Komunitas Wanita dan Gunung, Wadah Berbagi Para Pendaki Pemula

Vania Rossa, Firsta Nodia

Sabtu, 16 Maret 2019 | 09:58 WIB
Komunitas Wanita dan Gunung, Wadah Berbagi Para Pendaki Pemula
Komunitas Wanita dan Gunung. (Instagram Wanita Gunung)

Suara.com - Komunitas Wanita dan Gunung, Wadah Berbagi Para Pendaki Pemula

Dulu, pendaki gunung selalu identik dengan para pejantan. Namun sejak kemunculan Film 5 CM, tampaknya minat mendaki gunung di kalangan kaum hawa alias perempuan mulai meningkat.

Tapi, mendaki gunung tak sekadar membutuhkan keberanian semata. Faktor keamanan dalam mendaki gunung juga harus diperhatikan agar tak mengalami hal-hal membahayakan saat berada di gunung.

Hal ini pula yang mendasari Rika Masda dan rekannya untuk mendirikan Komunitas Wanita dan Gunung (WG) pada Juni 2015 lalu. Melalui wadah ini, Rika bersama inner circle dari Wanita dan Gunung berusaha mengedukasi hal-hal yang harus diperhatikan perempuan yang ingin mendaki gunung.

"Edukasi yang diberikan adalah persiapan paling dasar untuk mendaki gunung. WG tidak berbicara pendakian gunung ekstrem, tapi bagaimana mempersiapkan pendakian gunung dari awal. Jadi memang wadah ini untuk para pendaki pemula dan mengingatkan orang yang suka naik gunung agar tidak mengabaikan safety," ujar Rika ketika ditemui Suara.com beberapa waktu lalu.

Tips Mendaki untuk Perempuan
Rika mengimbau agar para pendaki, termasuk kaum perempuan, mempersiapkan beberapa hal jauh-jauh hari sebelumnya. Ia mengatakan untuk pendaki pemula setidaknya ada tiga hal yang harus dipersiapkan, yakni perlengkapan mendaki, persiapan fisik untuk menempa mental, dan informasi seputar gunung yang akan didaki hingga solusi jika terjadi hal yang tak diinginkan.

Komunitas Wanita dan Gunung. (Instagram Wanita Gunung)
Komunitas Wanita dan Gunung. (Instagram Wanita Gunung)

"Kesalahan yang sering dilakukan pendaki secara umum menyepelekan alam dan menyepelekan diri sendiri. Saya sudah bisa ini atau sudah biasa naik gunung, nggak perlu latihan. Itu nggak bisa. Kita harus persiapkan untuk mencegah kecelakaan seminimal mungkin," ujarnya.

Rika menambahkan, untuk perlengkapannya sendiri pastikan Anda memiliki jaket dan sepatu khusus yang sesuai dengan ukuran tubuh Anda. Untuk sepatu, pastikan jenisnya trekking yang melindungi hingga ke atas mata kaki.

"Sepatu harus trekking, tidak harus boot tapi yang direkomendasikan di atas mata kaki. Fungsinya mengembalikan keseimbangan. Kalau di bawah mata kaki tidak ada perlindungan. Tapak dimaksudkan untuk trekking," imbuh dia.

Sementara untuk latihan fisik, pastikan Anda melakukannya minimal sebulan sebelumnya dan menghentikannya seminggu sebelum mendaki gunung. Jenis latihan fisik yang bisa dilakukan antara lain jogging, berenang, push up, hingga sit up. Sementara pendakian harus dihentikan seminggu sebelumnya agar tidak menguras energi jelang jadwal pendakian.

Hal lain yang harus dipersiapkan adalah makanan. Di Komunitas Wanita dan Gunung (WG), Rika mengatakan bahwa para anggotanya diedukasi untuk membawa makanan sehari-hari sebagai perlengkapan ketika mendaki gunung. Alasannya, menu makanan sehari-hari memiliki jumlah kalori dan nutrisi yang lebih lengkap dan dibutuhkan untuk mendaki gunung.

"Dulu ada yang bawa mi instan, telur, sarden kalengan. Energi nggak terlalu banyak. Rendang bagus, ditambah sambal teri kacang. Jadi, dimasak matang dan di-packing di kotak kedap udara, jadi nggak perlu repot masak di atas. Kebutuhan utama kita itu nasi dan lauk pauk memadai," imbuhnya.

Komunitas Wanita dan Gunung. (Instagram Wanita Gunung)
Komunitas Wanita dan Gunung. (Instagram Wanita Gunung)

Dan untuk makanan pendamping lainnya seperti cokelat, madu, atau gula aren, kata Rika boleh dikonsumsi, namun sebaiknya sebelum terasa lapar. Pasalnya,` jika lapar dan pendaki baru mengonsumsi camilan penambah energi ini, maka hasilnya baru dirasakan satu jam setelahnya.

"Cokelat, madu, gula aren nggak bisa dimakan saat jalan. Proses energi nggak bisa langsung. Jadi, satu jam sebelum jalan sudah makan. Jangan nunggu lapar, energi keburu abis," ungkap dia.

