- Ancaman kesehatan siklon tropis memicu penyebaran virus zoonotik dari tikus.
- Penyakit diabetes melitus memperparah risiko ancaman kesehatan siklon tropis tersebut.
- Kebersihan lingkungan pasca-bencana mencegah ancaman kesehatan siklon tropis mematikan.
Suara.com - Cuaca ekstrem akibat siklon tropis tengah membayangi sejumlah wilayah.
Siklon tak hanya soal angin kencang dan banjir, ancaman kesehatan serius kini mengintai di balik genangan air dan tumpukan sampah.
Mulai dari Hantavirus yang dibawa tikus, hingga fakta mengejutkan soal Diabetes Tipe 2 yang kian mengincar generasi muda.
Bagaimana fenomena alam ini berkaitan dengan risiko penyakit mematikan? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Dampak Siklon: Bukan Sekadar Banjir

Siklon tropis memicu curah hujan tinggi dan gelombang pasang yang berujung pada kerusakan infrastruktur.
Namun, masalah sebenarnya muncul pasca-bencana saat kebersihan lingkungan menurun drastis.
Beberapa penyakit yang langganan muncul antara lain:
- ISPA & Influenza: Akibat cuaca dingin dan daya tahan tubuh drop.
- Diare: Karena akses air bersih yang tercemar bakteri E. coli.
- Demam Berdarah (DBD): Genangan air menjadi hotel bintang lima bagi nyamuk Aedes aegypti.
- Leptospirosis: Penyakit dari urine tikus yang masuk lewat luka terbuka saat banjir.
- Penyakit Kulit: Infeksi jamur dan gatal-gatal akibat kontak dengan air kotor.
Hantavirus: "Teror" dari Kotoran Tikus yang Menguap

Di tengah lingkungan yang kotor pasca-banjir, Hantavirus menjadi ancaman nyata.
Virus zoonotik ini ditularkan dari hewan pengerat (tikus) ke manusia.
Di Indonesia, jenis yang paling sering ditemukan adalah Seoul virus (SEOV).
Tikus rumah bisa membawa virus ini tanpa terlihat sakit. Namun, bagi manusia, dampaknya bisa fatal hingga menyebabkan kematian. Penularannya tergolong unik tapi berbahaya:
- Terhirup (Aerosol): Saat Anda menyapu kotoran atau urine tikus yang sudah kering, partikel virus bisa terbang ke udara dan terhirup masuk ke paru-paru.
- Kontak Langsung: Menyentuh benda yang terkontaminasi lalu memegang hidung atau mulut.
- Gigitan: Meski jarang, gigitan tikus juga bisa menularkan virus ini.
Hantavirus dapat menyebabkan gangguan jantung dan paru-paru (HCPS) atau menyerang ginjal (HFRS).
Kemenkes mencatat bahwa setidaknya 1 dari 10 orang di Indonesia pernah terpapar virus ini tanpa disadari.