Terungkap Asal Usul Ejakulasi Perempuan

Ririn Indriani, Dinda Rachmawati

Kamis, 26 Oktober 2017 | 21:30 WIB
Terungkap Asal Usul Ejakulasi Perempuan
Ilustrasi. [shutterstock]

Suara.com - Ejakulasi pada perempuan mungkin adalah hal yang jarang Anda dengar. Namun, fenomena tersebut telah ditulis sejak awal abad ke-4 Cina, di mana cairan yang diekskresikan selama orgasme diyakini sebagai cairan ejakulasi pada perempuan.

Ternyata, saat orgasme beberapa perempuan atau 10-40 persen dari mereka, mengalami emisi cairan involunter berkisar antara 30 sampai 150 mililiter. Ini dikenal sebagai 'pelepasan' dalam bahasa sehari-hari. Meskipun ini biasanya mengacu pada jumlah cairan yang diekskresikan lebih besar.

Di dunia Barat, para ilmuan seperti Aristoteles dan Hippocrates juga telah mencari asal usul 'sperma perempuan' dan 'pelepasan pada perempuan'. Perkiraan awal dari penelitian ilmiah ini memang belum sempurna, tapi sebenarnya sudah muncul di bacaan favorit setiap orang saat itu, yakni Kama Sutra.

Pada abad-abad berikutnya, ejakulasi perempuan seakan terus menjadi hal yang menarik, tapi baru pada awal tahun 1900-an, ada kemajuan nyata yang menjawab sumber 'pelepasan' ini.

Pada 1904, psikolog Havelock Ellis mengungkap bahwa ejakulasi perempuan serupa dengan air mani dan berasal dari kelenjar Bartholin (dua kelenjar seukuran kacang yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan cairan lendir yang melumasi vagina).

Hampir 50 tahun kemudian, Ernest Gräfenberg menentang pandangan ini dengan mengatakan bahwa ejakulasi perempuan tidak berhubungan banyak dengan pelumasan.

Dia sampai pada kesimpulan ini dengan mengamati perempuan yang masturbasi, dan mencatat bahwa ejakulasi lebih sering terjadi pada palpasi 'zona erotis' di dinding depan vagina, yang kemudian dikenal sebagai G-spot.

Menariknya, deskripsi kuno dari 'zona erotis' ini sangat cocok pada abad Gräfenberg. Pendapat Gräfenberg bahwa ejakulasi perempuan adalah sekresi dari kelenjar intraurethral yang terletak di bawah G-spot.

Gräfenberg juga bersikeras, urine merupakan hipotesis alternatif utama saat itu. Pendapat seseorang jauh dari meyakinkan dan pada tahun 1982 peneliti melakukan analisis kimia pada ejakulasi perempuan dan gambaran yang lebih jelas mulai terbentuk.

Studi yang dilansir Independent.co.uk ini menunjukkan perbedaan yang jelas antara cairan yang diekskresikan selama orgasme dengan urin, sebuah temuan yang kemudian dikonfirmasi oleh beberapa penelitian ilmiah independen. Dari hasil ini dikatakan bahwa ejakulasi perempuan berasal dari kelenjar Skene, setara dengan prostat pada perempuan.

Namun komunitas ilmiah tetap terbagi menjadi beberapa kelompok, di mana beberapa dari mereka mempertanyakan keberadaan G-spot, sementara yang lain mempertanyakan perbedaan besar dalam jumlah cairan yang dilepaskan oleh perempuan.

Beberapa perempuan melaporkan mereka melepaskan cairan yang sangat sedikit (2-4mililiter) menyerupai susu encer, sementara yang lainnya mengeluarkan volume yang jauh lebih besar. Hal ini menyebabkan beberapa peneliti mempertahankan pendapat mereka, bahwa pelepasan tersebut sebenarnya adalah suatu emisi urin yang tidak disengaja, atau hiper pelumasan.

Sebuah studi baru-baru ini yang diterbitkan di Le Chesnay, Prancis yang dilakukan oleh Samuel Salama dan rekan-rekannya berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, dengan menggabungkan pencitraan ultra-suara dengan analisis volume kimia perempuan yang lebih tinggi pada saat ejakulasi.

Para peneliti mengambil sampel tujuh perempuan, di mana mereka harus melaporkan bahwa mereka telah 'melepaskan' cairan ejakulasi, baik dengan ukuran yang setara dengan gelas, atau cukup merasa basah di atas seprai.

Para perempuan ini juga harus memberikan sampel urin, dan menjalani pemeriksaan ultra-suara yang memastikan bahwa kandung kemih mereka benar-benar kosong. Para perempuan tersebut kemudian, dengan bantuan pasangan mereka atau melakukannya sendiri, memulai rangsangan seksual, hingga mereka cukup terangsang dan melakukan ultra-suara kedua.

Pada titik ini, para perempuan kembali diberi tugas agar mereka mencapai orgasme dan ejakulasi. Sampel cairan ejakulasi dikumpulkan dan ultra-suara terakhir pun dilakukan.

Hasilanya, ultra-suara pertama menunjukkan bahwa kandung kemih peserta telah dikosongkan. Namun, ultra-suara kedua, yang dilakukan saat perempuan mendekati orgasme, menunjukkan kadar kandung kemih yang signifikan.

Ultra-suara yang terakhir sekali lagi menunjukkan bahwa kandung kemih perempuan kosong saat mereka sudah mengalami 'pelepasan' atau ejakulasi. Ini menunjukkan bahwa ejakulasi perempuan, setidaknya untuk tujuh perempuan ini, sebagian besar bersifat urin.

Analisis biokimia menunjukkan bahwa ini jelas terjadi pada dua perempuan dalam penelitian ini. Untuk lima lainnya, analisis menunjukkan bahwa cairan itu sebagian besar bersifat urin namun juga mengandung prostat spesifik androgen (PSA) yang berasal dari kelenjar Skene.

Penulis penelitian menyimpulkan bahwa hasil ini sangat mendukung hipotesis bahwa ejakulasi perempuan adalah emisi urin yang tidak disengaja. Kehadiran PSA diperintah sebagai residu untuk perempuan mengalami ejakulasi.

Jadi, apakah 'pelepasan' pada perempuan ini hanyalah urin? Jawabannya memang antara iya dan tidak. Tampaknya volume cairan yang lebih banyak saat 'pelepasan', sebagian besar adalah urin. Namun, ada bukti lain bahwa volume cairan yang lebih sedikit sebenarnya adalah sekresi prostat perempuan karena rangsangan mekanis G-spot.

Selanjutnya, tidak diketahui secara pasti apakah kedua bentuk ekskresi ini eksklusif, atau apakah ada beberapa hal yang tumpang tindih seperti yang diungkap peneliti terhadap kehadiran PSA dalam urin perempuan dalam penelitian ini.

Kemungkinan, perempuan yang mampu ejakulasi secara alami bervariasi, khususnya dalam jumlah cairan yang mereka lepaskan.

Implikasinya terhadap kesehatan pribadi dan seksual juga tidak jelas. Sebuah survei internasional terhadap perempuan yang mampu melakukan ejakulasi menemukan, bahwa empat dari lima perempuan melaporkan bahwa ejakulasi memperkaya kehidupan seksual mereka.

Ejakulasi umumnya dihasilkan dari kombinasi rangsangan di bagian G-spot, relaksasi dan keadaan emosional yang nyaman, serta dapat terjadi tanpa implikasi penyakit, dan mungkin ini merupakan indikator hubungan seksual yang sehat.

Satu-satunya kesimpulan yang bisa kita semua ambil dari studi terbaru ini adalah rekomendasi untuk segera buang air kecil, sebelum dan selama aktivitas seksual. Selain itu, jaga diri Anda tetap terhidrasi dan bersenang-senanglah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Ejakulasi Cegah Risiko Kanker Prostat

Ejakulasi Cegah Risiko Kanker Prostat

Health | Minggu, 03 September 2017 | 11:38 WIB

Obat Semprot Ini Bikin Lelaki "Greng" Lebih Lama di Ranjang

Obat Semprot Ini Bikin Lelaki "Greng" Lebih Lama di Ranjang

Health | Kamis, 02 Maret 2017 | 21:10 WIB

Pengobatan Alternatif Bisa Atasi Ejakulasi Dini?

Pengobatan Alternatif Bisa Atasi Ejakulasi Dini?

Lifestyle | Selasa, 31 Januari 2017 | 22:41 WIB

Sering Onani Bisa Sebabkan Ejakulasi Dini?

Sering Onani Bisa Sebabkan Ejakulasi Dini?

Health | Selasa, 17 Januari 2017 | 18:00 WIB

Obat Ini untuk Meningkatkan Ejakulasi

Obat Ini untuk Meningkatkan Ejakulasi

Health | Jum'at, 23 September 2016 | 20:30 WIB

Lagi-lagi Tentang Ejakulasi Dini

Lagi-lagi Tentang Ejakulasi Dini

Health | Rabu, 03 Februari 2016 | 21:07 WIB

Terkini

Mencoba Dessert Viral Dubai Chewy, Cokelat dan Strawberry dalam Satu Sajian

Mencoba Dessert Viral Dubai Chewy, Cokelat dan Strawberry dalam Satu Sajian

Your Say | Senin, 31 Agustus 2026 | 18:40 WIB

Di Bawah Bayang-Bayang Pos Jaga 'SNIPER', Petani Sidomulyo Mempertahankan Tanah Garapan

Di Bawah Bayang-Bayang Pos Jaga 'SNIPER', Petani Sidomulyo Mempertahankan Tanah Garapan

Sumsel | Senin, 31 Agustus 2026 | 18:38 WIB

Harga Minyak Dunia Bak Malaria, ICP 2027 Diusulkan USD75/Barel

Harga Minyak Dunia Bak Malaria, ICP 2027 Diusulkan USD75/Barel

Bisnis | Senin, 31 Agustus 2026 | 18:36 WIB

Wamen HAM Bongkar Sosok di Balik Kerusuhan Demo 27 Agustus: Main di Sosmed, Tak Ikut Panas-panasan!

Wamen HAM Bongkar Sosok di Balik Kerusuhan Demo 27 Agustus: Main di Sosmed, Tak Ikut Panas-panasan!

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 18:35 WIB

Alasan SC Heerenveen Kontrak Mees Hilgers 2 Tahun Singgung Timnas Indonesia

Alasan SC Heerenveen Kontrak Mees Hilgers 2 Tahun Singgung Timnas Indonesia

Bola | Senin, 31 Agustus 2026 | 18:35 WIB

Belajar Menjaga Hutan dari Cara Masyarakat Dayak Iban Mengelola Api

Belajar Menjaga Hutan dari Cara Masyarakat Dayak Iban Mengelola Api

Lifestyle | Senin, 31 Agustus 2026 | 18:32 WIB

Paru-Paru Dunia dalam Kepungan Asap: Hak Bernapas di Tengah Krisis Karhutla

Paru-Paru Dunia dalam Kepungan Asap: Hak Bernapas di Tengah Krisis Karhutla

Your Say | Senin, 31 Agustus 2026 | 18:29 WIB

Rumor Panas! Persija Bakal Gaet Bomber Timnas Kroasia Eks Parma, Bos Besar Buka Suara

Rumor Panas! Persija Bakal Gaet Bomber Timnas Kroasia Eks Parma, Bos Besar Buka Suara

Bola | Senin, 31 Agustus 2026 | 18:28 WIB

Masyarakat Bisa Protes Jika Data Desil Tak Sesuai, Begini Caranya

Masyarakat Bisa Protes Jika Data Desil Tak Sesuai, Begini Caranya

Bisnis | Senin, 31 Agustus 2026 | 18:26 WIB

Kemarau Panjang Belum Usai, Hujan Mulai Turun di Musi Rawas dan Wilayah Sumsel

Kemarau Panjang Belum Usai, Hujan Mulai Turun di Musi Rawas dan Wilayah Sumsel

Sumsel | Senin, 31 Agustus 2026 | 18:26 WIB

×