Hati-Hati Curhat di Media Sosial, Bisa Picu Kesehatan Mental

Galih Priatmojo | Yasinta Rahmawati
Hati-Hati Curhat di Media Sosial, Bisa Picu Kesehatan Mental
ilustrasi akun media sosial (Shutterstock)

Tidak semua hal harus dibagikan di media sosial.

Suara.com - Ketimbang menumpahkan keluh kesah pada teman, banyak yang memilih untuk membaginya di media sosial. Meski nampak sepele, terlalu sering curhat di media sosial bisa memicu masalah kesehatan mental.

Tren curhat di media sosial yang berlebihan ini disebut juga sebagai sadfishing. Di mana seseorang mengunggah masalah sebagai usaha untuk menarik perhatian dan simpati orang lain.

Fenomena sadfishing meningkat setelah banyak selebriti melakukan hal serupa.

Dilansir dari Women Health, studi dari Digital Awareness UK (DAUK) menemukan remaja dengan masalah kesehatan mental mencari dukungan online namun tetap saja menghadapi kritik.

Parahnya, kritik tersebut cenderung memberi efek depresif. Dalam beberapa kasus, kritikan dan penolakan ini bisa merusak harga diri remaja yang sudah rapuh.

Bahkan, hal itu bisa mengakibatkan mereka menjadi lebih rentan terhadap pelecehan seksual online.

Ilustrasi Stres Gara-Gara Media Sosial. (Shutterstock)
Ilustrasi Stres Gara-Gara Media Sosial. (Shutterstock)

"DAUK prihatin dengan jumlah siswa yang di-bully karena sadfishing melalui komentar di media sosial, pada aplikasi pesan atau tatap muka, sehingga memperburuk masalah kesehatan mental yang serius," demikian bunyi laporan tersebut.

Untuk itu, sebelum berbagi keluh kesah atau masalah di media sosial, perlu dipertimbangkan dulu sebelum memberi efek buruk.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS