Berjemur di Taman Rumah, Pria Ini Berakhir Meninggal Dunia

Rima Sekarani Imamun Nissa | Yasinta Rahmawati
Berjemur di Taman Rumah, Pria Ini Berakhir Meninggal Dunia
Ilustrasi panas matahari [shutterstock]

Berjemur saat kondisi cuaca tertentu ternyata bisa membawa dampak serius.

Suara.com - Berjemur di bawah sinar matahari menjadi kebiasaan bagi banyak orang. Namun, apes bagi pria muda asal Jepang ini. Ia harus kehilangan nyawa ketika melakukannya.

Seperti dilansir dari SoraNews24, seorang wanita yang tinggal di Kota Yatomi, Prefektur Aichi , pergi selama beberapa jam di sore hari. Saat dia pergi, putranya yang berusia 28 tahun diketahui menyiapkan kursi lipat di kebun untuk berjemur.

Namun, ketika wanita itu kembali ke rumah sekitar pukul 15.20 waktu setempat, dia menemukan putranya terbaring koma di kursi. Dia pun segera memanggil bantuan paramedis.

Sayangnya, upaya pertolongan itu terlambat. Putranya meninggal sekitar 40 menit setelah sang ibu menemukannya. Dokter pun menghubungkan kematiannya dengan efek serangan jantung.

Wanita itu tidak yakin berapa lama putranya berada di taman. Namun, catatan cuaca dari kota tetangga Aisai menunjukkan suhu 34,2 derajat Celcius dan 32,7 Celcius pukul 3 sore pada hari kejadian.

Ilustrasi musim panas. [Shutterstock]
Ilustrasi musim panas. [Shutterstock]

Angka suhu tersebut mungkin tidak tampak menakutkan, tapi kelembapan tinggi di Jepang turut berkontribusi. Efek gabungan dari dua faktor cuaca dehidrasi dapat mengeringkan tubuh dengan kecepatan berbahaya, bahkan untuk seseorang yang biasanya nyaman, atau setidaknya bahagia, menghabiskan waktu berjemur di bawah sinar matahari.

Setelah Juli yang luar biasa ringan, Jepang telah berpindah sepenuhnya ke dalam cuaca musim panas yang berat. Bertepatan pada hari kematian pria itu, 68 orang di Prefektur Aichi dirawat di rumah sakit karena sengatan panas.

Cuaca panas bisa merusak kulit wajah bila tak dilindungi dengan tabir surya. (Shutterstock)
Cuaca panas bisa merusak kulit wajah bila tak dilindungi dengan tabir surya. (Shutterstock)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kebakaran Jepang mengungkapkan bahwa dalam satu minggu, yakni dari 29 Juli hingga 4 Agustus 2019, 18.000 orang di seluruh negeri memerlukan perawatan medis darurat untuk kondisi tersebut. Sebanyak 57 kasus di antaranya diketahui berujung fatal .

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS