Bahkan, Dedy mengklaim menemukan banyak klien yang lebih memilih 'curhat' kepada pembaca tarot daripada kepada profesional lainnya.
"Sebabnya, kami memberikan cara pemecahan masalah, tapi pembaca tarot tidak berhak memberikan jawaban (pasti)."
Pergulatan Komunitas
Inca menuturkan, para praktisi tarot di Jakarta sebenarnya saling terhubung dalam komunitas. Ia sendiri—bersama sang suami, Sandrie—merupakan dua anggota Komunitas Tarot Jakarta.
Komunitas ini awalnya bernama Club Tarot Jakarta, yang dibentuk pada 6 Maret 2011. Nama komunitas itu kemudian berubah menjadi Komunitas Tarot Jakarta pada awal tahun 2017.

“Agar tampak lebih profesional,” tukas Inca mengomentari perubahan nama komunitas tersebut.
Sedangkan Dedy, salah satu pendiri komunitas itu mengatakan, mereka rutin berkumpul sedikitnya sekali sebulan di berbagai tempat yang sudah disepakati bersama.
“Kami juga kerap bekerja sama dengan sejumlah pihak untuk menyewa gerai di bazar yang berada di mal-mal Jakarta,” ungkapnya.
Selain itu, sambung Dedy, anggota komunitas juga mengadakan workshop kecil-kecilan untuk saling berbagi ilmu.
Kekinian, Komunitas Tarot Jakarta merupakan rumah dari sekitar 200 lebih penggiat kartu tarot di ibu kota. Tak semuanya profesional. Ada pula ibu rumah tangga, mahasiswa, karyawan, penyiar, hingga pengacara yang menjadi anggota karena menyukai kartu tarot.
“Meski anggota sudah ratusan, yang aktif baru 20 orang. Ke depannya, kami ingin para pembaca tarot dapat bekerja secara resmi dan kami juga ingin masyarakat lebih menghargai hal ini," harap Inca, menutup wawancara dengan Suara.com.