Selain itu yang tak kalah penting adalah membawa kotak P3K. Menurut Rika banyak pendaki yang mengabaikan pentingnya P3K. Padahal tak ada salahnya dibawa selama proses pendakian meski pada akhirnya tak digunakan sama sekali.

"Pendaki sering mengabaikan P3K, ketika kejadian nggak ada survival kit. Nggak ada yang nolong. Lebih baik bawa, tapi nggak digunakan, karena nggak ada kecelakaan. Kalau ada kecalakaan, alat P3K itu bisa menyelamatkan paling tidak," terang Rika memberikan tips bagi perempuan yang ingin mendaki gunung.

Apalagi yang diceritakan Rika tentang Komunitas Wanita dan Gunung? Baca di halaman selanjutnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Berbagi Cerita Kura-kura Peliharaan, Komunitas Ini Sebut No Eksploitasi

Berbagi Cerita Kura-kura Peliharaan, Komunitas Ini Sebut No Eksploitasi

Lifestyle | Sabtu, 09 Maret 2019 | 11:13 WIB

3 Pendaki Tampomas Tewas Kedinginan, Yuk Pelajari Cara Mengatasi Hipotermia

3 Pendaki Tampomas Tewas Kedinginan, Yuk Pelajari Cara Mengatasi Hipotermia

Lifestyle | Selasa, 05 Maret 2019 | 20:05 WIB

Komunitas Cerita Kertas, Tingkatkan Literasi Menulis di Kalangan Anak Muda

Komunitas Cerita Kertas, Tingkatkan Literasi Menulis di Kalangan Anak Muda

Lifestyle | Jum'at, 01 Maret 2019 | 10:22 WIB

Terkini

Apa Itu Starstruck? dr Tirta Mengalaminya saat Podcast Bareng Nikita Willy

Apa Itu Starstruck? dr Tirta Mengalaminya saat Podcast Bareng Nikita Willy

Lifestyle | Selasa, 09 Juni 2026 | 12:35 WIB

4 Cushion Terbaik untuk Kulit Sawo Matang sesuai Review, Shade, dan Harga

4 Cushion Terbaik untuk Kulit Sawo Matang sesuai Review, Shade, dan Harga

Lifestyle | Selasa, 09 Juni 2026 | 12:04 WIB

Berapa Harga Ardiles Runergize Ori? Merek Lokal, Dokter Tirta Sebut Mirip Mizuno Wave Rebellion Pro

Berapa Harga Ardiles Runergize Ori? Merek Lokal, Dokter Tirta Sebut Mirip Mizuno Wave Rebellion Pro

Lifestyle | Selasa, 09 Juni 2026 | 11:54 WIB

4 Sepatu Bola Nike Original Termurah di Bawah Sejuta, Cocok untuk Lapangan Rumput hingga Futsal

4 Sepatu Bola Nike Original Termurah di Bawah Sejuta, Cocok untuk Lapangan Rumput hingga Futsal

Lifestyle | Selasa, 09 Juni 2026 | 11:43 WIB

Akhir Pekan Lebih Bermakna, Nikmati Staycation Keluarga dengan Aneka Aktivitas Seru di Jakarta

Akhir Pekan Lebih Bermakna, Nikmati Staycation Keluarga dengan Aneka Aktivitas Seru di Jakarta

Lifestyle | Selasa, 09 Juni 2026 | 11:09 WIB

Beda Bedak Luxcrime Ungu dan Hijau: Harga, Finishing, dan Keunggulan sesuai Jenis Kulit

Beda Bedak Luxcrime Ungu dan Hijau: Harga, Finishing, dan Keunggulan sesuai Jenis Kulit

Lifestyle | Selasa, 09 Juni 2026 | 11:05 WIB

Apa Merk Cushion yang Bagus? Ini 7 Pilihan Terbaik yang Sudah BPOM

Apa Merk Cushion yang Bagus? Ini 7 Pilihan Terbaik yang Sudah BPOM

Lifestyle | Selasa, 09 Juni 2026 | 10:40 WIB

5 Sepatu Lari Lokal Rp200 Ribuan dengan Review Memuaskan, Ideal Buat Easy Run

5 Sepatu Lari Lokal Rp200 Ribuan dengan Review Memuaskan, Ideal Buat Easy Run

Lifestyle | Selasa, 09 Juni 2026 | 10:34 WIB

Sebelum Sustainability Populer, Masyarakat Indonesia Sudah Hidup Minim Sampah

Sebelum Sustainability Populer, Masyarakat Indonesia Sudah Hidup Minim Sampah

Lifestyle | Selasa, 09 Juni 2026 | 10:25 WIB

Menanam Pohon Saja Tak Cukup: Mengapa Penghijauan Kota Bisa Gagal Mengurangi Panas?

Menanam Pohon Saja Tak Cukup: Mengapa Penghijauan Kota Bisa Gagal Mengurangi Panas?

Lifestyle | Selasa, 09 Juni 2026 | 10:23 WIB