Cahyadi Kurniawan Menyulap Buah Bakau Jadi Pewarna Batik
Cahyadi Adhe Kurniawan saat memamerkan batik bakau dalam fashion show yang di gelar di Jakarta, belum lama ini. (Foto: Dok. Pribadi)

Riset Selama Setahun
Sejak itulah lelaki yang meraih gelar sarjana Ilmu Kelautan di Universitas Diponegoro ini mulai mencoba berbagai jenis buah bakau yang bisa dijadikan sebagai pewarna alami yang baik untuk batik.

"Riset dilakukan selama setahun dengan bimbingan dan arahan dari pengrajin batik Semarang dan dosen jurusan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Buah bakau yang saya manfaatkan adalah buah yang jatuh dan membusuk, jadi tinggal mungutin aja," jelasnya.

Pewarna alami yang terbuat dari buah bakau ini, lanjut Cahyadi, menghasilkan warna dengan gradasi coklat. Oleh karena itu, kain batik bakau masih didominasi dengan warna-warna gelap. Bahkan untuk mendapatkan warna yang diinginkan, batik tersebut harus dicelup 10 sampai 15 kali dalam pewarna bakau.

"Dicelup pun tidak langsung celup. Celup sekali, keringkan. Setelah kering, celup lagi, kemudian dijemur. Celup-jemur, celup-jemur, begitu seterusnya hingga memperoleh warna yang diinginkan," terangnya merinci.

Pewarna alami dari buah bakau ini, kata Cahyadi, selain ramah lingkungan juga bisa menjadi alternatif pewarna batik alami yang sudah ada saat ini.

Berkat inovasi yang dilakukannya ini, Cahyadi dapat membantu perekonomian masyarakat pesisir pantai di Semarang. Hingga kini, ia sudah membina dua desa di daerah pesisir Semarang dengan total 12 ibu rumah tangga yang dilibatkan dalam pembuatan batik bakau. Bahkan ia kerap diminta pemerintah daerah yang memiliki kampung pesisir seperti Deli Serdang, Batam, Jambi, Belitung, dan Rembang untuk melatih masyarakat mengolah bakau menjadi pewarna batik.  

Tak hanya memanfaatkan bakau untuk menghasilkan produk yang siap jual, Cahyadi bersama masyarakat binaannya juga memiliki program penanaman kembali bakau untuk melestarikan ekosistem bakau.

"Ekosistem mangrove hanya sekitar 15 hektar di Semarang. Empat dalam kondisi baik sedangkan 11 hektar lainnya sudah dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Dengan melakukan penanaman bakau secara rutin kita bisa menyelamatkan 11 hektar itu," tuturnya bersemangat.

Ingin bikin kampung batik bakau ...

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Ekstrovert, Introvert, Ambivert, atau Otrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI