Suara.com - Bentuk tubuh sempurna tentu jadi impian semua perempuan. Dan, pada beberapa perempuan, mereka seolah tak ingin 'pasrah' pada ketidaksempurnaan. Pilihan paling mudah dan cepat, ya dengan cara bedah plastik. Hampir semua bagian tubuh bisa diubah dengan bedah plastik ini, mulai dari wajah, payudara, perut, hingga bokong. Nah, yang terakhir ini, ternyata berisiko menyebabkan kematian.
Bokong padat dan kencang memang tampaknya sangat diidamkan oleh banyak perempuan masa kini. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya angka operasi pengencangan bokong, terutama jenis Brazilian Butt Lift (BBL), hingga dua kali lipat dalam lima tahun terakhir.
Namun, tahukah Anda kalau operasi pengencangan bokong ini ternyata berisiko tinggi menyebabkan kematian? Dikatakan American Society of Plastic Surgeons seperti dilansir dari The Independent, operasi pengencangan bokong memiliki tingkat kematian tertinggi dari semua prosedur estetika yang ada.
Sebagian orang melakukan operasi ini untuk alasan estetika, tetapi tak sedikit juga yang melakukannya karena alasan serius, seperti pascakehilangan banyak berat badan dan cacat serius setelah trauma panggul.
Prosedur BBL ini sendiri melibatkan pengambilan lemak dari area tubuh yang tidak diinginkan dan memindahkannya ke bokong untuk memperbesar ukurannya.
Untuk meningkatkan angka keberhasilan, cangkok lemak membutuhkan nutrisi yang harus disuntikkan ke jaringan yang memiliki suplai darah. Lemak dapat bertahan jika disuntikkan ke lemak lain, tetapi sekitar 90 persen dari lemak tersebut dapat terserap. Lemak memiliki lebih banyak kesempatan untuk bertahan di tempat yang dituju jika disuntikkan ke dalam otot - tetapi di sinilah letak risikonya.
Menyuntikkan lemak ke bokong dapat menyebabkan masalah serius jika prosedurnya salah. Bisa saja terjadi emboli lemak - ketika lemak memasuki aliran darah dan memblokir pembuluh darah. Di paru-paru, misalnya, lemak bisa menghalangi oksigen memasuki aliran darah, sementara di otak bisa menyebabkan stroke. Kedua kasus tersebut bisa berakibat fatal.
Volume lemak juga penting. Kebanyakan ahli bedah menganggap 300 ml - sekitar seukuran sekaleng soda - adalah jumlah yang aman. Namun, beberapa ahli bedah yang lebih berpengalaman menggunakan volume lemak yang jauh lebih besar, bahkan hingga berliter-liter.
Lalu, apa yang menyebabkan tingkat kematian dalam operasi pengencangan bokong sangat tinggi? Sebuah survei tahun 2017 terhadap 692 ahli bedah dari seluruh dunia menyelidiki tingkat kematian pada pasien yang menjalani BBL. Sepanjang karier mereka, para ahli bedah melaporkan 32 kasus kematian akibat emboli lemak dan 103 kasus non-fatal, meski faktanya mungkin saja masih kasus lain yang tidak dilaporkan.
Emboli lemak baru-baru ini diidentifikasi sebagai penyebab utama kematian dalam operasi estetika. Perkiraan tingkat kematian akibat emboli lemak mungkin satu dari 3.000 kasus untuk BBL.
Sebuah studi tahun 2015 mengenai kematian akibat operasi BBL menyimpulkan bahwa hal ini mungkin terjadi sebagai akibat dari pembuluh darah gluteal yang rusak selama prosedur, dan memungkinkan lemak masuk ke aliran darah.
Nah, setelah mengetahui betapa besar risiko di balik bedah plastik yang satu ini, sepadankah dengan manfaat yang didapat? Dalam kasus operasi pengencangan bokong jenis BBL, risikonya sepertinya lebih besar daripada manfaat yang didapat. BBL yang dipopulerkan oleh Kim Kardashian ini tampaknya membuat banyak kaum perempuan menjadi terobsesi pada bentuk bokong yang penuh dan bulat layaknya perempuan Brazil tersebut.