Alpukat Dilarang Disajikan di Kafe, Kenapa?

Vania Rossa

Senin, 03 Desember 2018 | 14:27 WIB
Alpukat Dilarang Disajikan di Kafe, Kenapa?
Buah alpukat. (Shutterstock)

Suara.com - Bagi para pecinta makanan sehat, alpukat adalah buah favorit, dan bahkan menjadi salah satu 'makanan pokok' bagi mereka. Tak sulit bagi Anda untuk menemukan alpukat dalam foto-foto makanan sehat yang berseliweran di Instagram.

Namun, belakangan sejumlah kafe trendi mulai menghapus buah alpukat dari menu mereka karena masalah lingkungan.

The Wild Strawberry Cafe, di Peterley Manor Farm, Buckinghamshire, berbagi postingannya di halaman Instagram awal pekan ini, menjelaskan mengapa mereka memutuskan untuk melarang alpukat dari dapurnya.

“Mulai hari ini, kami tidak akan lagi menyajikan alpukat di kafe. Ini. Serius,” tulisnya.

"Kontroversial? Tentu... kami dikenal sebagai orang yang suka dengan sarapan roti panggang beroles alpukat yang dihancurkan setiap minggu, tetapi ini adalah sesuatu yang sulit dan sudah kami pikirkan sejak lama.”

Kafe tersebut kemudian melanjutkan untuk menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut, termasuk musim, jarak perjalanan alpukat ketika diimpor dan keberlanjutan buah ini.

The Wild Strawberry Cafe biasanya memasak dengan bahan-bahan pangan lokal, itulah sebabnya pemiliknya merasa bahwa tidaklah lazim bagi mereka untuk menampilkan alpukat di menu ketika mereka tahu bahan makanan tersebut dikirim dari jarak yang jauh.

"Obsesi dunia barat dengan alpukat telah membuat permintaan meningkat, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya pada petani alpukat, mendorong harga ke titik di mana bahkan ada laporan kartel narkoba Meksiko yang mengendalikan ekspor alpukat yang menguntungkan," kata kafe tersebut di Instagram.

“Hutan sedang ditebang untuk membuka lahan bagi perkebunan alpukat. Pertanian intensif dalam skala ini berkontribusi pada emisi rumah kaca dan memberi tekanan pada pasokan air setempat.

baca juga

Awal tahun ini, Tincan Coffee Co di Bristol juga mengumumkan bahwa mereka akan berhenti menyajikan alpukat kepada pelanggannya.

"Kami menyukai buah alpukat, terutama ketika dicampurkan dengan lumatan telur rebus, tetapi etika di balik menjalankan kafe selalu penting bagi kami," kata salah seorang pendiri, Adam White, dilansir dari Bristol Live.

“Tetap menyajikan apukat, sementara mengetahui dampak sosio-ekonomi yang sangat besar yang ditimbulkan oleh pertanian alpukat di Meksiko dan California, itu tidak terasa benar.”

Pada 2016, Greenpeace Mexico menyatakan orang-orang di kawasan itu kemungkinan menderita karena meningkatnya permintaan akan alpukat.

“Di luar pengalihan jumlah hutan dan pengaruhnya pada retensi air, tingginya penggunaan bahan kimia pertanian dan volume kayu yang besar yang diperlukan untuk mengemas dan mengirim alpukat ke luar negeri adalah faktor lain yang dapat memiliki efek negatif pada lingkungan dan kesejahteraan wilayah,” demikian organisasi itu menjelaskan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Siap Dipasarkan: Alpukat Raksasa yang Membuat Perseteruan !

Siap Dipasarkan: Alpukat Raksasa yang Membuat Perseteruan !

Lifestyle | Selasa, 27 November 2018 | 04:00 WIB

4 Manfaat Super Buah Alpukat Bagi Kesehatan Tubuh

4 Manfaat Super Buah Alpukat Bagi Kesehatan Tubuh

Health | Rabu, 17 Oktober 2018 | 17:32 WIB

Makan Alpukat dan Digaji, Ini Pekerjaan Impian!

Makan Alpukat dan Digaji, Ini Pekerjaan Impian!

Lifestyle | Minggu, 02 September 2018 | 11:22 WIB

Terkini

Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen

Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen

Lifestyle | Selasa, 28 Juli 2026 | 22:12 WIB

Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA

Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 22:06 WIB

Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup

Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup

Bogor | Selasa, 28 Juli 2026 | 21:59 WIB

Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim

Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 21:48 WIB

Kebakaran Lahan Meluas ke Pemukiman, BPBD Cianjur Minta Warga Waspadai Puntung Rokok

Kebakaran Lahan Meluas ke Pemukiman, BPBD Cianjur Minta Warga Waspadai Puntung Rokok

Jabar | Selasa, 28 Juli 2026 | 21:47 WIB

140 Titik di Banten Darurat Air Bersih

140 Titik di Banten Darurat Air Bersih

Banten | Selasa, 28 Juli 2026 | 21:37 WIB

Gurita Pungli Dinas ESDM Jatim: Kabid Geologi Jadi Tersangka, Peras 217 Pemohon

Gurita Pungli Dinas ESDM Jatim: Kabid Geologi Jadi Tersangka, Peras 217 Pemohon

Jatim | Selasa, 28 Juli 2026 | 21:23 WIB

Buka 31 Formasi Jabatan, Bupati Bogor Jamin Proses Seleksi ASN Transparan dan Bebas Orang Dalam

Buka 31 Formasi Jabatan, Bupati Bogor Jamin Proses Seleksi ASN Transparan dan Bebas Orang Dalam

Jabar | Selasa, 28 Juli 2026 | 21:22 WIB

Dari Pencurian Ayam hingga Bentrok Jalanan: Mengapa Amuk Massa Terus Berulang?

Dari Pencurian Ayam hingga Bentrok Jalanan: Mengapa Amuk Massa Terus Berulang?

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 21:21 WIB

Dari Made in Indonesia ke Made by Indonesia, Mendorong Produk Lokal Naik Kelas

Dari Made in Indonesia ke Made by Indonesia, Mendorong Produk Lokal Naik Kelas

Lifestyle | Selasa, 28 Juli 2026 | 21:11 WIB

×